Selasa, 27 November 2018

Lima Barang Penghuni Tas Tujuh Tahun Lalu

Sepertinya saya termasuk orang yang kemana-mana harus membawa tas. Bedanya hanya isi dan banyaknya muatan saat belum punya anak dengan setelah punya  anak. Tentu saja saat setelah punya anak barang-barang yang dibawa lebih banyak. 

Tetapi dari dulu, saya sukanya memang tas dengan kapasitas cukup besar. Baik model tas ransel maupun tas gendong.

Kalau harus menulis dengan tema lima barang yang selalu ada di tas, saya harus berpikir sejenak. Setidaknya mengingat mundur minimal tujuh tahun lalu sebelum menikah.

Dan dari sederet barang yang biasa memenuhi tas, inilah lima barang yanh dipastikan selalu ada.

1. Kartu identitas

Ini wajib ada. Dan saya terbiasa meletakkan semua kartu atas nama saya dalam satu tas yang sama. Mulai dari KTP, kartu mahasiswa, kartu perpustakaan (ada empat perpus), kartu berobat (dari puskesmas maupun klinik), kartu pemilih, kartu golongan darah, kartu berbagai organisasi, kartu permainan games, dan sejenisnya. Bisa dibayangkan cukup mengambil tempat di tas untuk semua kartu tersebut.

2. Gawai

Gawai zaman old belum secanggih saat ini. Gawai yang saya pakai ketika itu sudah sangat mencukupi kebutuhan komunikasi dengan telpon atau sms. Untuk kepentingan jaringan internet masih setia lesehan dari satu rental ke rental lainnya.

Meski tidak segawat sekarang, tertinggl gawai cukup membuat panik. Jadi sebisa mungkin gawai selalu menemani saat saya berpergian.

3. Botol air minum

Alasan idealnya tentu saja untuk menjaga kesehatan. Kekurangan minum air putih sering membuat saya sakit tenggorokan dan itu sangat tidak menyenangkan. Sebelum merasa haus, dengan botol air minum di tas, saya bisa minum kapan saja dan dimana saja.

Ada juga alasan lain dengan membawa botol air minum di tas yakni hemat dan mengurangi limbah plastik. Jika dalam sehari misalnya saya menghabiskan dua botol air mineral ukuran 500 ml seharga Rp. 4.000,- maka sudah hemat Rp. 120.000,- perbulan dan mengurangi limbah plastik 60 botol.

4. Sapu tangan

Ini adalah barang yang selalu ada di tas sekaligus selalu sering hilang tercecer. Sapu tangan yang saya gunakan adalah berbahan seperti handuk. Sehingga dapat menyerap keringat lebih cepat.

Sama halnya dengan botol air minum, sapu tangan saya gunakan dengan alasan penghematan uang dan peduli lingkungan. Dengan membatasi penggunaan tisu akan ada pengurangan pemakaian kertas. Secara global dapat mengurangi penebangan kayu agar terjaga keseimbangan alam.

5. Buku catatan dan pena

Gunanya bisa apa saja. Mencatat hasil rapat, mencatat materi kegiatan, sekedar coret-coret, atau juga menandai ide yang tiba-tiba muncul. Bahkan saya memiliki buku catatan yang disampulnya dihiasi nama saya hadiah seorang teman. Senasib dengan sapu tangan, pena juga barang yang paling sering hilang karena tercecer.

Demikian hasil jejak ingatan tentang barang yang selalu ada di tas, dulu. Namun untuk saat ini beberapa barang tidak lagi selalu  ada di tas saya. Sapu tangan dan buku catatan.

Kalau buku catatan fungsinya sudah beralih ke catatan di gawai. Lebih aman dari perampokan buku oleh anak-anak. Sementara sapu tangan tidak saya bawa karena sudah harus membawa tisu basah dan tisu kering milik anak-anak.

Begitulah kini tas saya yang kian menggelembung. Bukan hanya barang saya tapi juga keperluan keempat anak yang juga menjadi tanggung jawab saya mempersiapkannya tiap akan keluar rumah.

Kalau kalian, masih tetap samakah barang-barang di tas? 
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

RUMAH BACA AL-GHAZI

RUMAH BACA AL-GHAZI