Jumat, 14 Desember 2018

Sungai dan Hutan, Tempat Bermain Masa Kecil

Bagi saya, masa kecil selalu indah untuk diceritakan. Berbagai kenangan terjalin menghiasi hari. Semua lepas, bebas dan bahagia. Saya lahir dan menghabiskan enam tahun usia kanak di sebuah tempat yang cukup jauh dari kota.

Suasana asri lingkungan merupakan hamparan luas area bermain. Sungai, lapangan rumput, kebun, hingga hutan. Belum ada gawai bahkan telpon rumah masih tergolog barang mewah. Belum marak film anak di TV, bahkan hanya beberapa rumah tetangga  saja yang memiliki  TV. Ya... anak-anak bermain di alam.

Sebenarnya rumah kami sudah ada kamar mandi. Namun karena ingin bermain, saya selalu ke sungai belakang rumah setiap sore. Sejak usai adzan ashar biasanya anak-anak sudah mulai berdatangan ke sungai. Anak laki-laki lebih berani melompat dari tebing pinggir sungai dibanding anak perempuan. Kami, anak perempuan lebih suka bermain langsung ke aliran sungai. Berenang, bersembunyi, berenang hingga berburu ikan dan udang.

Sungai tersebut merupakan anak sungai Enim yang mengaliri kabupaten Muara Enim. Tidak terlalu lebar, saya perkirakan sekitar 6 meter. Airnyapun relatif tidak deras dengan cukup banyak bebatuan besar. Di musim kemarau, tinggi air hanya sepinggang orang dewasa atau lebih rendah.

Di atas sungai tersebut terdapat jembatan yang biasa kami sebut jembatan gombreng. Disebut demikian karena saat dilitasi, jembatan akan mengeluarkan bunyi gombeng-gombeng yang berasal dari lempengan besi penyusun jembatan. Nah jembatan ini menghubungkan perumahan penduduk dengan lapangan rumput.

Pada saat tertentu, di sore hari akan ada pertandingan sepak bola antar rt yang diadakan di sini. Saya beserta teman-teman tentu saja tidak ketinggalan menyaksikan keseruan pertandingan bola. Lapangan akan ramai dipenuhi orang baik yang ingin menonton maupun berjualan aneka jajanan.

Hal yang seru adalah saat pulagnya. Karena banyak orang yang akan melewati jembatan, maka suara gombreng tiada henti ditambah goyangan jembatan kian kuat. Buat anak-anak penakut, ayunan jembatan bisa membuat kaki gemetaran.

Lebih jauh ke dari lapangan rumput, akan disuguhi perkebunan dan hutan. Wawak saya, kakak dari ibu, memiliki kebun cukup luas. Ada bermacam tanaman yang ditumbuh dikebunnya seperti melinjo, ubi, beragam sayur, serta palawija. Saya sering kali ikut ke kebun. Paling enak mencari buah-buahan masak setiba di kebun. Lalu bersantai di gubuk yang sengaja dibuat Wawak. Sesekali Wawak suka menginap di kebunnya. Selain tanaman, ada juga peliharaan ayam dan bebek milik Wawak.
Begitulah masa kecil saya. Sungai, lapangan rumput, kebun dan hutan adalah tempat bermain paling menyenangkan. Tidak ada games online atau play zone seperti saat ini. Tapi saya sangat bahagia dengan semua kenangan tersebut.

Share:

0 komentar:

Posting Komentar

RUMAH BACA AL-GHAZI

RUMAH BACA AL-GHAZI