Sabtu, 24 November 2018

Bersosial Media; Dari Terpaksa Hingga Terbiasa

Seusai membaca sebuah pengumuman lomba menulis, saya bingung. Di salah satu persyaratan lomba adalah mengikuti fanpage panitia lomba.
"Fanpage itu apa ya?" gumam saya sambi membaca ulang dan memahami tiap poin syarat dan ketentuan lomba tersebut.

"Jadi mbak harus punya facebook dulu baru bisa mengikuti fanpage," jelas adik tingat.
"Ya udah tolong buatin facebook. Mbak gak ngerti."

Begitulah akhirnya saya punya facebook (fb) di tahun 2009. Saya tidak terlalu ingat lomba menulis apa dan apakah saya menang atau tidak. Pastinya akun fb inilah yang sampai hari ini saya pakai. Dengan nama dan foto asli. Bukan nama samaran atau foto ilustrasi.

Saya tidak punya jadwal tetap atau rutin membuat status fb. Sesuai dengan kepentingan saja. Misalnya publikasi karya, informasi kegiatan organisasi atau review acara yang saya ikuti.

Selain fb, saya juga memanfaatkan instagram (ig). Baru sekitar dua tahun terakhir dan itupun dibuatkan oleh suami. Awalnya sekadar iseng nanya ke suami, "Bang, orang buat ig itu buat apa sich?"
"Ya tergantung. Sama kayak fb," jawabnya dengan langsung beralih memandang saya. "Sekedar seneng-seneng, ada yang jualan, ada yang sok seleb."

"Buatin aku ig ya...," pinta saya akhirnya. Dan isi foto ig saya dimulai dari lomba foto keluarga. Senasib dengan fb, terpaksa membuat akun untuk mengikuti lomba.

Makin ke sini, saya makin sadar diri tentang bersosial media. Dengan seabreg urusan rumah tangga ditambah mengurus empat anak, saya tidak cukup waktu jika selalu memantau medsos.

Media soial saya maksimalkan untuk promosi karya baik yang dimuat di media cetak, media daring, blog maupun catatan singkat.

Porsi kedua bersosial media adalah menjaga silaturahim dengan teman. Berita pernikahan, kelahiran, pindah rumah, tempat kerja baru, meninggal dunia,  dan sejenisnya akan menghiasi beranda fb. Memberi like dan menyampaikan doa kebaikan sebagai tanda ikut berbahagia atau belasungkawa pada teman yang tidak semua dapat saya temui langsung.

Selebihnya selintas saja mengamati perkembangan dunia lewat fb. Semua hal yang menjadi tranding topik pasti ada beranda teman fb saya yang mayoritas emak-emak.

Meski banyak akun media sosial, sementara saya hanya menggunakan facebook dan instagram. Belum berminat menambah akun karena keterbatasan waktu.

Dengan memaksimalkan keduanya untuk mendukung aktifitas ngeblog, saya pikir sudah cukup. Terpenting adalah membuat teman fb dan follower ig merasa bermanfaat dengan membaca status dan postingan saya. Dan untuk itu perlu belajar lagi dan lagi.

Share:

0 komentar:

Posting Komentar

RUMAH BACA AL-GHAZI

RUMAH BACA AL-GHAZI