Jumat, 31 Januari 2020

Resensi Novel Sang Pangeran dan Janissary Terakhir



Rasa-rasanya tidak ada siswa di seluruh penjuru Indonesia yang tidak mengenal nama Pangeran Diponegoro. Sayangnya, selama ini dalam pelajaran sejarah, kita dikenalkan pada sosok tersebut sebatas sebagai salah satu pahlawan nasional. Ia bersama pasukannya berperang melawan penjajahan Belanda. Selesai.

Tapi akan menjadi berbeda ketika Sultan Abdul Hamid Diponegoro dinarasikan dalam sebuah novel. Ada sentuhan emosi. Ada persepsi berbagai pihak. Ada sesuatu yang luput dari data yang ikut terungkap. Demikian yang ditawarkan novel karya Salim A Fillah, seorang  da'i yang juga penulis.

"Hari ini, tugas besar kalian adalah menggenapkan syarat-syarat agar layak ditunjuk Allah memimpin peradaban Islam. Hidupkanlah jihad. Tegakkan syari'at. Satukanlah ummat." (hlm. 18)

Seperti kutipan risalah tersebut, keinginan mulia Pangeran Haryo Diponegoro harus tersampaikan ke generasi selanjutnya dengan sebuah semangat yang sama.

Maka, bagi saya itulah pesan utama novel setebal 631 halaman ini. Bahwa sejatinya muslim Nusantara dinantikan oleh dunia Islam menjadi pemimpin peradaban umat. Maka seyogyanyalah memantaskan diri untuk mengembangkan amanah tersebut. Pun memberi kontribusi terbaik untuk dakwah rahmatan lil alamin.

Lewat novel ini, boleh jadi  penulis juga ingin memperlihatkan sosok Diponegoro lebih pribadi. Pembaca seolah ikut berbaris di belakang sang pangeran saat berkecamuk perang Sabil antara tahun 1825 sampai 1830.

Di lain kesempatan turut duduk di lantai penjara Fort Rotterdam. Betapa rasa sedih, kecewa, bahagia, marah, juga dialami Karaeng Jawa ini.

Putra sulung Sultan Hamengkubuwono III ini bukanlah superman. Ada cukup banyak teman yang siap mempertaruhkan jiwa berjihad membersamainya. Termasuk mereka, generasi terakhir tentara Turki Usmani (Jenissary).

Membaca novel terbitan Pro-U Media 2019 lalu, menyisakan banyak kesadaran dan pembelajaran kehidupan. Haru, syahdu dan menderu. Sangat direkomendasikan untuk siapapun yang ingin belajar dari tokoh besar yang pernah ada di bumi Nusantara.

Dan kabar baiknya, Sang Pangeran adalah novel pertama dari tetralogi para pahlawan Nusantara. Semoga novel ini, meskipun bergenre fiksi, dapat turut meluruskan beberapa artikel sejarah yang terkadang tidak proporsional.
Kalian sudah baca?

***
Biodata novel
Pengarang: Salim A Fillah
Penerbit: Pro-U Media
Cetakan: 1 tahun 2019
Tebal: 631 halaman

#semuabacasangpangeran #sangpangerandanjanissaryterakhir
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

RUMAH BACA AL-GHAZI

RUMAH BACA AL-GHAZI