Senin, 05 November 2018

Menyusui itu Seksi, Bisa Cegah Stunting Sejak Dini

Sudah pernah dengar istilah stunting?
Bagi masyarakat yang tinggal di kota atau memiliki akses informasi kesehatan yang baik, boleh jadi tidak asing dengan istilah stunting. Tapi bagaimana dengan masyarakat yang tinggal di desa?

Saya sendiri baru mengetahui istilah stunting  setelah mempunyai tiga orang anak . Terdengar sangat terlambat. Tetapi keterlambatan tersebut justru membuat saya yang jauh dari pusat kota semangat untuk mengetahui lebih banyak lagi tentang pola hidup sehat.
Bayi 0 - 6 bulan ASI eksklusif

Dari hasil membaca berbagai artikel, bertemulah saya dengan istilah stunting.  Sebuah kondisi ganguan perkembangan fisik pada anak yang disebabkan kurangnya asupan gizi. Gizi buruk pada anak-anak mengakibatkan banyak aspek  perkembangan terganggu seperti tinggi badan, perkembangan otak, motorik halus, serta motorik kasar. Stunting menjadi berbahaya karena pada fase anak-anak adalah masa emas tumbuh kembang.

Jika saja stunting terkena pada satu anak, mungkin hanya akan berdampak pada diri dan keluarga tersebut saja. Namun ternyata, kasus stunting cukup banyak di Indonesia. Menurut data dari kementrian kesehatan RI, tercatat 7,8 juta dari 23 juta balita atau satu dari tiga anak mengalami stunting di tahun 2018.

Ini artinya Indonesia telah mengalami darurat stunting. Bukankah masa depan suatu negara akan ditentukan oleh generasi penerusnya. Tentu saja kita tidak ingin meninggalkan generasi yang lemah yang salah satunya dikarenakan stunting.

Menyikapi hal ini, pemerintah melalui kementrian terkait seperti kementrian kesehatan dan kementrian informasi dan komunikasi mencanangkan gerakan bebas stunting. Gerakan ini hanya akan sukses manakala semua pihak ikut peduli dan mendukung. Termasuk para ibu dan keluarga yang memiliki bayi dan balita.

Meskipun stunting tidak dapat disembuhkan. Namun  dapat dilakukan pencegahan sedini mungkin. Dimulai sejak janin dalam kandungan hingga usia dua tahun atau #1000HariPertamaAnanda.

Menjaga pola makan bagi ibu hamil bukan saja akan menjaga kesehatan ibu tapi menjadi investasi kesehatan bagi janin. Memastikan standar kesehatan ibu hamil terpenuhi. Makan makanan bergizi, istirahat dan olah raga cukup, pemeriksaan kesehatan secara berkala hingga persalinan aman dibantu tenaga kesehatan. 

Setelah masa dalam kandungan, pencegahan stunting pada bayi dioptimalkan dengan pemberian ASI eksklusif hingga usia 6 bulan. MPASI sesuai anjuran pemenuhan gizi anak dan melanjutkan ASI hingga usia 2 tahun juga sangat penting. ASI merupakan nutrisi lengkap untuk tumbuh kembang bayi juga memberi perlindungan optimal dari infeksi.

Beberapa kasus yang saya temui di sekitar lingkungan tempat tinggal adalah ibu yang tidak menyusui anaknya. Banyak mitos yang berkembang di masyarakat, yang akhirnya memaklumi ibu yang tidak menyusui.  Seperti alasan air susu tidak keluar, puting kecil, bayi tidak mau menyusui, dan sebagainya. Padahal hanya butuh sedikit usaha agar payudara terbiasa memproduksi ASI.
Suasana Posyandu

Ketika silaturahmi dengan tetangga yang baru melahirkan, saya suka cerita tentang betapa pentingya menyusui. Meyakinkan para ibu bahwa tidak ada makanan yang lebih baik selain ASI bagi bayi.

“Anak yang ASI, insyaallah daya tahan tubuhnya lebih baik. Tidak mudah sakit. Anaknya juga lebih cerdas,” kata-kata promosi saya.
Saya juga akan menceritakan bagaimana awal-awal menyusui anak pertama. Ada perasaan gugup, malu, cemas bahkan takut. Namun karena selalu memotivasi diri akhirnya produksi ASI menjadi lancar. Aktifitas menyusui juga jadi menyenangkan. Butuh dukungan keluarga, khusunya suami agar para ibu percaya diri untuk menyusui. 

Saya selalu yakin bahwa Allah, Sang Pencipta adalah Dzat yang Maha Baik. Secara umum setiap bayi yang lahir sudah ada rezekinya termasuk ketersediaan ASI. Kalaupun bukan dari ibu kandung, semisal ada kendala tertentu (dan ini kasusnya tidak banyak) akan ada ganti ASI bagi si anak. Itu yang saya alami.

Saya merupakan ibu susuan dari anak adik ipar. Saat usia bayinya 6 hari, adik ipar saya qodratullah meninggal. Sebelumnya, almarhum pernah berpesan pada sang suami untuk tetap mengusahakan ASI untuk bayinya. Kebetulan saya yang masih memberi ASI eksklusif pada anak ketiga. Maka saya mendapat amanah menyusui dua bayi laki-laki sekaligus.

Awalnya ada rasa cemas, apakah ASI saya mencukupi untuk keduanya. Namun berbekal keyakinan, selalu meminta pertolongan Allah dan tentu saja ikhtiar maksimal maka hingga kini kedua ‘bayi kembar’ itu sudah mulai MPASI, tidak ada kendala apapun.

Selain itu, saya juga terbiasa datang ke Posyandu. Seperti yang ibu saya lakukan terhadap saya dahulu. Bahkan saya punya kenangan indah di masa kecil. Selain sangat senang naik timbangan yang sama nikmatnya seperti naik ayunan. Seusai ditimbang, anak-anak akan diberi bubur. Dengan langkah cepat saya ikut berbaris antri untuk mendapat jatah satu mangkok bubur kacang hijau.

Kini, saya selalu menyempatkan waktu setiap tanggal 5 di tiap bulan untuk datang ke Posyandu. Sayangnya, Posyandu di desa kami belum optimal digunakan sebagai bagian dari media penyuluhun kesehatan termasuk bahaya stunting.  Posyandu masih terbatas sekadar menimbang bayi dan pemberian imunisasi.

Tetapi saya optimis, dengan banyaknya upaya pemerintah memberi pemahaman pola hidup sehat dan bersih kepada masyarakat, akan ada hasil yang lebih baik. Termasuk upaya saya berpartisipasi mengikuti Kampaye #1000HariTerbaik.

Boleh jadi saya hanya ibu rumah tangga yang tinggal di desa. Tapi untuk urusan menjaga kesehatan anak dan keluarga saya akan berjuang memberi yang terbaik.
Anak sehat bebas stunting

Mari para ibu, berjuang  untuk tetap memberi  ASI pada Si Kecil sebab #1000HariPertamaAnanda sangat berharga. Ingat ya menyusui itu seksi, bisa mencegah stunting sejak dini.
.
.
#1000HariTerbaik #1000HariPertamaAnanda #KawanGNFI #KompetisiMenulis







Share:

1 komentar:

  1. mantap. artikel keren. menambah wawasan baru. trimakasih mb umi

    BalasHapus

RUMAH BACA AL-GHAZI

RUMAH BACA AL-GHAZI