Jumat, 27 September 2019

Berawal dari Cinta Lahirlah Rumah Baca

Masuk dalam jajaran siswi biasa-biasa saja membuat saya tidak poluler di sekolah. Memang tidak pernah tinggal kelas tapi bukan juga bintang kelas. Tak pernah bermasalah dengan guru BP namun tak juga dibanggakan kepala sekolah. Semuanya biasa saja.

Literasi keluarga
Dari ibtidaiyah hingga tsanawiyah, nyaris semua berjalan dengan normal. Jika pun ada kenangan istimewa itu hanyalah sebatas kenangan pribadi.

Ya, saya sangat istimewa saat berada di perpustakaan. Diantara deretan rak buku, tumpukan buku berserakan yang belum dirapikan petugas atau buku-buku lama tak tersentuh berdebu.

Di tempat inilah saya merasa sangat bahagia. Dapat melihat banyak tempat di dunia. Bisa melanglang ke segenap planet dan tata surya. Dapat bertemu dan berkenalan dengan banyak orang di mana pun berada.

Buku adalah cinta pertama saya. Tak seharipun terlewat tanpa bercengrama dengannya.

Saat itu, saya belum mengenal istilah literasi. Tak juga tahu indeks minat baca. Satu hal yang saya gemari adalah membaca, membaca, dan membaca.

Nyatanya kesempatan baik datang saat saya aliyah. Menjadi yang biasa-biasa saja jadi istimewa. Tanpa diduga, saya terpilih mewakili sekolah menjadi wartawan pelajar di sebuah koran di kota domisili, Palembang. Berkah gemar membaca.

Tiga atau empat hari dalam seminggu, sepulang sekolah saya akan ke kantor koran tersebut. Menulis tugas atau sekadar nongkrong melihat kerja wartawan. Sesekali diperbolehkan ikut meliput.

Pengalaman selama dua tahun tersebut menjadi moment berharga dalam hidup saya. Nama dan karya saya dimuat di media massa.

Lebih penting lagi, itu menjadi titik awal saya memilih passion, cinta, profesi, hobi dan masa depan di dunia literasi.

Jodoh pencinta buku

Dalam sebuah buku yang saya baca dijelaskan bahwa jodoh adalah cermin diri kita. Sejalan. Klik. Sesuai dengan salah satu pertimbangan mencari jodoh dalam Islam yakni sekufu.

Ketika saya meyakini hal tersebut, terlafadzlah keinginan agar kekasih saya kelak adalah juga pencinta buku.

Maha sayang Tuhan, doa dalam batin sekalipun dikabulkan. Lelaki itu datang dengan berjilid-jilid buku koleksinya.

Rekreasi literasi

Anak-anak lahir dan tumbuh bersama buku

Ada taman bunga yang bermekaran di hati saat menyusun dan menyatukan buku koleksi saya dan suami di sebuah lemari sederhana. Melihat buku-buku tersusun selalu menciptakan kebahagian dalam jiwa.

Ketika anak pertama lahir, kami sepakat memberinya hadiah buku berjudul sesuai namanya. Mush'ab. Nama sahabat Rasulullah yang menjadi duta dakwah di kota Yastrib (Madinah).

Hadiah yang sama selalu kami berikan pada anak-anak lainnya. Di beberapa hari kelahiran mereka. Saya ingin mereka merasakan cinta pertama yang ayah dan bundanya rasakan. Mencintai buku. Mencintai membaca. Mencintai pengetahuan.

Jika ada destinasi wisata yang selalu mengagumkan itu adalah perpustakaan. Jika ada hiburan yang selalu siap sedia itu adalah membaca. Jika ada mainan paling menyenangkan itu adalah buku.

Beberapa hal yang kami terapkan di rumah dalam budaya literasi.

1. Memfasilitasi bacaan

Beragam jenis buku dan tampilannya diupayakan tersedia. Anak-anak balita sekalipun senang 'membaca' ensiklopedi. Ia akan menunjuk gambar yang disukai sembari menyebutkan namanya.

2. Meski tidak ada jadwal khusus, kunjungan ke perpus cukup sering

Bersyukur di provinsi kami sudah ada fasilitas ruang baca anak di perpustakaan daerah. Selain koleksi buku anak, komputer edukatif ada juga pojok bermain. Ini paket komplit untuk menemani anak-anak bermain sekaligus belajar.

3. Membuka ruang diskusi usai beraktifitas bersama anak

Kemampuan berbicara berhubungan erat dengan kemampuan berpikir. Anak akan belajar banyak hal ketika orang tua mau berdiskusi. Berani berpendapat, menyusun kalimat, berpikir ktitis dan sebagainya. Di samping suasana diskusi menjadikan kedekatan hati anak dan orang tua.

4. Menggunakan gadget untuk membaca e-book

Setidaknya ada tiga aplikasi perpustakaan digital yang ada di gadget saya.

Sesekali si sulung yang kelas 1 SD dan sudah lancar membaca saya serahkan gadget untuk membaca sendiri ebook anak. Jumlah halamannya tidak banyak dan penuh gambar. Lain waktu saya yang membacakan ebook.

Selain memberi variasi tampilan buku, dengan membaca ebook di perpustakaan digital, saya melatih anak untuk bijak menggunakan gadget.

5. Memberi apresiasi atas prestasi berupa buku yang bisa mereka pilih sendiri di toko buku

Prestasi tidak hanya angka yang tertulis di raport atau piala yang diterima. Prestasi dapat berupa kebiasaan baik yang sudah dijalankan misalnya Raihan (4 tahun) sudah terbiasa mengembalikan handuk ke rak seusai mandi.

Ruang baca anak
6. Ada waktu membaca bersama

Kebetulan di rumah kami tidak ada televisi. Waktu santai malam seusai menyelesaikan PR sekolah digunakan untuk bermain, membaca atau ngobrol bersama keluarga.

7. Kami terbiasa saling menceritakan bacaan

Saya akan menceritakan secara ringkas buku yang sedang saya baca. Misalnya ketika saya membaca buku buku 4 bulan di Amerika.

"Ini tentang pahlawan Indonesia, namanya Hamka. Suatu ketika ia diundang ke Amerika. Lalu ia bercerita apa saja yang dialami dan dilihatnya selama di sana," ujar saya.

Sebaliknya Mush'ab (6 tahun) akan dengan antusias bercerita isi komik yang ia baca. "Nda, paman Gober itu punya gudang uang. Ia sudah punya apa saja," begitu kira-kira cerita si sulung yang tidak berhenti bercerita sebelum saya bilang, cukup dulu ya.

Rumah kita rumah baca

Menjadi baik tidak bisa sendiri. Menjadi baik harus bersama. Bagi saya itu prinsip yang juga berlaku ketika menanamkan cinta membaca bagi anak-anak.

Anak-anak memiliki teman maka teman mereka harus pula mencintai aktifitas membaca. Mendekatkan anak-anak di sekitar rumah kami dengan buku dan betapa nikmatnya membaca.

Opini saya di Tribun Sumsel

Bismillah, sejak tiga tahun lalu ruang depan rumah kami berfungsi sebagai perpustakaan anak. Inilah rumah baca Al-Ghazi.

Anak-anak di sekitar bebas membaca di sini. Buku anak, komik, majalah, buku pelajaran, buku agama, ensiklopedi, buku cerita, novel anak adalah bagian koleksi yang bisa dinikmati bersama.

Bukan tanpa kendala saat mengelola rumah baca. Awalnya tentu saja menjadikan anak-anak tersebut mau menyentuh, membuka, melihat-lihat hingga akhirnya membaca buku.

Lalu perihal pemeliharaan buku. Meski setiap saat diingatkan untuk berhati-hati ketika membaca, selalu ada buku yang terlipat, robek, hilang sampulnya, dicoret dan sebagainya. Belum ditambah rak buku yang berantakan dan buku bertebaran dimana-mana.

Menyerah?
Oh tidak bisa.

Kerepotan dan kelelahan melakukan berbagai upaya agar anak-anak gemar membaca segera sirna saat kini dibanyak kesempatan tanpa diajak mereka telah ramai membaca.

Ada yang sendirian dengan buku di tangan. Ada yang bersama, tiga, empat orang mendiskusikan isi buku. Ada yang duduk di kursi, di ayunan, di lantai, di tempat mereka nyaman bersama buku.

Jika sudah demikian, saya selalu berpikir optimis bahwa generasi mendatang adalah generasi dengan kesadaran literasi yang mumpuni.

****
#SahabatKeluarga
#LiterasiKeluarga
#KeluargaHebat
#KeluargaTerlibat
Share:

2 komentar:

RUMAH BACA AL-GHAZI

RUMAH BACA AL-GHAZI