Jumat, 19 Juli 2019

Iqro Myuniverse; Saat Ayat Kauliyah dan Kauniyah Terintegrasi

Jika ada film yang dibuat sekuel, mau tidak mau penonton akan membandingkan keduanya. Pun yang saya alami ketika menikmati Iqro; Myuniverse, tayang serentak pada 11 Juli 2019. Sekitar dua tahun lalu, Januari 2017, Iqro; Petualangan Meraih Bintang sebagai pendahulunya dirilis.

Beberapa pemain di Iqro 2 tetap sama, seperti Aqilla (Aisha Nurra Datau), Opa Wibowo (Cok Simbara) serta Fauzi (Raihan Khan).
Selain itu, ada cukup banyak aktor papan atas yang mendukung seperti  Maudy Koesnaedi, Astrie Ivo, Meriam Bellina, Mike Lucock, Mario Irwinsyah, Ben Kasyafani, Elliz Christin, serta Adhitya Putri.
Adegan Aqilla dan ibu Tsurayya

Ide besar film Iqro 1 dan 2, menurut saya tetap sama yakni integrasi agama dan sains. Namun, saya menilai ide tersebut lebih maksimal digarap pada film pertama. Di Iqro; Myuniverse cukup banyak adegan dan tokoh yang kurang mendukung kisah.

Bagi yang tidak menonton Iqro 1, akan sedikit bingung dengan beberapa adegan. Semisal kemunculan kak Raudha dan suaminya yang langsung membahas tentang kedatangan Fauzi. Siapa kak Raudha? Siapa Fauzi? Apa hubungannya dengan Aqilla.

Atau Bos bang Codet (ayah Fauzi) yang punya bisnis terlarang dan sama sekali tidak ada hubungan dengan cerita utama. Kecuali adegan Aqilla lupa menutup pintu kamar karena ingin membantu ayah Fauzi.

Kehadiran Muzzammil, seorang hafidz yang alumni ITB sebagai salah satu pemain tamu sangat disayangkan belum terekplorasi secara maksimal. Mungkin akan lebih mantap jika Muzammil beradu akting dengan Aqilla dengan adegan Muzammil memberi semacam 'pengarahan' tentang ayat kauniyah dan kauliyah.

Meski ditulis pada poster bahwa film berdurasi 110 menit ini diperuntukkan bagi semua umur. Sepertinya akan lebih pas ditonton siswa SMP dan SMA.  Sebab, salah satu pesan dalam film produksi Yayasan Pembina Masjid Salman ITB bersama Salman Film Academy didukung Bumi Prasidi Bi-Epsi dan Mitra Andalas Visual ini adalah semangat berprestasi dan berani berkompetisi.

Satu lagi yang bagi saya cukup menganggu yakni latar waktu pada film ini yakni saat bulan Ramadhan dan Idul Fitri. Sementara penayangannya tidak di bulan puasa. Ketidaksesuaian ini sangat mungkin karena mengikuti jadwal tayang dari pihak bioskop. Namun akan menjadi kelemahan karena kesan Ramadan hanya untuk menunjukkan keIslamian film.

Tetapi, saya angkat jempol dengan ending yang ditawarkan. Tidak terpikirkan dan sarat hikmah. Bahwa hidup tak harus menang-kalah. Ada proses yang lebih penting dari sekadar hasil akhir. Karakter yang patut ditanamkan sejak dini agar anak-anak menghargai sebuah pencapaian sesederhana sekalipun.

Untuk pemain, saya tetap menyukai Aisha yang memerankan karakter Aqilla. Sosok remaja yang memiliki  rasa ingin tahu kuat dan terobsesi menjadi astronot. Untuk anak seusia Aqilla, semangat tersebut memang seharusnya dimiliki. Peran orang tua serta orang dewasa di sekitarnya mengarahkan agar obsesi sang anak tetap menjadi energi positif dalam meraih cita-cita.

Disutradai oleh Iqbal Alfajri, Iqro; Myuniverse didedikasikan untuk astronot perempuam pertama Indonesia yaitu Prof Pratiwi Pujilestari Sudarmono. Pada Oktober 1985, ia terpilih untuk ambil bagian dalam misi Wahana Antariksa NASA STS-61-H sebagai Spesialis Muatan. Ibu Pratiwi juga secara khusus tampil dalam satu scane di film. Keren kan?!

Keistimewaan film ini adalah mengungkap fakta tentang sampah luar angkasa yang bagi banyak orang tidak menjadi perhatian penting.  Dari laporan LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) setidaknya sudah beberapa kali sampah luar angkasa jatuh di Indonesia. Pada Juli 2017, sampah luar angkasa jatuh  di Agam Sumbar atau pada September 2016 di Sumenep, Jatim.

Sampah luar angkasa adalah objek di orbit di sekitar bumi yang diciptakan manusia, yang tidak lagi berguna. Terdiri dari satelit yang tidak berfungsi lagi hingga fragmentasi ledakan, debu, atau partikel lainnya. (sumber wikipedia).

Tidak banyak produser yang berani mengangkat tema ini. Salah satu alasannya tentu saja karena (mungkin) tidak menjual dibanding film dengan tema percintaan atau misteri. Belum lagi ketika di jadwal tayang yang sama ada film lainnya yang mempunyai kans besar dinanti penonton.

Apresiasi pada film Iqro; Myuniverse karena sudah berupaya maksimal memberi tontonan menginspirasi bagi anak-anak Indonesia. Juga membuktilan diri bahwa film bergenre keluarga sekaligus religius tetap memiliki penikmat tersendiri.

Masih menanti film-film Indonesia yang turut membangun karakter anak bangsa menuju bangsa bermartabat.


#DukungFilmBerkualitas #FilmBaik #FilmInspirasi #ResensiFilm #ResensiFilmIqroMyUniverse
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

RUMAH BACA AL-GHAZI

RUMAH BACA AL-GHAZI