Kamis, 14 September 2017

Tips Aman Bermain di Ruang Publik Ramah Anak

Beberapa kota dan kabupaten di Indonesia telah diajukan sebagai kota layak anak. Sebagaimana amanat Undang-undang nomor 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak pada pasal 21 disebutkan dalam upaya pemenuhan hak anak maka pemerintah daerah berkewajiban dan bertanggung jawab untuk mendukung kebijakan nasional kota layak anak.

Diantara indikator kota layak anak adalah tersedianya taman bermain layak anak atau dalam istilah peraturan presiden berupa Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA). RPTRA adalah sebuah ruang terbuka hijau yang dapat dimanfaatkan bersama oleh anak-anak guna saling berinteraksi serta  mengaktualisasikan diri dengan berbagai fasilitas yang mendukung tumbuh kembang anak.

Palembang sebagai kota besar dengan populasi anak cukup tinggi patut dipertimbangkan sebagai kota layak anak.

Menurut Fanin N Nainggolan, M.Si, aktifis perempuan dan keluarga di Sumsel, untuk kota Palembang sudah diajukan draf perda kota layak anak ke DPRD pada awal tahun 2017 lalu dan mendapat respon positif. Namun berbagai kendala masih ditemui sehingga pengesahan perda masih belum ada kemajuan.

Diantara kebutuhan dasar anak-anak adalah bermain, namun padatnya pembangunan pemukiman dan bangunan lainnya menyebabkan semakin terbatas lahan terbuka untuk anak bermain. Maka keberadaan RPTRA menjadi sangat penting agar anak-anak tidak kehilangan masa kecil yang bahagia atau tergantikan dengan ketergantungan pada permainan games online.
Pemerintah kota Palembang telah berupaya membangun beberapa taman bermain anak. Satu diantaranya adalah taman publik Kampus POM IX depan TVRI. Pada setiap sore terlebih di akhir pekan, taman yang menyediakan berbagai permainan anak ini ramai dikunjungi anak-anak baik yang berdomisili di sekitar maupun dari tempat cukup jauh.

Nah, agar anak-anak tetap aman dan nyaman meski bermain bersama dengan anak yang belum dikenal, berikut tipsnya.

1. Orang tua harus selalu mengawasi anak. Mengajarkan anak bersosialisasi dengan orang baru serta bijak membantu menyelesaikan perselisihan yang mungkin terjadi. Selain itu, pengawasan orang tua diperlukan untuk mengantisipasi tindak kejahatan pada anak seperti penculikan.

2. Menceritakan pada anak tentang kondisi tempat bermain misalnya mainan apa saja yang cocok untuk usianya, apa saja resiko yang mungkin dialami, bagaimana cara bermain masing-masing permainan dengan benar.

3. Mengarahkan anak untuk menggunakan fasilitas pendukung seperti toilet, tempat istirahat, tempat membuang sampah dan sebagainya.

4. Membuat kesepakatan lama waktu bermain agar anak tidak marah ketika diminta pulang karena sedang asyik bermain.

5. Meski biasanya banyak jualan makanan di sekitar taman bermain namun belum tentu terjamin kesehatan dan kehalalannya. Jadi ada baiknya orang tua menyiapkan bekal untuk anak.

6. Sembari atau seusai bermain, orang tua tetap bisa menjadikan aktifitas tersebut bernilai pendidikan yang disesuaikan dengan tingkat usia anak. Sebagai contoh untuk anak PAUD, orang tua dapat mengajarkan warna dan jumlah mainan, ukuran maupun bentuk-bentuk. Sehingga konsep bermain sambil belajar dapat diaplikasikan.

Bagaimana, sudah pernah mencoba berakhir pekan bersama anak-anak di taman bermain? Karena selain tidak perlu membeli tiket masuk, bermain di taman terbuka tentu memberikan pengalaman yang berbeda dengan bermain di wahana permainan atau playground di mall.

Jika belum, mungkin bisa diagendakan untuk akhir pekan ini. Dan pastikan Ayah-Bunda menikmati kebersamaan dengan ananda tercinta. Salam hangat!
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

RUMAH BACA AL-GHAZI

RUMAH BACA AL-GHAZI