Senin, 23 Oktober 2017

Film Duka Sedalam Cinta, Terpesona hingga Melelehkan Air Mata

Harus di Hari Pertama

Berbeda dengan film Ketika Mas Gagah Pergi (KMGP) yang sejak beberapa minggu sebelum tayang perdana sudah ada jadwalnya di bioskop Palembang. Film Duka Sedalam Cinta (DSC) –sekuel KMGP-- hingga seminggu sebelum tayang belum ada kepastian jadwal.

Saat saya menghubungi Nurhidayati, ketua FLP Sumsel, menanyakan agenda nobar, “masih dinego, mbak. Semoga tetap bisa nobar di hari pertama,” jawabnya. Dan H-2 tayang perdana, poster nobar DSC di Palembang akhirnya tersebar di media sosial. Alhamdulillah. Berdo’a agar kondisi anak-anak sehat serta fisik saya memungkinkan ikut nobar. Di usia kehamilan 7 bulan,  saya jadi lebih sering merasa kelelahan dan sakit pinggang.
Nobar DSC hari pertama tayang bersama FLP Palembang & KOFPI

Perjalanan kami ditempuh dengan naik motor sekitar  60 menit dengan jarak 23 km menuju bioskop.  Maklumlah, rumah kami terletak di desa kabupaten yang berada di pinggiran kota Palembang.
“Empat tiket kan, mbak?” tanya koordinator nobar sembari memberikan tiket begitu melihat saya tiba. Masih dengan nafas terengah-engah karena harus naik eskalator hingga ke lantai 5 PI saya jawab, “iya, sekeluarga.”

Mas Gagah, kami datang!

Terpesona hingga Melelehkan Air Mata

Saya paling pantang ngobrol saat nonton. Satu detik saja tidak ingin melewatkan tiap adegan. Tapi ya resiko mengajak dua balita, ada saja alasan agar saya memberi perhatian sejenak pada mereka. “Nah Kak, mas Gagahnya naik speedboat. Wah lautnya bagus kan?!” diantara penjelasan saya pada bocil. Kebiasaan nonton film edukatif di rumah disertai penjelasan.

Tapi, pada beberapa kesempatan justru saya yang sengaja memalingkan muka ke arah bocil. Alasannya,  malu ketahuan suami yang duduk di sebelah kalau sampai ketahuan menangis. Ketika air mata saya siap meluncur, saya langsung menoleh ke anak. Menghapus air mata secepatnya sebelum sekedar mengelus kepala si kakak. Ha.. ha... dasar perempuan!

Bagaimanapun, ikatan persaudaraan dek manis Gita dan mas Gagah selalu membuat hati saya bergetar. Sebuah contoh tanggung jawab luar biasa saudara laki-laki pada saudara perempuannya. Sebagaimana ajaran Islam tentang hak anak perempuan terhadap muhrimnya. Dialog keduanya sukses membuat mata saya berkaca-kaca. 
“Mas janji, Mas gak akan ninggalin kamu. Mas akan selalu dekat di hatimu." Huaaah... kalau nonton sendirian dijamin ngabisin tissue sekotak.

Ironinya kondisi saat ini justru menunjukkan sebaliknya. Hubungan saudara tidaklah mesra sebagaimana hubungan keluarga jauh dari harmonis. Paling menyedihkan adalah ketika saudara laki-laki dengan teganya melakukan kekerasan fisik bahkan seksual pada saudara perempuannya, nauzubillah! Meski ini hanya kasus namun nyatanya terjadi di sekitar kita.

Oh iya selain sederet pemain yang sudah tampil di KMGP, ada dua tokoh baru di DSC yang membuat saya khususnya suami penasaran. Ustadz Salim A Fillah dan novelis Asma Nadia. Jadi saat mbak Asma tampil, suami nanya “kakaknya atau adiknya?” Maksudnya mbak Helvy atau mbak Asma. “Mirip ya,” jawab saya singkat.

Untuk latar tempat, DSC mampu menampilkan keindahan alam Indonesia. View dari atas laut menggunakan drone sungguh memanjakan mata. Seluas mata memandang, kejernihan air laut Halmahera membentang. Belum lagi saat siluet matahari memayungi bumi atau bulat rembulan menghias malam, keren banget!

Saya pikir inilah bagian dari promosi wisata yang dilakukan film karya KMGP Picture dan Studio Samuan. Tak hanya keindahan alam, keunikan kehidupan masyarakatnya pun melahirkan magnet tersendiri untuk menjelajah pulau-pulau di Indonesia. Termasuk pulau tak berpenghuni yakni pulau Widi, Halmahera Selatan, Maluku Utara. Wah, jadi makin cinta dengan negeri ini.

Endingnya, ini bagian paling dinanti. Sebab di edisi novel tidak terungkap. Film dengan judul terinspirasi kisah Nabi Ibrahim ini benar-benar duka sedalam cinta.  Duka itu senantiasa ada namun benih cinta akan selalu merekah. Penutup kisah yang tidak terpikirkan dan mengharu biru. Penasaran?  Yuk buruan nonton.

Pesan itupun sampai ke Anak-anak

Ternyata saya bukan satu-satunya bumil yang  juga rempong bawa dua bocil saat nobar. Tidak sedikit ibu yang juga menggendong bayi atau menuntun balita. Atau beberapa ibu nobar dengan mengajak anak-anak sepulang sekolah.  Karena ini film keluarga jadi aman ditonton semua usia.

Saat saya asyik mengetik review ini, dua balita sedang sibuk menggambar. Kertas digambar beraneka warna. Hingga tangan mereka pun penuh coretan.  Lalu kertas disobek-sobek dan berhamburan memenuhi lantai.

“Ayo berenang,” ujar ayahnya. Merekapun bergaya layaknya perenang seraya tangan mereka sibuk memunguti kertas.

Cemilan sembari ngetik review DSC
Suami melirik saya, “Bunda, ingat gak mereka dapat ide itu dari mana?”


“Dari nonton bioskop kemarin.”  Pesan moral menjaga kelestarian lingkungan sampai juga ke anak-anak meski  dengan versi berbeda. Saya tersenyum saat tangan-tangan kecil itu membuang sobekan kertas ke tempat sampah. 

Tak hanya satu, pesan kebaikan bertebaran di film DSC. Ibarat menu makanan, ini paket lengkap dan sehat namun tetap renyah disantap. Terima kasih kepada semua pihak yang sudah berjuang menghadirkan film menginspirasi, utamanya sang bunda Helvy Tiana Rosa.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

RUMAH BACA AL-GHAZI

RUMAH BACA AL-GHAZI