Kamis, 10 Oktober 2019

Hijrah Asmara; Perihal Cinta Unik dengan Konflik Apik

Dari mata turun ke hati. Istilah ini berlaku untuk novel Hijrah Asmara. Sejak melihat covernya saya sudah langsung terkesima. Konsep cover terbilang sederhana dan pilihan warna yang juga simpel. Tapi bagi saya, ngena banget!

cover yang enak dipandang

Sesuai dengan judulnya, novel berkisah tentang perjalanan cinta seorang mahasiswi bernama Ara. Fatih, lelaki yang sejak pertama Ospek memikat hati Ara, nyatanya bersedia menjadi pacarnya. Ara senang sekaligus galau sebab orang tuanya terlebih papa melarangnya berpacaran.

Tema cinta, mungkin ini terkesan biasa. Tapi, yang menjadikan novel ini berbeda dengan kisah cinta lainnya adalah konflik yang telah disiapkan oleh penulis.

Di bagian kejadian perselingkuhan yang dialami Ara adalah contoh konflik tak terduga. Meski disayangkan setelahnya konflik cendung datar.

Terdapat beberapa tokoh dengan porsi yang pas dan saling melengkapi.  Sosok Ara yang lembut. Fatih yang macho. Denis yang ceria. Arman yang berwibawa. Arum yang lugu. Serta papa dan mama.

Saya sendiri kagum pada tokoh Denis. Selain juga pada kedua orang tua Ara yang selalu membimbing anaknya agar tidak salah langkah. Sepertinya novel ini tidak hanya baik dibaca oleh remaja. Para orang tua juga direkomendasikan membacanya. Sebab mendidik anak butuh ilmu. Dan sosok papa dan mama Ara cukup bisa dijadikan contoh.

Ada fokus lain yang menurut saya menjadi keistimewaan novel setebal 213 halaman ini yakni menampilkan tokoh Arman dan Arum. Dua bersaudara ini mendirikan rumah baca serta melakukan berbagai aksi guna mengajak orang terbiasa membaca.
sejarah perpustakaan Canai

Mereka adalah pejuang literasi. Ide tentang menumbuhkan minat baca adalah ide cemerlang. Tidak banyak novel bertema cinta yang juga menceritakan hal yang berhubungan dengan literasi.


Latar tempat juga tergolong tidak biasa. Bahkan penulis membahas objek wisata Gili Lawang dan Gili Sulat. Ini bisa jadi bagian dari promosi wisata. Keindahan alam tersampaikan dengan baik.

Ada juga kuliner khas Lombok yakni ayam taliwang dan plecing kangkung. Sebenarya saya menunggu resep dan tata cara masak ayam taliwang ala Arman tapi tidak dimuat. Menulis resep makanan di novel keren juga lho!

Adapun dari sisi tehnis, saya merasa cukup terganggu dengan pilihan font huruf pada judul tiap bab. Sulit terbaca karena font berbentuk huruf miring bersambung jadi terkadang saya lewatkan saja. Tidak membaca judul babnya.

Tentang ending, penulis cukup baik hati dengan memberikan kejutan manis. Saya katakan manis sebab di prolog kesannya akan berakhir hampa. Ternyata pembaca terkecoh.

serius baca novel

Menulis satu novel oleh dua orang mungkin memiliki tantangan tersendiri. Saya pikir tidak mudah. Maka saat novel ini hadir, saya mengapresiasinya. Pesan moral yang disampaikan lewat tokoh bisa menginspirasi pembaca.

Buat yang belum membaca Hijrah Asmara, segera beli dan baca bukunya. Insyaalah ada hikmah menyertai kisahnya. Selamat membaca!

***

Idetitas Buku
Judul: Hijrah Asmara
Penulis: Madun Anwar dan Sukma El-Qatrunnada
Penerbit: Loka Media
Tahun: 2019
Tebal: 213 hlm.
ISBN: 978-602-5509-18-6
Share:

2 komentar:

  1. Ketika baca "Dari mata turun ke hati" kena banget😂

    Jadi penasaran ingin baca novel Hijrah Asmara.

    BalasHapus

RUMAH BACA AL-GHAZI

RUMAH BACA AL-GHAZI