Senin, 23 September 2019

Resensi Film Hayya; Membincang Palestina dari Sudut Berbeda

Topik Palestina bukanlah hal baru di ranah perbicaraan warga Indonesia. Dari sekadar komentar sambil lalu. Sampai kajian ilmiah dalam tinjauan sejarah, agama, sosial serta hankamnas.
Bendera Indonesia dan Palestina berdampingan

Konflik kemanusiaan yang tak kunjung usai adalah muara bermacam masalah lainnya. Termasuk masalah korban perang.

Dalam catatan, anak-anak adalah kelompok usia sangat rentan menjadi korban perang. Departemen Penerangan Palestina mengungkapkan, sekitar 2.079 anak-anak Palestina telah tewas akibat kekerasan Israel dalam periode tahun 2000 hingga 2016. (Sumber Sindonews.com)

Sementara Sekretaris Jendral PBB, Antonio Guterres melaporkan bahwa dalam satu tahun di 2018 ada 729 anak Palestina yang terluka dan tewas. (Sumber IntisariOnlie.com)

Selain meninggal, masih ada anak yang terluka, kehilangan keluarga, kekurangan makanan, putus sekolah, trauma dan lainnya.

Poster Film Hayya
Film Hayya; The Power of Love 2 berupaya mengambil bagian dalam menggugah rasa kepedulian atas nasib anak Palestina lewat sosok Hayya. Hayya yang diperankan oleh Amna Hasanah Sahab adalah anak perempuan berusia 5 tahun yang seluruh anggota keluarganya tewas akibat penyerangan militer Israel.

Bagi saya, ide memunculkan tokoh Hayya terbilang cerdas dan sangat strategis. Meski proses keberadaan Hayya di Indonesia terasa kurang pas.

Kekhawatiran sebagian orang bahwa film bertema Palestina akan menimbulkan sentimen agama sama sekali tidak terbukti. Alur kisah sangat bersahaja. Lebih dominan menunjukkan perasaan cinta (baca; obsesi) yang nyatanya juga harus dikoreksi. Artinya adalah konflik utama film justru pada pertentangan batin tokoh utama Rahmat.

Sebagai seorang yang baru hijrah, sangat wajar jika Rahmat memiliki semangat menggebu untuk melakukan sesuatu guna pembuktian diri. Namun, dalam Islam ada konsep ilmu sebelum amal. Maksudnya jangan sampai niat baik justru menjadi keburukan karena ketidaktahuan. 

Maka hal yang juga penting disampaikan oleh film Hayya adalah harus mengetahui prosedur yang benar untuk membantu Palestina. Tujuannya tentu saja, agar energi besar kepedulian terhadap Palestina dapat tersalurkan dengan tepat dan maksimal.

Nonton di hari pertama
Terkait adopsi anak korban perang seperti Hayya, tentu akan lebih lengkap jika dalam film juga dijelaskan apa yang dapat dilakukan oleh masyarakat misalnya warga Indonesia untuk membantu mereka. Cukup hanya dengan danakah? Atau ada hal lainnya. Sehingga sisi edukasinya tentu akan lebih terasa. 

Adegan yang disinyalir oleh pihak sutradara berlokasi syuting di Palestina hanyalah cuplikan layaknya terdapat di breaking news. Dan tampilan gambar tersebut sudah sering terlihat (minimal mirip) di berbagai berita televisi tentang Palestina. Nyaris tidak ada kekerasan perang ditampilkan. Jadi, relatif aman jika ditonton oleh anak-anak.

Perjuangan rakyat Palestina
Sebagai film kemanusiaan, tentu ada bagian yang harus berhasil mengetuk nurani penonton. Buat saya bagian tersebut ada pada tampilan aksi kemanusiaan Palestina di sekitar monas Jakarta dan ustadz Bachtiar Nasir berorasi tentang dukungan Indonesia terhadap Palestina. Scane ini cukup menjadi sikap muslim Indonesia terhadap negeri para nabi tersebut. Harus saya akui, di detik ini saya menitikkan air mata haru.

Para pemain yang terlibat dalam film bergenre drama ini mayoritas adalah pemain yang sama di beberapa film 'dakwah' inisiasi penulis Helvy Tiana Rosa. Ada Hamas Syahid, Meyda Sefira, Fauzi Baadila, Adhin Abdul Hakim, serta Asma Nadia.
Sang Inisiator Film Hayya
Dua pendatang baru yakni Amna Sahab dan Ria Ricis terbilang sukses memerankan karakter masing-masing. Terlebih bagi Amna (7 tahuan) yang meskipun telah beberapa kali tampil di sinetron, namun film Hayya adalah debut perdananya di layar lebar.

Hal lain yang saya acungi jempol dari alur film berdurasi 101 menit karya sutradara Justis Arimba adalah juga memasukkan isu terkini dan menyatakan sikap. Sebagai contoh isu LGBT yang pada curhatan Adit mengatakan bahwa harusnya negara bertanggung jawab mengembalikan keperkasaan mereka (para waria). Atau isu polusi sampah plastik dengan menampilkan 212 Mart memberikan totebag pada pembeli.

Tentang ending, meskipun memang seharusnya demikian sikap  Rahmat. Namun saya berharap ada penjelasan lain Rahmat bisa menerima kenyataan dengan begitu mudah. Bukan sebatas karena kecelakaan lalu semua selesai.

Nonton bersama keluarga
Secara keseluruhan, film yang menurut laporan situs filmindonesia.or.id pada tanggal 23 September telah ditonton 415.317 orang sejak perdana tayang 19 September lalu patut diapresiasi. Inilah film keluarga berkonten positif tentang mencintai, proses memperbaiki diri, nasionalisme serta kepedulian terhadap Palestina. Mengutip pesan Kyai Zainal,  jangan pernah lelah mendoakan dan membantu saudara kita di Palestina.

Akhirnya, sebagai penonton saya merasa sangat menikmati tiap alur cerita. Hiburan yang sarat pesan kebaikan. Adegan horor kemunculan Hayya, audisi babysitter, adu acting Ricis dan Abrar adalah aksesoris manis yang melengkapi emosi penonton.

Selamat untuk semua pihak yang terlibat dalam film Hayya. Selalu mendukung perfilman Indonesia!

Share:

10 komentar:

  1. Sudah nonton ya, Bunda. Saya belum sempat karena lumayan repot dengan berbagai urusan. Saya pikir film adalah salah satu cara untuk menyampaikan pesan. Keren, Bund reviewnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sesekali nonton tapi selektif milih filmnya. Makasih udah singgah

      Hapus
  2. Salah satu film yang hampir bikin aku mewek mbak. Hehe ditambah wong kursi sebelah nangis nian.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau orang dewasa nangis wajar. Anak TK aja ikut nangis saat Hayya direbut paksa 😢

      Hapus

RUMAH BACA AL-GHAZI

RUMAH BACA AL-GHAZI