Jumat, 26 Oktober 2018

Proses Kreatif Menulis ala IRT

Saat berkumpul dengan teman-teman, saya suka ditanya, "gimana sich caranya nulis?" Biasanya itu hanya pertanyaan basa-basi. Saya bilang demikian karena tidak ada tindak lanjut atas pertanyaan tersebut.

Maka saya jawab saja dengan santai, "ambil kertas, ambil pena, nulis. Selesai." Dan mereka akan tersenyum selintas dan melanjutkan obrolan lainnya.

Tapi jika yang bertanya adalah teman-teman di komunitas kepenulisan tentu saja jawabannya tidak sesederhana itu. Saya juga terus mencari jawaban tentang proses kreatif menulis. Baik dari pengalaman para penulis besar pada buku-buku kepenulisan maupun hasil diskusi dengan banyak guru menulis.

Meski demikian, menulis adalah kerja individual. Artinya tiap orang punya proses kreatif yang tidak selalu sama. Nah, berikut serba-serbi proses kreatif saya ketika melahirkan karya.

Pertama, menggambar ide di pikiran. Ketika saya punya niat untuk menulis, saya akan mulai berpikir konsep tulisannya, kerangka tulisan juga sudut pandang terhadap tema tulisan. Bagi saya, bagian ini yang paling sulit. Karena saya harus memastikan gagasan tulisan tersebut orisinil, cerdas dan memberi solusi.

Kedua, saya siap menulis. Maksudnya menentukan jadwal menulis. Semisal ketika malam saat semua urusan kerumahtanggaan selesai. Lakukan persiapan agar jadwal menulis tidak terganggu. Jangan sampai ketika menulis, rasa lapar mendera, tentu saja hal ini akan mengurangi konsentrasi. Atau bermacam kemungkinan lain. Antisipasi maksimal hal-hal yang dapat mengganggu aktifitas menulis.

Saya termasuk tipe orang yang tidak bisa melakukan aktifitas selingan selama menulis. Tidak ada cemilan, suara musik, membaca pesan whatsapp atau lainnya. Saya hanya akan menulis dan sesekali membaca ulang referensi.

Ketiga, yakinkan diri memahami kondisi. Salah satu anjuran dalam menulis yakni tulislah apa yang paling kamu senangi dan tulislah apa yang paling kamu kuasai. Tujuannya agar tulisan yang dihasilkan 'bernyawa'. Tidak hanya menumpuk sejumlah hasil penelitian, pendapat orang atau laporan data tapi ada sentuhan rasa karena memang mengalaminya.

Apakah tidak bisa atau tidak boleh menulis sesuatu yang bukan bidang keahlian? Bisa saja dan boleh tetapi mungkin kualitas tulisannya tidak sebaik tulisan dengan tema yang dikuasai. Bahkan untuk media tertentu, kualifikasi penulis menentukan dimuat atau tidaknya sebuah tulisan.

Saya tidak pernah menulis tentang persepakbolaan meskipun misalnya tengah demam piala dunia. Alasannya sederhana, saya tidak suka menonton pertandingan bola. Kalaupun saya menulis tentang sepak bola, sudut pandangnya sebagai ibu rumah tangga atau pendidik PAUD bukan sebagai penikmat bola.

Keempat, meski berkompeten tetap butuh referensi. Diantara ketelitian penulis adalah mengecek ulang kebenaran isi tulisan. Dilarang malas membuka kembali sumber rujukan agar apa yang ditulis tidak hanya berdasarkan ingatan penulis apalagi sekadar 'perasaan.'

Penulis yang baik adalah pembaca yang baik. Dan hanya penulis yang gemar membaca yang dapat menghasilkan karya berkelas. Beberapa buku pedoman kepenulisan wajib dimiliki penulis seperti kamus bahasa serta buku sesuai bidang keahlian.

Kelima, mulailah menulis dan harus diselesaikan. Tulislah semua gambaran ide dalam selembar kertas atau layar komputer. Biarkan ide tersebut mengalir, berwujud dalam deretan kalimat. Tidak perlu risau dengan paragraf yang belum ada ketersambungan. Atau pembahasan dan konflik berkembang jauh dari ide awal. Nikmati proses tarian lincah jari-jari menggoreskan kata.

Keenam, saatnya membaca dengan seksama. Saya adalah editor pertama atas tulisan saya. Bongkar-pasang kata, kalimat, paragraf adalah hal biasa. Ada kalanya lahir ide tulisan lain dalam tulisan yang tengah dikerjakan. Bahkan saya pernah mengalami harus mengganti ide awal karena ternyata tulisan yang ada tidak sesuai.

Singkirkan rasa lelah bila menginginkan tulisan yang baik. Dan mulailah kembali menulis setelah menemukan berbagai kesalahan dan ketidaksesuaian pada tulisan.

Ketujuh, boleh meminta bantuan teman guna mengecek tulisan. Karena berulang kali membaca tulisan sendiri, terkadang lalai melihat kesalahan ketik, ejaan, sapaan dan sejenisnya. Orang yang baru membaca tulisan tersebut biasanya akan lebih teliti. Tentu saja akan lebih baik teman yang dimintai tolong adalah orang yang paham penggunaan bahasa Indonesia atau terbiasa menulis.

Kedelapan, saatnya melepaskan karya. Baik karya yang dipublikasikan sendiri, dikirim ke media, atau diikutkan kompetisi, saya senantiasa berupaya memberikan tulisan terbaik. Prinsip saya diantara ciri tulisan berhasil adalah penulisnya merasa puas dengan karyanya. Artinya bukan hanya ditulis sambil lalu.

“Masih sempat nulis?” Itu pertanyaan lain yang belakangan sering menyapa saya.
“Disempatkan,” ujar saya yang sejujurnya harus berjuang lebih berat untuk tetap bisa menulis. Kerepotan mengurus dua balita dan dua bayi. Juga mengajar di TK saat pagi hari serta TPA di sore hari sangat menyita waktu, tenaga dan emosi.

Menulis adalah bagian hidup saya. Termasuk terapi saya agar tetap bahagia menjadi ibu rumah tangga adalah alasan terkuat saya tetap menjalani aktifitas ini. Dan semoga saja, satu-dua tulisan saya ada yang menjadi perantara kebaikan bagi pembaca.

Meskipun saat ini tulisan saya belum seberkualitas para penulis dunia, namun saya bahagia dengan semua karya saya. Baik yang mendapat apresiasi, mendapat kritikan, diabaikan atau bahkan dilupakan orang. Sebuah kebahagiaan yang hanya dirasakan oleh mereka yang mau berlelah menjalani tiap proses menjadi penulis.
***


Share:

0 komentar:

Posting Komentar

RUMAH BACA AL-GHAZI

RUMAH BACA AL-GHAZI