Minggu, 30 September 2018

Kelucuanmu Menjaga Kewarasanku

"Kembar ya? Kok bisa?"
"Punya bayi lagi?"
"Itu anakmu juga?"
"Rasanya baru lahiran beberapa bulan lalu."
Azzam & Salim; kembar beda usia

Saya hanya tersenyum kecil membaca komentar di akun facebook. Sebagian besar penasaran dengan kedua bayi yang saya gendong di foto. Saya selalu menjawab tiap komentar. Tapi sengaja tidak menjelaskan cerita sebenarnya.

Beberapa teman yang sangat penasaran, menghubungi saya lewat pesan WA atau inbox. Sudah seperti artis, saya dikejar untuk memberikan klarifikasi mengenai foto saya di fb.

"Nak, jangan sedih. Ada bunda di sini," kata yang telah berkali-kali terucap saat saya menatap bayi berusia enam hari tersebut. Masih terngiang kalimat suami saat ditelpon beberapa jam lalu.
"Tolong siapkan tempat." Ada jeda beberapa detik sebelum akhirnya kalimat selanjutnya terucap. "Sari sudah menginggal."

Hidup dan mati ketentuan Tuhan. Namun terkadang butuh ruang untuk menerima kenyataan. Di sepertiga malam itu, satu dari anggota keluarga kami telah pergi. Takdir pernikahan adik ipar saya tak lebih dari dua belas purnama.

"Yuk, pesan Sari, dia ikhlas kalau Salim disusui, ayuk," kata lelaki itu nyaris tak terdengar. Meski ia menyembunyikan tangis, saya tahu ada gelombang air mata yang menggantung. Adzan subuh baru saja berlalu dan rumah ini telah riuh oleh lafadz zikir dan do'a.

Selepas tahlilan malam ketiga, Salim kami bawa pulang. Ya, pulang. Karena ia kini bagian dari keluarga kami. Ada tiga kakak yang siap menemaninya. Salim hanya berselisih usia 4 bulan dengan Azzam, putra bungsu saya. Jadilah mereka bayi kembar beda usia.

"Kita semua harus kuat," ujar bapak mertua. Ia sangat memahami kondisi psikologis anggota keluarganya. Termasuk saya yang akan mengasuh bayi kembar. Bersyukur, tiap sore ibu mertua akan datang ke rumah untuk membantu menjaga anak-anak.

Pagi hari saya masih harus mengajar TK yang kami dirikan bersama. Meski ada gurunya, saya tetap memantau dan sesekali ikut berada di kelas. Siang dan sore ada anak-anak belajar mengaji semacam TPA. Disela mengasuh anak dan mengajar itulah saya sempatkan mengurus rumah seadanya.

Sungguh, saya dan suami tidak membedakan apapun. Salim adalah anak kami. Air susu saya mengalir dalam darahnya, menjadi daging dan tulang di tubuhnya. Namun ada kondisi yang membuat saya dilema. Saat kedua bayi tersebut segera ingin menyusu dalam waktu bersamaan. Menyusui Salim dan membiarkan Azzam menangis. Tak lama, berbalik menyusui Azzam namun Salim menangis karena belum puas menyusu.

Pernah saya atasi dengan memompa ASI namun cara tersebut tidak berhasil. Belum usai saya memompa ASI, kedua kakaknya telah lebih dulu meminum hasil perahan tersebut. Akhirnya pendekatan hati yang saya lakukan. "Nak, sabar ya. Nyusunya gantian" kata-kata semacam itu yang saya bisikkan ke telinga kedua bayi.

Dengan semua kerepotan mengurus dua balita dan dua bayi, saya selalu percaya ada keberkahan atas kondisi ini. Banyak pasangan yang telah menikah belasan bahkan puluhan tahun namun belum memiliki anak. Jadi bersyukur saja. Begitu juga dengan kehadiran Salim. Saya sangat berbahagia. Ini momen terbaik saya di tahun 2018. Tanpa perlu mengalami proses panjang kehamilan serta menikmati  rasa sakit saat melahirkan, tetapi bisa memiliki anak.

Di group WA  keluarga, saya suka mengirim foto kelucuan dan tingkah Salim. Lewat foto-foto itu  saya ingin menyampaikan pesan,  jangan khawatirkan saya. Saya baik-baik saja. Saya tetap waras mengasuh kedua bayi ini. Dan lihatlah, betapa Salim tubuh dengan sehat dan menggemaskan.
Salim di usianya kini 5 bulan 

Selalu ada haru meruap-ruap di hati saat melihat keempat anak saya bermain bersama. Atau sang kakak dengan caranya membuat Salim tergelak tertawa. Kenangan yang kelak akan saya ceritakan pada mereka saat telah dewasa. Untuk semua momen indah tersebut,  ada kamera handphone yang selalu siap mengabadikannya.

Menggunakan kamera handphone menjadi lebih praktis karena foto yang diambil alami dan spontanitas. Makanya saya punya impian memiliki handphone dengan desaint yang keren dan kamera yang diperkuat AI. Bagi saya foto koleksi pribadi harus sama berkualitasnya dengan foto untuk konsumsi publik.

Nah kebutuhan tersebut harus disupport juga dengan handphone yang punya GPU Turbo untuk kemampuan gaming serta storage 128 GB paling besar di kelas smartphone mide in saat ini. Spesifikasi tersebut adanya di Huawei Nova 3i yang siap menghalau lelah saya setiap memandang deretan foto di galeri hape kece ini.

Jadi ibu itu berat, tidak semua orang kuat. Diantara cara saya menjaga kewarasan adalah melihat kembali tiap momen kelucuan si kecil. Saat ia baru dilahirkan. Saat dibedong. Saat mulai tidur miring. Saat belajar tengkurap. Saat tumbuh gigi pertama dan seterusnya. Inilah momen terbaik saya, menjadi tak terlupakan dengan hasil foto sempurna dari handphone Huawe Nova 3i yang istimewa.


Share:

3 komentar:

RUMAH BACA AL-GHAZI

RUMAH BACA AL-GHAZI