Minggu, 15 Oktober 2017

Kekhasan Literasi Generasi Z

Perkembangan tehnologi informasi yang terjadi hari ini turut membawa perubahan pada ranah sosial budaya masyarakat. Menurut Asosiasi Penyelenggara Jaringan Internet Indonesia (APJII) tercatat sepanjang tahun 2016 sebanyak 132,7 juta dari total 256,2 juta penduduk Indonesia adalah pengguna aktif internet.  Artinya Indonesia menjadi negara dengan pengguna internet cukup tinggi.  Dan mau tidak mau, sistem hidup secara perlahan beradaptasi dengan fakta tersebut.

Gelombang perubahan sangat terasa pada mereka yang terkategori generasi Z. Periode kelahiran era 95-an hingga 2010, bersamaan dengan masuknya akses internet di Indonesia. Tak heran sejak lahir mereka telah berkenalan dengan segala kecanggihan internet. Bahkan generasi Z nyaris tidak bisa hidup tanpa gengaman gadget di tangan.

“Anak muda lebih banyak membaca melalui telpon pintar ketimbang harus membawa buku-buku tebal,” ucap Mustafa Kamal, anggota DPR RI saat berbincang dengan komunitas kepenulisan di Palembang beberapa hari lalu. “Jadi bukan mereka tidak membaca,” lanjutnya, “namun akses bacaan menjadi lebih praktis dan mudah dijangkau.”

Menyikapi tentang eksistensi dunia literasi ditengah banjirnya informasi, alumni fakultas Sastra Universitas Indonesia ini mengungkapkan bahwa penggerak literasi harus mempunyai format yang sesuai dengan karakter generasi Z.  Diantara karakter tersebut adalah umumnya mereka cendrung lebih terbuka dengan beragam perbedaan, berpikir dan mengambil keputusan secara cepat. Maka yang banyak lahir adalah komunitas berdasarkan kesamaan hobi. Termasuk komunitas menulis.

Politisi yang juga pernah bekerja di majalah Islami ini mengungkapkan bahwa peralihan buku digital serta bacaan online adalah alternatif trend literasi terkini. Buku edisi cetak tetap dibutuhkan karena sifatnya lebih terdokumentasi serta mampu menjangkau daerah pelosok terpencil.  Namun untuk di kota besar peralihan dari buku konvensional ke buku digital (elektronik book) cukuf signifikan.
Begitu pula dengan aktifitas menulis. Ada banyak media online yang memberikan ruang bagi penulis. Belum lagi kemudahan bermacam aplikasi guna mempublikasikan karya.

Namun beberapa hal juga membawa dampak kurang baik pada dunia literasi. Seperti permasalahan etika penulis termasuk di dalamnya plagiat, konten porno, kebencian, menghujat dan SARA hingga masalah pajak penulis. Kesemuanya turut mewarnai kekhasan literasi generasi Z.  Banyak kasus yang terjadi di sosial media karena Ketidakdewasaan berkarya.

Sebagai perbandingan adalah karya penulis generasi Y atau X. Mereka belum tersentuh kecenggihan internet sehingga pilihan menulis adalah panggilan jiwa. Bukan sekedar mengikuti trend mencerita semua hal melalui media sosial. Hasilnya karya yang lahir oleh generasi jadul tersebut sebagian besar berisi kegelisahan atas kondisi masyarakat atau protes terhadap berbagai kebijakan penguasa.

Kendati demikian,  bukan berarti menapikan karya yang dihasilkan oleh para generasi Z.  Dengan bantuan tehnologi sebenarnya peluang menghasilkan karya fenomenal terbuka luas. Tampilan desaint, visual video, grafik, foto, hingga tautan lampiran dapat dimuat dalam satu kesatuan karya.   

Bapak dari empat  putra ini pun mengungkapkan keinginannya untuk  menuliskan berbagai pengalaman selama melakukan kunjungan di berbagai daerah dan negara.  Menurutnya banyak  pengalaman berharga yang ditemui ketika melakukan sebuah perjalanan. Dan itu bisa menginspirasi orang lain manakala dipublikasikan. Meski saat ini masih terkendala waktu, setidaknya anggota komisi X DPR RI yang membidangi pendidikan, kebudayaan, pariwisata, ekonomi kreatif, pemuda, olah raga dan perpustakaan tersebut telah menunjukkan perhatiannya terhadap dunia literasi dengan selalu membangun komunikasi dan memberi dukungan terhadap berbagai agenda terkait.


Akhirnya memang dunia literasi pada periode generasi apapaun sejatinya selalu memiliki orang-orang yang peduli terhadap peradaban. Karenanya aktifias membaca dan menulis merupaka bagian dari kebutuhan manusia. Seperti yang disematkan oleh Pramoedya Ananta Toer bahwa menulis adalah bekerja untuk keabadian.         
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

RUMAH BACA AL-GHAZI

RUMAH BACA AL-GHAZI