Minggu, 02 Desember 2018

Dua Kota Istimewa Impian Wisata

Tema posting blog hari ini tentang negara, kota atau tempat wisata impian. Saya memilih dua kota yang sedari dulu ingin dikunjungi. Awalnya, saya tidak punya alasan pasti, mengapa dua kota ini seolah memiliki magnet mengundang keberadaan saya. Tiba-tiba begitu saja saya jatuh cinta pada kedua kota ini.

Apakah karena status keistimewaan kedua kota ini? Pengakuan keistimewaan Aceh pada tahun 2006 dan Yogyakarta tahun 2012.

Tapi demi supaya tidak dikatakan cinta buta. Saya akan coba jelajahi keistimewaan keduaya hingga layak diimpikan untuk disambangi.

1. Nanggroe Aceh Darussalam

Di pelajaran sekolah, saya mengetahui kota Aceh dikatakan sebagai Serambi Mekah. Julukan tersebut diberikan karena wilayah Aceh menjadi pintu masuk agama Islam di nusantara. Selain itu banyaknya para ulama yang berdakwah di Aceh membuat kota ini sangat religius. Dari ke 13 suku asli yang ada di Aceh hanya suku Nias yang tidak semuanya memeluk agama Islam.

Tidak hanya mengurusi persoalan agama, masyarakat Aceh terkenal gigih dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Pasangan suami istri Teuku Umar dan Cut Nyak Dien hanya satu contoh diantara begitu banyak pejuang Aceh yang menggetarkan pasukan Belanda.

Aceh juga mendapat hak khusus dalam pengaturan wilayah yakni penerapan syariat Islam. Sehingga tatanan kehidupan disesuaikan dengan aturan Islam. Dan saya termasuk orang yang kagum dengan adat budaya yang demikian.

Keindahan alam provinsi palig Barat Indonesia ini juga tak kalah mempesona. Mulai dari pantai, ombak, taman laut, danau, hingga pegunungan. Belum lagi wisata kulinernya yang kaya akan rempah-rempah. Mie Aceh adalah termasuk makanan favorit saya. Karena belum ke Aceh, jadi makan mie Acehnya masih di Palembang tapi yang memasaknya orang Aceh lho!

2. Daerah Istimewa Yogyakarta

"Pulang ke kotamu
Ada setangkup haru dalam rindu
Masih seperti dulu
Tiap sudut menyapaku bersahabat, penuh selaksa makna
Terhanyut aku akan nostalgi
Saat kita sering luangkan waktu
Nikmati bersama
Suasana Jogja
Di persimpangan langkahku terhenti
Ramai kaki lima
Menjajakan sajian khas berselera
Orang duduk bersila
Musisi jalanan mulai beraksi
Seiring laraku kehilanganmu
Merintih sendiri
Ditelan deru kotamu ...
Walau kini kau t'lah tiada tak kembali
Namun kotamu hadirkan senyummu abadi
Ijinkanlah aku untuk s'lalu pulang lagi
Bila hati mulai sepi tanpa terobati"

Pernah mendengar atau tahu lagu tersebut?
Lagu Yogyakarta dari Kla Project yang sangat terkenal di tahun 90-an. Dan lagu ini sukses membuat saya yang ketika itu masih SD penasaran dengan kota Yogyakarta.

Kesan asri, alami dan penuh tata krama adalah hipnotis yang membuat saya ingin merasai langsung kota ini.

Ditambah lagi sejarah tentang kedigdayaan keraton kesultanan Yogyakarta yang begitu nasionalis sekaligus religius.

Salah satu yang ingin saya saksikan jika nanti ke Yogya adalah prosesi acara yang diadakan oleh keraton. Nilai filosofis pada setiap prosesi membawa banyak perenungan hidup. Karakter khas Yogya yang semoga saja tidak tergerus modernisasi kebablasan.

Berburu kuliner tentu saja tidak terlewatkan. Sudah bisa dibayangkan betapa bertolak belakang selera menu antara Aceh dan Yogya. Tapi justru itulah menunjukkan betapa kayanya bangsa ini. Jadi makin cinta Indoesia.

Entah kapan dapat mengjnjungi dua kota terswbut. Namun saya percaya, impian ini akan terwujud. Bersama keluarga tercinta, saya akan menyusuri tiap jengkal keindaan alam kota istimewa.

Kalau kalian bercita-cita berwisata kemana?
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

RUMAH BACA AL-GHAZI

RUMAH BACA AL-GHAZI