Minggu, 16 Februari 2020

Anak-anak Butuh Cinta, Sudahkah Terpenuhi?

Konsep acara yang diusung Qudwah Center adalah diskusi pengasuhan anak. Maka, pemateri hanya memberi pengantar terhadap tema yang dibahas. Sementara, para peserta diharapkan juga memberi pendapat serta berbagi pengalaman dalam menjalani proses pengasuhan.

Anak-anak penuh cinta

Setiap keluarga memiliki kondisi ril yang berbeda. Nilai hidup, tradisi, latar belakang sosial, dan lainnya, adalah hal yang juga mempengaruhi pola pengasuhan orang tua terhadap anak.

Pola di satu keluarga belum tentu sama dan cocok diterapkan pada keluarga lain. Maka yang ada dalam konsep pengasuhan anak adalah prinsip umum. Selebihnya, orang tua berkreatifitas menemukan pola yang pas untuk masing-masing anak.

Tema diskusi pada awal Februari 2020 lalu adalah peran orang tua dalam memenuhi kebutuhan cinta anak. Sebagaimana fungsi keluarga yang salah satunya adalah tempat pemenuhan kasih sayang, selain fungsi pendidikan, agama, reproduksi, sosial, perlindungan, serta pembinaan lingkungan.

Sebagian peserta diskusi

Pemenuhan kebutuhan cinta diawali dengan konsep pola asuh positif. Artinya bagaimana proses interaksi orang tua dan anak didasari kasih sayang, membangun pola hubungan yang hangat, serta mampu menstimulus tumbuh kembang anak.

"Kondisi mayoritas anak-anak kita hari ini mengkhawatirkan. Mereka lelah. Bosan. Sendirian. Bingung. Itulah yang menyebabkan mereka menjadi anak-anak yang stres," ungkap Ibu Ratna Juaimi, S.Pd selaku pembicara.

"Maka kitalah, orang tuanya harus bisa merangkul mereka. Kembali memeluk anak-anak agar mereka merasa dihargai, didengar dan diakui keberadaannya," tambahnya.

Fenomena pergaulan bebas, kenakalan remaja, korban narkoba adalah sedikit diantara dampak buruk tidakterpenuhinya kebutuhan cinta anak di rumah oleh keluarga, utamanya orang tua.

Benar bahwa, orang tua wajib memenuhi kebutuhan fisik anak seperti makan, pakaian, serta tempat tinggal. Namun kebutuhan inmateri seperti kasih sayang, perhatian, perlindungan juga mesti dipenuhi.

Siapa yang bertanggung jawab terhadap kebutuhan cinta anak?
Ayah dan ibu, kedua orang tua harus saling bekerjasama dalam memberikan cinta kepada anak. Wujud cinta dimulai sejak anak masih berupa janin dalam kandungan.

Setiap fase anak, memiliki bentuk kebutuhan cinta yang juga berbeda. Bahkan anak laki-laki dan perempuan juga (biasanya) membutuhkan wujud cinta yang tidak sama.

Lokasi acara

Menurut teori, ada lima wujud cinta yang biasa diinginkan oleh seseorang, yakni;

1. Melalui kebersamaan yakni meluangkan waktu khusus untuk melakukan aktifitas bersama.

2. Berwujud kata atau kalimat seperti mengungkapan secara langsung orang tua begitu mencintai anaknya.

3. Berupa hadiah atas setiap prestasi kebaikan yang dilakukan anak. Hadiah tidak hanya berwujud barang tetapi semua bentuk apresiasi.

4. Kepercayaan yang diberikan orang tua untuk mengambil keputusan sendiri. Ini berlaku untuk anak yang sudah cukup dewasa. Mungkin sekitar usia 10 keatas ketika anak sudah bisa mempertimbangkan resiko sebuah pilihan.

5. Pelayanan. Sebagaimana ungkapan sahabat Rasulullah, Ali bin Abi Thalib ra. bahwa perlakukan anak di usia 0 sampai 7 tahun sebagaimana raja. Yakni semua kebutuhan anak dilayani oleh orang tua. Namun seiring usia, perlahan pelayanan semakin berkurang.

Setiap anak bisa jadi memiliki kecendrungan wujud cinta yang berbeda. Tugas orang tua memahami wujud cinta tersebut dan memenuhinya.

Anak yang terpenuhi kebutuhan cintanya, akan memiliki kepercayaan dan konsep diri yang baik. Karena ia percaya ada orang tua yang selalu mendampinginya.

Oh iya, peserta yang lebih dari 70 orang ternyata antusias menyampaikan pendapat, komentar hingga curhat. Mulai dari yang belum nikah, pengantin baru, punya anak, sudah punya mantu bahkan bercucu, semua yang hadir bersepakat untuk terus belajar menjadi orang tua.

Terima kasih untuk semua partisipasi para orang tua.


Share:

0 komentar:

Posting Komentar

RUMAH BACA AL-GHAZI

RUMAH BACA AL-GHAZI