Sabtu, 09 Desember 2017

Kampanye GERMAS untuk Indonesia Bebas HIV AIDS

"Sebelum menikah saya mengajukan proposal dulu. Menjelaskan bahwa saya harus melakukan terapi. Sekian biayanya. Harus selalu minum obat. Sekian dananya Setiap enam bulan harus cek ke dokter. Kamu siap gak dengan kondisi tersebut?" Kira-kira begitu yang diungkapkan Ayu Oktaviani saat peserta bertanya tentang proses pernikahannya. 

Teh Ayu, aktifis IPPI (Ikatan Perempuan Positif Indonesia), tampil pada sesi testimoni ODHA acara temu blogger yang diselenggarakan oleh Kemenkes RI dalam rangka peringatan Hari AIDS Sedunia pada 4 Desember lalu di Palembang.
#SayaBerani#SayaSehat

ODHA (Orang dengan HIV AIDS) tetap bisa melakukan aktifitas sebagaimana yang lainnya. Dan tentu saja memiliki peluang yang sama untuk menunjukkan eksistensi diri dengan berkarya. Lewat IPPI, teh Ayu dan rekan-rekan berupaya untuk memberikan pendampingan dan pemberdayaan para perempuan dengan HIV AIDS.

Dalam paparan dr. Endang Budi Hastuti, Kasubdit HIV AIDS dan PIMS Direktorat PPML Kemenkes RI ditemukan kurang lebih 110 kasus HIV perhari di Indonesia. Sebuah angka yang fantastis berdasarkan laporan triwulan 1 tahun 2017 Kemenkes. Sebagian besar masyarakat masih menganggap AIDS adalah kutukan. Sehingga memperlakukan para penderitanya dengan stigma buruk. Hal tersebut disebabkan pemahaman yang belum sepenuhnya benar tentang HIV AIDS. 

HIV (Human Immunodefiency Virus) adalah virus yang menyerang kekebalan tubuh manusia.
Penyebaran virus ini sangat terbatas melalui hubungan seksual, penggunaan jarum suntik bersama, prooduk darah dan organ tubuh serta ibu hamil ke bayinya. Dengan demikian, kontak fisik biasa tidak menyebabkan HIV menyebar. Semisal menggunakan baju atau perlengkapan makan ODHA tidak menjadi sarana penularan HIV. Peluang besar seseorang terinvesi HIV adalah perilaku beresiko.

Namun, dalam beberapa kasus juga menunjukkan bahwa para ODHA adalah orang yang tidak dalam kondisi perilaku beresiko. Seperti pasangan yang tertular dari paangannya yang dulunya pernah pecandu nafsa. Namun keduanya tidak mengetahui kalau diantara mereka telah mengidap HIV. Atau bayi yang lahir dari ibu ODHA dengan ketidaktahuan sang ibu tentang kondisinya.

Artinya memang pemahaman yang benar tentang HIV AIDS harus disebarkan ke masyarakat. Tidak peduli apakah ia berilaku beresiko ataupun tidak. Peluang terinveksi bisa jadi sama untuk setiap orang. Untuk memastikan seseorang terinveksi atau tidak adalah dengan tes HIV AIDS.

Ada periode jendala antara pertama kali HIV tertular di tubuh seseorang dengan keterdeteksian virus tersebut, yakni sekitar tiga hingga dua belas minggu. Kemudian, rentang waktu antara HIV menimbulkan gejaka penyakit AIDS sekitar lima  hingga sepuluh tahun. Pada fase ini,  keberadaan seseorang yang positif HIV tidak mudah diketahui secara langsung dari sekadar tampilan fisik.

Disinilah perbedaan antara HIV dan AIDS. Ketika pengidap HIV tidak segera melakukan pengobatan maka AIDS (Aqcuired Immuno Defiency Syndrome) atau kumpulan gejala penyakit yang disebabkan oleh menurunnya kekebalan tubuh muncul setelah fase panjang HIV. Dan kondisi penderita AIDS akan semakin sulit diselamatkan.

Target kementrian kesehatan RI pada tahun 2030 adalah three zero. Tidak ada lagi orang yang terinveksi HIV AIDS. Tidak ada lagi orang yang meninggal karena HIV AIDS serta tidak ada lagi diskriminasi terhadap ODHA.
Bersama teh Ayu, ODHA tetap bisa berkarya 

Salah satu upaya mewujudkan target tersebut dengan kampanye GERMAS (Gerakan Masyarakat Hidup Sehat).  “GERMAS  mengajak semua masyarakat membiasakan pola hidup sehat,” ungkap Indra Rizon, Mkes Kepala Hubungan Media dan Lembaga Biro Komunikasi Pelayanan Masyarakat Kemenkes. Fokus Kegiatan GERMAS 2017 yakni melakukan aktifitas fisik, konsumsi sayur dan buah serta melakukan pemerikasaan kesehatan secara berkala.

Program ini sangat layak didukung oleh semua lapisan masyarakat. Karena ketika seseorang telah positif  HIV harus menjalani terapi antiretroviral dengan mengkonsumsi obat sepanjang hidupnya. Selain kurang efektif juga memerlukan biaya pengobatan yang tidak sedikit. Mempertahankan perilaku hidup sehat adalah solusi terbaik dengan tetap peduli pada ODHA.


Nah, sudah lebih banyak tahu tentang  HIV AIDS?  
Share:

5 komentar:

  1. Balasan
    1. Setahu saya tidak. Hanya saja virusnya dapat 'dikendalikan' sehingga ODHA tetap bisa beraktifitas seperti orang kebanyakan.

      Hapus
  2. Keren banget foto dengan mbak Ayu BTW Siapa sih yang motoin hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu fotografer merangkap dokter. Belum kenal ya😃

      Hapus
  3. Program GERMAS penting digalakkan utk mengubah perilaku sehat masyarakat ya..

    BalasHapus

RUMAH BACA AL-GHAZI

RUMAH BACA AL-GHAZI