Kamis, 12 September 2019

Yuk Mengenali Karakter Anak

Mengasuh anak itu mudah atau susah?
Itu pertanyaan pembuka saat Diskusi Pengasuhan Anak yang diadakan oleh Qudwah Center pada Minggu (08/09) lalu.
Peserta yang seluruhnya ibu-ibu (walaupun diundang Bapak dan Ibu) mulai riuh. Saling memandang. Saling berbisik.

"Susah," jawab seorang ibu di depan.
"Susahlah," sambung yang lain.
"Susah atau mudah?" tanya saya kembali yang berkesempatan sebagai fasilitator diskusi.
"Susaaaah!" koor bersamaan.

mengenal karakter anak bahkan sejak balita

Di dalam Al-Qur'an, Allah memerintahkan orang tua untuk menjaga anak keturunannya dari api neraka. Artinya, tugas orang tua memastikan anak menjadi sholeh.
Sholeh itu baik dan benar menurut ajaran Islam. Maka, tugas inilah yang berat. Susah.

Tetapi, mengasuh anak juga bisa menjadi mudah jika orang tua memenuhi persyaratannya.

1. Mau memperbaiki diri

Pepatah mengatakan buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Maka, saat menginginkan anak menjadi sholeh, rahasia pertamanya adalah jadikan diri orang tua sholeh.

Ingin anak rajin sholat, orang tua menjadi teladan bersegera sholat saat telah tiba waktunya.

Berharap anak berhijab, ibunya menjadi contoh dalam menutup aurat. Begitu seterusnya.

2. Terus belajar

Belajar bukan hanya pengetahuan akademik. Pengetahuan dan ilmu dalam kehidupan begitu banyak. Bahkan setiap fase kehidupan perlu pembelajaran.

Mau menikah, belajar tentang rumah tangga.
Punya suami-istri, belajar berkomunikasi dengan pasangan.
Punya anak, belajar jadi orang tua.
Punya mantu, belajar jadi mertua.
Punya cucu, belajar jadi nenek dan kakek.

Begitulah. Belajar, belajar dan terus membuka diri untuk terus belajar.

3. Doa kebaikan untuk anak

Ucapan orang tua adalah doa paling mustajab bagi anak-anaknya. Maka jangan lelah mendoakan kebaikan bagi anak.

Seemosi apapun orang tua, berjuanglah untuk tidak mengucapkan perkataan buruk pada anak.

Pada dasarnya, tidak ada anak yang bodoh, nakal, atau stigma negatif lainnya. Sebab anak terlahir membawa fitrah kebaikan. Namun pada perkembangannya, fitrah ini bisa semakin baik, pun sebaliknya, bisa menghilang.

Orang tua adalah orang yang paling bertanggung jawab atas 'hitam atau putih' anak.

Untuk itu, harus ada upaya serius dari orang tua agar anak tetap berada dalam jalur kebaikan. Salah satunya dengan memberi pola pengasuhan yang tepat kepada anak.
beda anak, beda karakter

Setiap anak memiliki karakter yang unik. Tidak sama persis dengan siapapun bahkan dengan saudara kandung.

Orang tua penting memahami karakter setiap anaknya dengan baik. Tujuannya agar dapat memilih pendekatan yang pas untuk si anak.

Misalnya ketika anak ngambek. Ada anak yang maunya dibiarkan dulu. Ada anak yang ingin dipeluk. Tetapi ada juga yang mau ditanya penyebab ngambeknya.

Karakter terbentuk oleh berbagai faktor yakni genetika, pola asuh keluarga serta kondisi lingkungan.

Artinya, meskipun sifat, tabiat, watak seorang anak sudah ada sejak lahir. Tetap ada kemungkinan untuk berubah atau diubah. Minimal sifat tersebut tidak lagi dominan.

Sebagai contoh anak yang terlahir membawa sifat pemalu. Namun orang tuanya selalu memberi ruang kepada anak untuk mengungkapkan keinginannya atau pendapatnya. Orang tua menghargai gagasan anak sehingga anak merasa percaya diri dengan apa yang dimilikinya. Kemudian lingkungannya pun mendukung si anak untuk berani tampil. Maka anak pemalu tadi secara perlahan akan leluasa berbicara di depan publik.

Hal ini berlaku juga sebaliknya. Anak yang sifat dasarnya pemberani namun jika pola asuh orang tua salah bisa menyebabkan anak menjadi rendah diri, pemalu, pemurung dan sebagainya.
memilih ragam kegiatan anak

Memahami karakter anak juga akan membantu orang tua mengarahkan anak dalam memilih kegiatan atau cita-cita.

Pada tahap awal, bagi sebagian anak penasaran mencoba semua kegiatan. Akan tetapi sebagian lain justru hanya mau ikut satu saja kegiatan. Baik kegiatan ekskul maupun kegiatan mandiri bersama teman di sekitar rumah.

Orang tua dapat memantau kegiatan mana yang dilakukan anak secara kontinyu, dengan penuh antusias dan memiliki capaian yang cepat. Jika sudah ada, boleh jadi kegiatan tersebut adalah passion anak.

"Bagaimana ibu-ibu, sudah tau karakter anaknya masing-masing?" tanya saya. "Kalau belum atau masih ragu, ini jadi pr. Orang tua harus menjadi orang yang paling tabiat anak.

Jangan sampai kita taunya anak baik-baik saja di depan orang tua. Ternyata itu hanya manipulasi sikap karena rasa takut. Di luar, anak melampiaskan rasa marah kepada orang tua dengan membuat keonaran dan masalah." pungkas saya.

Masih banyak hal yang menarik dibincang pada siang menjelang sore itu. Namun karena katerbatasan waktu maka usai membahas dua tanggapan dari peserta, acara ditutup.

Insyaallah akan ada pertemuan selanjutnya sebab Diskusi Pengasuhan Anak rutin dilaksanakan setiap 3 bulan sekali bertempat di PAUD Qudwah Desa Sungai Rengit Banyuasin.

Demikian ringkasan materi kali ini. Semoga bermanfaat. 
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

RUMAH BACA AL-GHAZI

RUMAH BACA AL-GHAZI