Minggu, 27 Mei 2018

Yok Zakat Biar Manfaat Buat Ummat

Saat saya masih kecil, usia SD, saya dan adik selalu menjadi petugas pembagi zakat fitrah. Bapak akan menulis nama seluruh anggota keluarga masing-masing di secarik kertas berbeda. Lalu, kertas tersebut akan dimasukkan pada kantong yang telah diisi beras seberat 2,5 kilogram.

"Nanti bilang, ini zakat fitrah dari kami," pesan Bapak sebelum saya pergi ke rumah para mustahik. Mereka yang menerim zakat adalah para tetangga yang kurang mampu atau orang lanjut usia. Diiringi suara takbir di malam Idul Fitri, saya mengetuk satu persatu pintu rumah.

"Oh terima kasih ya, Nak," ucap seorang janda tua yang tinggal sendirian seraya mengusap kepala saya. Ada binar kebahagiaan di matanya. Saya pikir bukan hanya karena saya memberinya zakat namun kegembiraan ada 'cucu' yang bertamu ke rumahnya.

Itulah kenangan indah saya sejak mengenal istilah zakat. Seiring waktu, dari pelajaran di sekolah, saya mulai tahu bahwa selain zakat fitrah ada pula zakat maal atau zakat harta. Termasuk di dalamnya emas atau perhiasan yang disimpan, tabungan, gaji dan beberapa macam lainnya. Tetapi zakat maal baru sebatas pengetahuan.

Semasa kuliah, saya diajak teman ke kantor sebuah lembaga zakat. Kakak-kakak di sana ternyata ramah dan dari sanalah saya banyak mendapat informasi tentang pemberdayaan dana zakat. Lembaga tersebut yang kemudian bernama Dompet Dhuafa merupakan salah satu penggagas lembaga zakat profesional di Sumatera Selatan.
#25thnMembentangKebaikan

Posisi zakat sangat penting sebagai salah satu pilar dalam membangun Islam. Lebih jauh bahwa potensi zakat sangat memungkinkan untuk meningkatkan perekonomian ummat. Saya pikir ini solusi yang Islam tawarkan untuk mengentaskan kemiskinan serta meningkatkan kesejahteraan ummat.

Dari Anas bin Mâlik Radhiyallahu anhu bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hampir saja kefakiran (kemiskinan) itu menjadi kekafiran.”

Meski beberapa riwayat menyatakan hadist ini lemah, paling tidak dapat diambil pelajarannya. Kemiskinan baik berupa materi maupun ruhiyah menjadikan seseorang lebih memungkinkan menjadi kafir. Dan diantara manfaat zakat dapat mengantisipasi hal tersebut.

Dalam Islam ada tiga hal yang wajib dipertahankan yakni diri atau kehormatan, harta serta agama. Dan ketika seseorang mati karena mempertahana salah satunya maka dianggap sebagai mati syahid.

"Siapa saja yang terbunuh karena membela agamanya maka ia syahid, siapa saja yang terbunuh karena membela jiwanya maka ia syahid,   siapa saja yang terbunuh karena membela hartanya maka ia syahid, dan siapa saja yang terbunuh karena membela kehormatan keluarganya maka ia syahid”
(HR. Abu Daus, at-Tirmidzi, an-Nasaiy, Ibnu Majah)

Namun di sisi lain, ajaran Islam sangat menganjurkan ummatnya untuk banyak-banyak bersedekah. Mengeluarkan harta untuk diinfakkan di jalan kebaikan. Bahkan zakat fitrah menjadi salah satu rukun Islam yang artinya wajib bagi setiap muslim.

"Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka” (QS at-Taubah: 103)

Di zaman khalifah Abu Bakar, penolakan membayar zakat sama artinya dengan murtad dan harus diperangi. "Demi Allah, seandainya mereka tetap menolak untuk memberikan zakat walau hanya seutas tali, aku akan bertekad memerangi mereka."

Pengelolaan zakat secara profesional sangat dibutuhkan agar manfaat zakat dapat lebih memberdayakan. Diantara program Dompet Dhuafa yakni di bidang kesehatan, pendidikan, ekonomi  dan sosial.

Cukup banyak teman saya membuka usaha sendiri yang ternyata binaan dari Dompet Dhuafa. Mereka tidak hanya diberi bantuan dana tetapi juga peningkatan keahlian serta pendampingan usaha. Harapannya tentu saja para mustahik kelak akan menjadi muzakki manakala usahanya berkembang dengan baik.
Program Dompet Dhuafa

Beberapa bulan lalu saya diundang Dompet Dhuafa Sumatera Selatan  untuk mengisi materi pada acara beasiswa insan Mulia (BIM)  program Literacy Class. Pesertanya adalah siswa SMA penerima BIM sekitar 50 orang. Meski dari keluarga tidak mampu ternyata semangat mereka untuk belajar dan meraih cita-cita luar biasa. Selama acara mereka menunjukkan rasa antusias yang besar.

Sungguh, dana zakat yang digunakan untuk mendanai beasiswa mereka terasa begitu bermanfaat. Saya membayangkan raut bahagia orang tua mereka saat mengetahui anak-anaknya dapat melanjutkan sekolah di tengah keterbataan ekonomi keluarga.

Dari perbincangan saya dengan salah seorang kakak damping BIM, diungkapkan bahwa selain bantuan pendidikan, mereka pun menjalani program pelatihan karakter dan mentoring keIslaman. Sehingga siswa-siswa tersebut menjadi generasi mandiri dan berkualitas.

Saya sangat yakin bila potensi zakat muslim Indonesia bisa dimaksimalkan, kesejahteraan akan dapat ditingkatkan. Dan apa yang telah dilakukan Dompet Dhuafa sangat layak diapresiasi. Semoga kedepan Dompet Dhuafa kian kokoh menjadi lembaga sosial kemanusiaan kaum dhuafa.
.
.
.
"Tulisan ini diikutsertakan dalam Kompetisi Blog Berawal Dari Zakat, #25thnmembentangkebaikan yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa. Cek info lomba di donasi.dompetdhuafa.org/lombablog"

#BerawaldariZakat
#LombaBlogBerawaldariZakat
#25thnMembentangKebaikan
#MembentangKebaikan
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

RUMAH BACA AL-GHAZI

RUMAH BACA AL-GHAZI