Rabu, 05 Desember 2018

Untukmu yang Menanti Buah Hati

Teruntuk para istri yang kini merasa sepi
Sebab tak jua memiliki buah hati

Saya tergerak menulis surat ini atas dasar kekaguman pada banyak teman di sekitar saya. Mereka, para istri yang telah belasan tahun menikah namun belum juga merasai melahirkan anak. Namun dengan sepenuh keimanan, mereka tetap berbaik sangka pada sang pencipta. Dengan segenap keihlasan, mereka tetap berempati pada kami, para istri yang penuh kerepotan mengasuh si kecil.

Saya tahu, bahwa setiap orang memiliki ujiannya masing-masing. Tetapi saya tidak yakin jika bentuk ujian belum mempunyai keturunan diberikan pada saya. Apakah saya sekuat mereka? Apakah saya seikhlas mereka menjalani hidup? Untuk itu, saya yakin Allah memberikan ujian sesuai kemampuan hambanya.

"Don't jugde book from the cover." Saya pikir ini tidak hanya berlaku pada buku. Tetapi juga dalam menilai seseorang. Terkadang, seolah kehidupan seseorang dinilai begitu indah. Namun faktanya tidak demikian. Atau sebaliknya. Sepertinya seseorang terlihat menderita sepanjang masa. Padahal masih banyak orang yang jauh lebih menderita. Maka, begitulah melihat kehidupan orang lain. Tidak ada yang mengetahui secara pasti.

Secara umum, mungkin ada standar kebahagian bagi seseorang. Seperti memiliki penghidupan yang nyaman, pendidikan, karier dan sejenisnya. Termasuk juga memiliki keluarga, pasangan hidup serta anak-anak yang menjadi tempat berlabuhnya kasih sayang. Akan tetapi jalan hidup memilki keunikan tersendiri. Yang tidak akan sama tiap orang.

Diantara diuji dengan penantian panjang akan lahirnya anak. Dua, tiga, lima tahun mungkin masih hitungan yang belum banyak. Sebab bagi pasangan lain, waktu belasan hingga puluhan tahun telah berlalu tanpa ada tanda-tanda kehadiran buah hati.

Saya tidak perlu bertanya, apa dan bagaimana perihal 'masalah' ini. Karena hanya akan menjadi barisan orang yang tanpa sadar meyakiti perasaan.

Lalu, izinkan saya hanya berdoa dalam diam agar Allah senantiasa memberi kehidupan yang terbaik untuk mereka. Saya tak hendak bertanya, bukan tidak pedulik. Namun itulah wujud kepedulian saya dengan hanya bicara hal lainnya.

Sementara jika mereka bertanya tentang anak-anak, betapa ingin kalian juga merasakan kebahagiaan ini. Anak-anak saya adalah keponakan kalian yang boleh diajak bermain, bercanda atau mengajaknya makan bersama. Atau kalian pun harus terbiasa dengan tangisannya, menggantikan popok atau menyuapinya makan. Sungguh, saya ingin rasa sebagai ibu juga kalian nikmati.

Jangan pernah menyalahkan diri sendiri atas ujian ini. Tidak perlu dipikirkan perkataan orang lain tentang 'kekurangan' keluargamu. Lupakan saja. Bagaimanapun kalian sendiri yang menjalaninya. Bukan mereka. Nyamankan diri agar tak hilang kebahagiaan. Dan ingatlah, banyak orang yang tidak membedakamu bahkan mengagumi pilihan sikap bijakmu.

Akhirnya, memiliki anak atau tidak adalah ketetapan Sang Kuasa. Sebagai hamba, kita hanya menjalani ketentuan yang ada. Maka, berdamailah dengan semua yang ada.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

RUMAH BACA AL-GHAZI

RUMAH BACA AL-GHAZI