Senin, 13 Januari 2020

Menjadi Kaya dengan Berkarya

Ahad kemarin saya diminta mengisi agenda diskusi santai di Forum Lingkar Pena (FLP) cabang Palembang. Acara diskusi tersebut dilaksanakan bersamaan dengan program  Reading On The Street (RoTS). Bertempat di taman TVRI kampus Palembang dimulai pukul 08.30 sampai 11.00 wib.

RoTs agenda rutin 2 mingguan

Saat ketua FLP Palembang menghubungi saya dan mengajukan tema diskusi, saya sempat nanya sendiri, "beneran mau saya menyampaikan tema ini?"
Saya kan belum jadi horang kayah, begitu kira-kira kekhawatiran saya tidak kompeten. Tapi, baiklah, akan saya coba.


# Menjadi Kaya dengan Karya

Hal yang paling mendasar memahami makna kalimat di atas adalah konsep kaya itu sendiri.

Bagi saya, kaya itu memiliki banyak dimensi. Setidaknya ada makna kaya materi berupa uang, benda, hingga aset. Kaya pengalaman yang hanya akan dimiliki oleh orang yang konsisten berkarya. Serta kaya kebaikan.

Kemajuan tekhnologi di bidang komunikasi juga membawa dampak di dunia literasi. Sebagai contoh adalah lahir dan berkembangnya banyak media massa baik cetak terlebih daring.  Juga semakin mudah akses media sosial.

Media massa dan media sosial membuka peluang lebih banyak untuk memuat dan mempublikasikan karya. Maka inilah kesempatan bagi penulis bahkan pemula untuk menunjukkan kemampuannya.

Dengan beragam kesempatan tersebut, imbalan materi kepada penulis juga semakin bervariasi. Beberapa profesi terkait dunia literasi juga mulai dikenal seperti blogger, content writer, atau Bookstagramer.

Diskusi santai tapi serius

Artinya, jika ingin bekerja secara profesional dengan basis literasi sudah sangat memungkinkan mendapat kekayaan materi. Akan tetapi, jika berkarya dijadikan pilihan sekadar kegemaran juga tidak masalah.

Bagaimana dengan kaya pengalaman?
Tentu saja seseorang yang konsisten dalam menulis akan menemui banyak pengalaman. Berbagai hal yang ditemui akan membuat semakin memperkaya jiwa.

Karya yang baik tidak lahir dari jalan pintas. Melainkan melalui proses yang terus menerus. Menulis lagi, lagi, dan lagi.

Selain proses kreatif menulis, pengalaman menyampaikan karya tersebut ke para pembacanya juga memiliki banyak pembelajaran. Ada penulis yang memulai karya melalui majalah dinding sekolah. Ada yang di status media sosial. Ada yang berjuang lewat kompetisi menulis dan sebagainya.

Menulis hakikatnya mengabadikan ilmu dan pemahaman yang dimiliki. Maka penulis dituntut untuk terus mengisi dirinya dengan ilmu. Semakin berilmu maka semakin bijaklah perilaku seseorang.  Inilah pengalaman berkarya yang menjadikanmu kaya.

Selanjutnya, berkarya menjadikan seseorang kaya kebaikan. Ini hanya berlaku jika apa yang ditulis memiliki niat menyampaikan kebenaran dan dengan cara penyampaian yang benar pula.

Istilah di FLP adalah menulis untuk mencerahkan. Agar karya berupa tulisan dapat menjadi tabungan pahala kebaikan. Berkarya sama artinya dengan berdakwah. Andai saja ada satu orang mendapat kebaikan dari tulisan kita maka akan ada pahala yang terus mengalir.

Saya selalu berharap, karya-karya saya kelak menjadi amal yang membawa ke surga.

Berorientasi menjadi kaya dari karya, saya pikir silakan saja. Namun yang perlu diingat, jangan semata kaya materi, kaya pengalaman dan kebaikan tentu jauh lebih menjanjikan kebahagiaan hidup.

Saya sudah jadi orang kaya, lho! Kamu?


#DiskusiFLP
#ForumLingkarPena
#MenulisuntukMencerahkan
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

RUMAH BACA AL-GHAZI

RUMAH BACA AL-GHAZI