Sabtu, 12 Mei 2018

212 The Power of Love dan Fenomena Fatherless Country

Saat kabar tentang pembuatan film yang terinspirasi dari kejadian aksi bela Islam 212 mulai ramai di media, saya  menerka bagian mana yang akan menjadi titik ide film tersebut.

Dalam pikiran saya, pastilah akan ada kejutan dalam film tersebut. Ada begitu banyak kisah yang menyertai aksi damai yang setidaknya diikuti oleh lebih dari 7 juta umat Islam dari berbagai daerah bahkan manca negara.
Nobar 212 the movie

Rasa penasaran saya terjawab saat film 212 The Power of Love tayang perdana pada 9 Mei 2018 lalu. Kecerdasan penulis naskah mengambil salah satu kejadian yang kemudian menjadi ide utama cerita. Konflik hubungan ayah dan anak yakni antara Rahmat (diperankan Fauzi Baadilla) dengan Ki Zainal (Humaidi Abas).

Saya ingin menghubungkan konflik dalam film The Power of Love ini dengan fenomena Fatherless Country atau bangsa yang kehilangan sosok ayah. Menurut penelitian, anak yang tumbuh tanpa kehadiran ayah akan mengalami berbagai gangguan psikis. Boleh jadi ia memiliki ayah secara fisik namun sang ayah tidak menjalankan perannya dalam proses pengasuhan anak.

Kasus kenakalan remaja salah satunya disebabkan oleh ketidakhadiran ayah dalam tumbuh kembang anak. Bagi anak perempuan, sosok ayah akan menjadi cinta pertamanya dengan seseorang yang berlainan jenis. Bagi anak laki-laki, sosok ayah menjadi idola lelaki dewasa yang ia banggakan.

Dalam ajaran Islam, posisi ayah ditegaskan sebagai pendidik utama dalam keluarga. Ini bisa dilihat bagaimana Lukman mengajarkan tauhid pada anak-anaknya. Atau nabi Ibrahim membimbing Ismail menjadi anak sholeh.

Peran strategis ayah dalam pengasuhan dan pendidikan anak yang pada kemudian berdampak pada mempersiapkan generasi penerus bangsa, pada film yang disutradarai oleh Justis Arimba kembali dipertanyakan atau lebih tepat dikritisi.

Seorang ayah bertanggung jawab atas keluarga (istri dan anak keturunannya). Apa jadinya jika sang ayah dinilai oleh anaknya hanya mampu mengajak kebaikan kepada orang lain namun abai terhadap anak sendiri. Kondisi demikian yang terjadi pada hubungan Rahmat dan Ki Zainal.
Salah satu adegan 212 the movie

Konflik yang ditawarkan dengan baik dapat diselesaikan juga dengan pas. Tetap ada sisi dramatis namun masih bisa diterima secara logika cerita. Biasanya, kelemahan film bergenre religi adalah terlalu tergesa menghijrahkan tokoh antagonis. Tetapi film ini berhasil melampaui kebiasaan tersebut. Tentu saja adegan debat ayah dan anak menjadi nyawa bagi 212 The Power of Love.

Lebih luas, film sebagai bagian dari  media komunikasi memiiki dua sisi. Materi (isi) pesan serta pengemasan pesan. Dari sisi materi  pesan, 212 The Power of Love sangat pantas diapresiasi masyarakat penikmat film Indonesia. Isu kehadiran dan kedekatan ayah dengan anak adalah isu penting. Menurut penuturan Menteri Sosial, Khofifah Indar Parawansa pada peringatan Hari Keluarga bahwa Indonesia menempati posisi ketiga fatherless country. (https://m.wartaekonomi.co.id/berita149193/mensos-indonesia-ranking-3-fatherless-country-di-dunia .html)

Artinya, isu ini bukan sekadar urusan masing-masing keluarga. Tetapi jauh kedepan, ini adalah langkah nyata  membangun bangsa. Sebab hanya bangsa dengan generasi penerus yang kuat mampu menjadi bangsa hebat.

Kemudian dari sisi pengemasan pesan, film yang diwujudkan lewat donasi berbagai pihak ini sudah mampu memberikan yang terbaik dari potensi insan perfilman. Karakter pemain, pengambilan gambar, penulisan naskah, original song theme hingga ke pemasaran film adalah diantara kerja maksimal segenap kru.

Evaluasi tentu saja ada semisal strategi iklan yang harusnya lebih mengena warga netizen atau jadwal tayang yang mungkin bisa lebih 'leluasa'.

Aksi bela Islam 212 di film bukan saja dimaknai secara fenomena namun dijadikan titik balik perbaikan banyak hal internal umat Islam. Hingga lahir kesadaran bahwa ummat ini punya banyak potensi  untuk melakukan berbagai kebaikan di negeri tercinta. Sebuah kerja besar untuk cita-cita besar.
Tiket 212 the movie

Selamat untuk semua pihak yang turut berkontribusi menghadirkan film berkualitas, film 212 The Power of Love.



#review212
#putihkanbioskop
#filmberkualitas
#dukungfilmbaik

* oleh Umi Laila Sari, aktifis FLP Sumsel serta Rumah Keluarga Indonesia
Share:

3 komentar:

  1. Film ini sangat menginspirasi, Mbak. Semoga makin banyak film Indonesia yang mampu memberi manfaat, yang bukan hanya sekadar menjadi hiburan. 😊

    BalasHapus
  2. alhamdulillah tidak spoiler :D

    BalasHapus
  3. Salam kenal ya mbak, aku juga udah nonton film ini dan terharu. Makasih sharingnya mbak.

    BalasHapus

RUMAH BACA AL-GHAZI

RUMAH BACA AL-GHAZI