Minggu, 08 Oktober 2017

Kenali dan Atasi Tujuh Kecemasan Ibu Hamil

Saat seorang istri menyadari bahwa ia tengah hamil maka beragam perasaan turut hadir. Mayoritas memang merasa bahagia dan bersyukur atas kesempatan diberi calon anak. Namun tak jarang ada perasaan cemas, takut, tidak percaya diri dan sejenisnya. Selama masih dalam batas wajar dan disikapi dengan benar, maka beragam perasaan tersebut tidak akan berpengaruh pada perkembangan janin.

Apa saja bentuk kecemasan tersebut? Berikut tujuh hal yang paling sering dialami para ibu hamil.

1. Emosi Labil
Peningkatan hormon progesteron mempengaruhi kondisi kimiawi otak yang mengatur suasana hati. Sehingga emosi ibu hamil kerap labil. Selain juga dikarenakan perubahan metabolisme tubuh yang menyertai gejala kehamilan seperti mual dan muntah.
Awal kehamilan dan menjelang melahirkan adalah masa yang lebih sering dialami ibu dengan emosi berubah secara drastis. Perlu diwaspadai agar jangan sampai keadaan demikian memicu ke arah depresi.

Cara mengatasinya dengan menciptakan suasana nyaman bagi si ibu. Mengungkapkan kegelisahan pada suami atau melakukan hobi yang menyenangkan namun tidak terlalu menguras tenaga diantara pilihan yang bisa dicoba.

2. Pantangan Jenis Makanan
Apapun yang dimakan oleh ibu hamil akan juga berpengaruh pada janin. Kebutuhan asupan tertentu juga harus diperhatikan semisal zat besi, kalsium serta vitamin. Alasan lain agar ibu hamil menjaga pola makan adalah menghindari kemungkinan penyakit bawaan ibu kambuh saat kehamilan.

Ada baiknya dikonsultasikan langsung ke tenaga kesehatan tentang jenis makanan yang boleh atau berpantang. Karena kondisi seorang ibu hamil dengan lainnya tidak sama. Bukan hanya percaya pada kebiasaan atau mitos masyarakat setempat. Ketidakpahaman mengatur pola makan ternyata sering kali membuat ibu hamil merasa cemas.

3. Lekas Lelah
Dengan kondisi janin yang terus bertumbuh tentulah menyebabkan beban badan ibu meningkat. Pergerakan tubuh kian terbatas karena beban perut. Tak heran diantara kecemasan ibu hamil disebabkan oleh fisik yang mudah sekali lelah. Sementara sejumlah aktifitas dan tanggung jawab pekerjaan harus tetap dilaksanakan.

Untuk pekerjaan domestik rumah tangga bisa diatasi dengan meminta kerjasama semua anggota keluarga guna berbagi tugas. Tidak perlu membuat target terlalu tinggi jika hal tersebut hanya akan menyusahkan ibu mencapainya. Sementara waktu lakukan saja pekerjaan yang memungkinkan dengan tetap memprioritaskan kesehatan ibu dan calon buah hati.  

4. Perubahan Bentuk Tubuh
Mungkin bagi ibu yang mengalami kehamilan yang kedua atau seterusnya, mengalami bentuk tubuh berbeda dengan sebelum hamil adalah hal biasa. Namun tidak bagi ibu yang baru pertama merasakannya. Selain di bagian perut, beberapa ibu juga mengalami perubahan di beberapa bagian tubuh seperti timbul banyak jerawat, kulit menghitam, payudara sering mengeras dan terasa nyeri, atau penipisan rambut dan alis.

Perubahan fisik tersebut sebagain besar hanya terjadi selama kehamilan. Dan kembali normal saat usai melahirkan. Untuk itu kecemasan akan bentuk tubuh yang tidak lagi ideal bisa disingkirkan dengan mensyukuri dan menikmati masa-masa kehamilan. Bukankah banyak perempuan yang begitu menginginkan kehamilan?

5. Keluhan Selama Hamil
Dalam satu tubuh tumbuh kehidupan yang baru merupakan keajaiban luar biasa. Bahkan dunia kedokteran terus meneliti berbagai kejadian unik yang terjadi pada proses kehamilan. Meski ada sejumlah kondisi fisik dan psikis yang umunya menyertai kehamilan, tetap saja setiap ibu punya pengalaman berbeda dengan ibu lainnya bahkan tiap kehamilan pun tidak sama.

Ada ibu yang sepanjang kehamilan harus istirahat total di tempat tidur. Ada pula yang menderita batuk dan demam sejak hamil hingga melahirkan. Ada ibu yang langganan tanggal gigi di setiap kehamilannya. Ada pula yang tidak bisa mengkonsumsi makanan tertentu hingga usai melahirkan. Dan beragam kasus lainnya.

Keluhan tersebut tidak menjadi kecemasan berlebihan bila si ibu mengerti penyebabnya secara benar melalui pemeriksaan dokter. Sehingga penanganan keluhan juga dapat dilakukan secara tepat.    

6. Tidak Bisa Melahirkan dengan Baik
Kecemasan lainnya adalah pertanyaan bagaimana nanti saat melahirkan. Sebagian ibu berharap bisa melahirkan dengan normal. Tetapi sebagian lain memilih cesar karena tidak tahan dengan rasa sakit saat proses persalinan. Alasan lain yakni terdapat kondisi membahayakan ibu atau janin yang menyebabkan pilihan melahirkan melalui operasi.

Jika dihadapkan pada pilihan sulit, ibu harus tetap tenang. Bagaimanapun kondisi melahirkannya, perjuangan ibu untuk anaknya tetaplah mulia. Abaikan komentar orang di sekitar tentang betapa ‘hebohnya’ ibu melahirkan. Penilaian mudah atau sulit ketika melahirkan sangat relatif dan itu pun bagian dari bentuk rezeki dari Sang Pencipta.  
  
7. Ukuran Bayi
“Sudah delapan bulan kok perutnya masih kecil.”
“Kayaknya bayinya kelebihan berat. Baru lima bulan sudah besar gitu perutnya.”

Tanggapan orang lain pada ibu hamil berpeluang menyebabkan kecemasan. Utamanya bagi ibu muda yang belum berpengalaman hamil. Tentu kita tidak bisa membatasi orang berkomentar. Namun tidak perlu menanggapi berlebihan atas beragam celetukan tersebut. Selama menurut pemeriksaan kondisi janin sehat, ibu tidak perlu risau. Dan kalaupun faktanya janin berkembang tidak sesuai dengan fase pertumbuhannya harus segera diatasi.

Selain berusaha secara ilmu pengetahuan, memohon pertolongan Allah juga sangat perlu dilakukan. Ingat, proses kehamilan adalah satu diantara bukti kekuasaan Tuhan yang bahkan diabadikan dalam Al-Qur’an. Maka jangan ragu untuk mengikhlaskan semua kecemasan ibu pada Yang Kuasa.

Manakala saat ini ibu sedang diberi anugerah kehamilan, berbahagialah!

Kalaupun belum kunjung hamil di usia pernikahan yang cukup panjang, teruslah bermohon pada Tuhan. Menikmati tiap tahap kehamilan adalah kunci memnjadikan proses istimewa ini menjadi lebih mudah dijalani. Jadi, berencana untuk hamil berapa kali, Bunda?  

Share:

0 komentar:

Posting Komentar

RUMAH BACA AL-GHAZI

RUMAH BACA AL-GHAZI