Rabu, 12 Desember 2018

Kecuali Dosa, Tidak Ada yang Saya Sesali

Tentu saja saya orang biasa. Dari keluarga biasa saja. Dengan pendidikan biasa saja. Dan serba biasa lainnya. Saya pun tumbuh sebagai anak rata-rata. Tidak istimewa dengan misalnya prestasi tertentu.

Tapi dalam perjalanan usia, akhirnya saya tahu bahwa tidak ada kata biasa dalam setiap penciptaan Tuhan. Termasuk menciptakan satu persatu hambanya. Semua orang pasti punya potensi istimewa dalam dirinya.

Yang selanjutnya menjadi pilihan masing-masing. Menjadi pribadi istimewa atau justru pribadi hina.

Menjadi pribadi istimewa tidak bermakna bersih dari salah dan dosa. Menjadi pribadi istimewa adalah yang selalu mau mengakui kesalahan. Berjuang tidak mengulangi kesalahan itu lagi. Serta mengganti kesalahan dengan kebaikan.

Salah dan dosa seperti penyesalan yang selalu datang di akhir. Dan sering kali kesalahan meski telah disesali akan terulang kembali. Rasanya, begitulah tabiat manusia dengan kodratnya. Baik-buruk. Buruk-baik.

Maka bagi saya tidak ada penyesalan dalam hidup kecuali dosa yang diperbuat. Sebab semua yang terjadi pada hakikatnya adalah jalan takdir dari Sang Pencipta. Semua peristiwa yang dinilai baik atau yang dinilai buruk bisa menjadi baik ketika disikapi dengan bijak. Kesalahan yang dilakukan bisa menjadi pelajaran berharga untuk menjadi lebih baik.

Suatu ketika saya pernah mengalami hubungan tidak harmonis dengan adik perempuan saya. Usia kami terpaut enam tahun. Sumber ketidakbaikan hubungan tersebut adalah perbedaan prinsip. Hampir di semua hal kami memiliki pandangan berbeda. Dan parahnya kami berupaya memaksakan pendapat tersebut agar dapat diterima oleh yang lain.

Misalnya saja, ia akan senantiasa berkomentar buruk setiap kali saya butuh dana kuliah. Baginya kuliah hanya akan menghabiskan banyak hal, waktu, dana, tenaga. Sementara tidak ada hal yang bisa dimanfaatkan dari kuliah kecuali kebanggan sebagai sarjana.

Sebaliknya saya selalu menggugat keputusannya untuk menyelesaikan pendidikan hanya sampai SMA. Menurut saya, dengan melanjutkan ke perguruan tinggi akan membuka wawasan, memiliki kesempatan lebih maju serta punya daya saing.

Belasan tahun telah berlalu. Kini kami tidak lagi membahas tentang kuliah atau tidak. Hubungan yang sempat reggang telah membaik. Saya mengakui terlalu egois. Padahal jika saja mau mengalah tentu tidak akan menyebabkan masalah.

Peristiwa ini mungkin akan disesali orang lain namun tidak bagi saya. Sebab ada banyak hal yang dapat saya pelajari. Tentang saling menghargai perbedaan, tentang cara pandang, tentang bersaudara dan sebagainya.

Sekali lagi, tidak ada yang kebetulan dalam hidup. Semua sudah ditetapkan. Jadi tidak perlu disesali. Atas kesalahan yang pernah ada, jadikan titik balik untuk menjadi lebih baik. Hanya dosa yang patut disesali dan diperbaiki.

Share:

2 komentar:

RUMAH BACA AL-GHAZI

RUMAH BACA AL-GHAZI