Minggu, 25 November 2018

Lima Fakta tentang Saya di Ranah Kepenulisan

Saat Tsanawiyah, saya mulai sesekali menulis kalimat-kalimat indah. Semacam quote atau puisi. Saya juga sangat senang menulis surat kepada teman-teman.

Di zaman saya sekolah, tengah ngetrend buku diary. Buku ini biasanya digilir tiap orang untuk mengisinya. Rata-rata teman saya hanya  mengisi biodata secara formal. Nama, alamat, tanggal lahir, zodiak hingga makanan dan minuman favorit ditambah kata mutiara.

Nah kalau saya sudah bereksperimen dengan membuat biodata dalam bentuk narasi. Tiap buku diary teman, bentuk narasinya berbeda-beda meskipun intinya tetap menceritakan biodata saya.

Proses menulis saya kian terasah saat di Aliyah. Saya diberi kesempatan untuk mewakili sekolah mengikuti seleksi wartawan pelajar di salah satu koran. Dan rezekinya, saya terpilih. Waktu dua tahun bergabung sebagai wartawan pelajar benar-benar membuat saya berani menulis secara serius dan mempublikasikannya.

Rentang waktu belasan tahun di dunia kepenulisan, membuat banyak hal yang saya alami. Suka duka sebagai penulis yang memulai semunya dari nol cukup saya rasakan.

Dari perjalanan yang belum bisa dikatakan panjang ini, ada beberapa fakta tentang saya. Berikut kelima fakta tentang saya di ranah kepenulisan.

Pertama, banyak ikut organisasi tapi semua bermuara di tulis-menulis. Saya suka berorganisasi. Bahkan sejak Ibtidaiyah. Bagi saya, organisasi selalu memberikan pengalaman dan wawasan baru yang belum tentu ada di kelas.

Mulai dari Pramuka, Karakte, Rohis, OSIS, KIR, sampai oeganisasi di luar sekolah. Namun apapun organisasinya, saya tetap di posisi tulis-menulis semisal sekretaris, humas maupun publikasi.

Kedua, hanya menulis tanpa kesibukan lain. Suara musik atau sembari makan cemilan, itu sudah cukup menganggu konsentrasi saya menulis. Apalagi jika seraya membuka pesan WA atau mengamati akun sosmed, dijamin tidak akan selesai menulisnya.

Untuk itu saya bisa bermalam-malam menulis karena di waktu malam relatif bebas gangguan.

Ketiga, berkali-kali kehilangan naskah buku. Ini kelemahan saya yang berakibat fatal. Saya termasuk yang tidak rapi dalam hal pengarsipan karya. Baik karya yang masih berupa ide, karya yang sedang digarap, karya yang harus diperbaiki pun karya yang sudah terpublikasikan.

Lebih banyak karya yang terserak dimana-mana dibanding yang terarsip rapi. Dan ketika komputer saya rusak, hilanglah semua karya saya termasuk beberapa naskah buku.

Keempat, malu memberitahu ketika ikut lomba menulis. Entah sudah berapa banyak lomba menulis yang saya ikuti. Banyak yang menang tapi lebih banyak yang belum menang.

Karena alasan malu, saya kerap tidak menceritakan ke teman-teman jika sedang mengikuti lomba. Padahal boleh jadi mereka akan mendoakan kemenangan bagi saya.

Kelima, pernah menulis sambil menangis tiada henti. Ini yang terjadi saat saya menulis essay tentang Bapak. Begitu terbawa emosi, sampai-sampai saya harus menghentikan dulu mengetik untuk meredakan tangis.

Cukup lama sampai akhirnyà tangis saya reda dan kembali melanjutkan tulisan. Menulis dengan hati menjadikan saya bahagia.

Nah demikian lima fakta tentang saya. Tidak mudah untuk  bertahan di dunia kepenulisan. Tapi bukan mustahil jika mau terus berproses menjadi lebih baik.

Jadi adakah fakta di atas juga dialami teman-teman? 
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

RUMAH BACA AL-GHAZI

RUMAH BACA AL-GHAZI