Jumat, 25 Agustus 2017

Orang Tua Siap Mental Dampingi Anak Digital

“Bikesss... bikesss...,” ucap seorang anak laki-laki sambil kedua tangannya memukul  temannya. Saya bengong dan lantas bertanya, “kenapa, nak?” Kondisi kelas aman tapi tiba-tiba saja ia berujar demikian.

Rekan mengajar saya langsung komentar, “itu Bunda, ngikutin gaya artis di TV.”  Saya beristigfar dan sadar kalau tidak tahu perkembangan dunia perartisan. Di rumah ternyata si sulung saya (4,5 tahun) mengulang ucapan dan gaya teman sekelasnya tadi.
   
Sejenak saya menarik nafas lalu duduk mendekatinya.  “Kak, Kakak kan laki-laki jadi tidak boleh mengikuti gaya perempuan. Laki-laki dan perempuan itu berbeda. Bla... bla....” Kejadian beberapa hari lalu membuat saya yakin bahwa harus ada upaya maksimal melindungi anak-anak dari pengaruh buruk tayangan yang tidak mendidik.  

Sebenarnya saya dan suami sependapat bahwa sementara waktu tidak ada televisi di rumah sampai anak-anak punya kontrol diri. Mampu berpikir, memilih dan bertanggung jawab atas tindakannya. Berharap kelak mereka dengan kesadaran sendiri memilih tidak menonton televisi meski fasilitas tersebut tersedia. Mungkin tidak semua tayangan buruk. Namun mayoritas tayangan tidak mendidik. Mau tidak mau hal tersebut harus diakui. Setidaknya memperhatikan kondisi pertelevisian di Indonesia saat ini. Kekerasan baik fisik maupun psikis, pornoaksi, pergaulan tanpa batas, kenakalan anak dan sebagainya menjadi bagian tak terpisahkan dari kontens televisi.

“Sekitar 60 juta anak Indonesia menonton TV selama berjam-jam hampir sepanjang hari. Mulai dari acara gosip selebritis, berita kriminal berdarah-darah, sinetron remaja yang penuh kekerasan, seks, intrik, mistis dan amoral. Termasuk juga acara anak yang sebagian besar berisi adegan yang tidak aman dan tidak pantas ditonton anak,” ungkap Elly Risman, Direktur Yayasan Kita dan Buah Hati.

Meski tidak ada televisi di rumah bukan berarti anak-anak sudah steril dari pengaruh tontonan buruk. Sekedar melihat iklan sejenak saat mengantri di praktek dokter atau terlihat ketika ikut berbelanja di swalayan. Atau seperti kejadian di atas, meraka hanya mendengar obrolan teman sekolah tentang tayangan televisi sudah cukup membuat anak ikut latah. Maka pendampingan anak senantiasa dilakukan. Jika terpaksa meninggalkan anak di rumah Nenek-Kakeknya, saya akan bertanya apakah menonton televisi dan apa yang dilihat?

Orang tua di era digital memiliki tantangan yang tidak sepenuhnya sama dengan generasi sebelumnya, maka konsep pengasuhan harus mengikuti perkembangan zaman. Hadirnya tehnologi komunikasi dan informasi secara global menjadikan semua hal bisa diakses secara cepat, mudah dan sangat individual. Sangat mungkin anak-anak mengalami paparan tehnologi sejak lahir atau diistilahkan digital native. Maka sedari awal, anak-anak harus ditanamkan nilai-nilai agama serta moral sebagai rambu-rambu perbuatannya.

Anak usia dini tentu masih sangat tergantung pada orang tua. Di sini peran orang tua harus maksimal sebagai teladan di hadapan anak-anak. Bersikap tegas untuk memutus semua akses buruk lingkungan baik lingkungan nyata maupun lingkungan maya. Awalnya tentu saja akan ada protes meski mereka masih anak-anak. Daya kritis mereka harus disikapi secara bijak.

"Temanku nonton TV semua, kenapa kita gak boleh?"
“Nda, boleh gak Kakak buka video ini?”
“Kalau film untuk orang dewasa, anak-anak gak boleh nonton ya. Memangnya kenapa?" Atau pertanyaan lainnya yang menuntut saya memberi pemahaman yang bisa diterima anak. 

Pola komunikasi orang tua dan anak harus dalam kondisi hangat dan nyaman. Anak bisa mempercayai orang tua bahwa aturan yang dibuat demi kebaikan bersama. Pun ketika anak melakukan kesalahan, mereka tetap mau bercerita pada orang tua karena yakin orang tua tidak akan langsung menghukum tetapi ada diskusi dahulu.  

Diantara cara penyeimbang saya terhadap tayangan negatif adalah mendekatkan anak dengan buku. Buku yang saya maksud adalah buku yang aman dibaca anak. Sebagai contoh ketika beberapa waktu lalu heboh sinetron Si B** Anak Ja****n.  Sampai ada seorang anak ketika bermain mengungkapkan bahwa cita-citanya mau jadi seperti B*y. Nah, pada saat itu saya lebih sering membacakan dan mengulang kisah tentang Usamah bin Zaid, panglima perang termuda di zaman Rasulullah. Sosok yang lebih pantas dijadikan idola bagi anak-anak.

Hal lain yang  juga saya sadarkan pada anak-anak adalah membedakan antara kenyataan dengan sekedar rekayasa. Seperti halnya bermacam karakter superhero.
“Kak, itu semua orang yang menggunakan kostum tertentu. Kostum adalah baju yang bisa dijahit sesuai keinginan seseorang.”
“Jadi itu bohong, Nda?”
“Iya. Di dalam karakter itu ada orang yang pura-pura saja. Berbeda dengan kisah Rasulullah dan para sahabatnya. Mereka semua memang ada. Tapi mereka hidup di zaman yang sudah lama dari kita sekarang. Nanti kalau kita dapat rezeki pergi ke Mekkah atau Madinah, kita akan ziarah ke kuburan mereka.”

          Selain tayangan televisi,  lebih massif lagi adalah sosial media dengan sejumlah fitur-fitur yang ditawarkan di handphone pintar. Ini tidak bisa dihindari karena orang tua pasti memiliki fasilitas tersebut utamanya sebagai kebutuhan kerja. Kondisi ini memerlukan lebih banyak kehati-hatian orang tua. Bukan hanya membatasi anak untuk tidak main handphone tetapi juga selalu memantau apa saja yang dilihat mereka. Memblokir beberapa kontens yang berpotensi merusak saja belum cukup. Terkadang kiriman video dari jejaring sosial yang tidak layak ditonton anak lewat dari pemantauan. Artinya orang tua tidak bisa melepaskan begitu saja anak bersama handphone. Mungkin kesannya repot tapi demi melindungi anak, kebijakan ini saya terapkan kepada kedua balita saya.

Memberi pemahaman yang sama pada orang di sekitar anak juga penting. Ada Om dan Tantenya,  teman-teman saya dan ayahnya, atau juga tetangga. "Maaf ya, Mush'ab tidak boleh nonton video orang dewasa," begitu saya katakan ketika kebetulan ada tamu di rumah dan membuka lagu d*****t disertai goyang biduannya.

Sejatinya cukup  banyak orang tua yang sadar akan berbagai tantangan pengasuhan anak di era digital. Namun lebih banyak yang tidak peduli. Saya akui bukan hal mudah mendampingi anak dalam proses pengasuhan sebagaimana tuntunan agama. Kesibukan kerja, mengurus rumah tangga hingga aktifitas sosial cukup menghabiskan waktu dan tenaga. Hingga pendampingan anak sering kali terlalaikan. Padahal tugas utama orang tua adalah mendidik anak menjadi sholeh.

Di tengah berbagai keterbatasan tersebut, saya selalu menguatkan  diri dengan terus belajar menjadi orang tua bijak. Saling bekerjasama dengan suami agar apa yang menjadi tujuan pengasuhan bisa terwujud. Termasuk saya suka diskusi dengan suami tentang kasus-kasus kenakalan, kekerasan, pornografi  pada anak.

Dan takkalah penting dari semua usaha adalah penguatan agama dalam keluarga. Perlindungan dari Allah akan seiring dengan permohonan dari kita agar dianugerahkan kemampuan membimbing anak-anak sebagai amanah Tuhan. Pun senantiasa dijaga dari segala bentuk fitnah akhir zaman.

***


Artikel diikutkan dalam Lomba Blog #TantanganPengasuhanEraDigital #LombaBlogYKBH
Share:

2 komentar:

  1. Terima kasih telah diingatkan dengan tulisan ini. Bismillah, Semoga Allah selalu membimbing kita dalam mendidik anak di era digital skrg ini. Aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saling mengingatkan, bu. Saya juga masih
      suka lalai😂

      Hapus

RUMAH BACA AL-GHAZI

RUMAH BACA AL-GHAZI