Rabu, 28 November 2018

Tentang Semua Kenangan di Palembang

Apa yang kalian ingat ketika mendengar nama kota Palembang?
Sungai Musi, kerajaan Sriwijaya, pempek, atau jembatan Ampera. Sebagai kota tua, Palembang memang menyimpan banyak sejarah. Dari masa kerajaan, masa kolonial, masa penjajahan, masa kemerdekaan hingga saat ini di era milenial.

Palembang sendiri awalnya merupakan wilayah luas mengikuti aliran sungai Batang hari sembilan. Sebagaimana asal kata Pa artinya tempat dan lembang dataran rendah yang tergenang air. Seusai masa kemerdekaan, Palembang dijadikan ibu kota provinsi Sumatera Selatan dengan batasan wilayah tertentu.

Meski tidak lahir di Palembang, namun sejak kecil hingga sebelum menikah saya tinggal di Palembang. Keinginan untuk memperbaiki kehidupan keluarga adalah alasan utama orang tua saya hijrah ke kota ini.

Sebelumnya, kami tinggal di Tanjung Enim. Sebuah daerah yang hampir seluruh tanahnya mengandung batubara.

Sebagai ibu kota provinsi tentu saja Palembang berkembang dengan pesat. Gedung, sarana publik, tempat hiburan, dan bermacam pembangunan seolah berlomba hadir memenuhi kepadatan Palembang.

Bahkan pasar malam yang menjadi hiburan murah meriah bagi rakyat harus rela gulung tikar. Sementara lokasinya dirancang membangun mall serba ada. Padahal saya termasuk sebagian dari anak-anak kecil yang menikmati hiburan pasar malam tersebut. Tidak semahal permainan di mall, hanya kuda-kudaan putar dengan tiket lima ratus rupiah.

Ruang hiburan yang merakyat lainnya adalah bioskop. Jangan bayangkan bioskop empat dimensi dengan bermacam fasilitas memanjakan lainnya. Ini hanya bioskop masyarakat kelas bawah. Film yang diputar pun adalah film-film produksi dalam negeri. Saya tidak ingat berapa harga tiket masuknya. Namun bisa dipastikan tidak mahal.

Sekali waktu Paman mengajak anak-anaknya beserta para keponakan termasuk saya menonton bioskop tersebut. Ketika itu mungkin saya sekitar kelas 3 SD. Si Pahit Lidah demikian judul film yang belakangan saya sadari bahwa itu merupakan salah satu tokoh legenda di Palembang. Karena masih anak-anak, saya tidak terlalu mengikuti jalan cerita film. Hanya saja, saya merasa sangat bahagia sebab pengalaman baru menonton di layar yang berkali lipat lebih lebar dari layar televisi. Sayang, bioskop kumuh ini turut tergusur oleh pembangunan hotel berbintang.

Wajah kota ini sudah sangat berbeda. Pada sepuluh tahun terakhir seolah semua disulap menjadi gemerlap. Sebuah kemajuan memang. Tapi tak dapat dipungkiri, ada rasa rindu menyeruak akan Palembang yang dulu.

Saat pohon-pohon besar masih memagari kiri-kanan jala menuju gedung sekolah. Saat angkot pinggiran yang pada beberapa bagian telah reot menanti penumpang dengan antian. Saat pasar tradisional menjadi hiburan tak terkira meski dengan becek dan keriuhannya. Saat jalanan masih sempat terasa lengang di pagi hari, memberi kesempatan jogging bagi para remaja dan manula. Bahkan saat harga pempek masih didapat tiga buah seribu rupiah.

Saya tidak sedang bermimpi. Hanya saja memutar kenangan 22 tahun saya menetap di kota ini. Kota Palembang tempat banyak keinginan yang berani saya torehkan. Dan kini tersimpan dalam kotak masa lalu.

Share:

0 komentar:

Posting Komentar

RUMAH BACA AL-GHAZI

RUMAH BACA AL-GHAZI