Rabu, 23 Agustus 2017

Bersiap Menjadi Orang Tua Sukses

Meski dalam lagu dikatakan, kasih ibu tak terhingga sepanjang masa. Namun dalam proses pengasuhan ada banyak sekali ujian kesabaran yang dilalui seorang ibu. Memiliki anak dengan beragam karakter tentu bukan hal mudah untuk senantiasa mengendalikan emosi.
Bagaimanapun, ibu adalah manusia biasa yang terkadang karena rasa letih tanpa sengaja melakukan kekerasan pada anak. Baik kekerasan verbal berupa perkataan menyakitkan, menghardik dan sejenisnya. Atau kekerasan fisik seperti memukul, mencubit dan lainnya.

Mungkin bagi sebagian orang, hal tersebut dianggap biasa. Bahkan lebih parah, cukup banyak kasus yang akhirnya dimejahijaukan karena kekerasan yang dilakukan orang tua (termasuk ibu) pada anaknya. Berbeda menurut Kiki Barkiah, penulis buku Satu Atap Lima Madrasah, bahwa kala tangan kita diayun untuk memukul mereka, kita tengah mengajarkan tentang hak untuk melakukan hal yang sama. Kala tangan jita diayun untuk memukul mereka, yang ada hanyalah rasa sakit dalam lahir dan membekas dalam batin (hlm. 23).

Maka sebisa mungkin seorang ibu menjaga lisan dan perbuatannya agar tidak mengikuti nafsu syaitan. Sejatinya anak-anak hanya butuh latihan untuk mampu menyampaikan keinginan atau kekecewaannya secara seharusnya. Secara bercerita, Kiki mengungkapkan berbagai kondisi yang ditemuinya selama mendampingi kelima anaknya. Keputusan keluarga mereka untuk menerapkan homeschooling memberi kesempatan lebih banyak pada orang tua berinteraksi dengan anak. Semua aktifitas keseharian menjadi bagian dari proses pembelajaran.

Untuk mencapai tujuan pengasuhan anak harus ada perencanaan yang matang, kerjasama semua anggota team serta avaluasi berkelanjutan. Team yang dimaksud adalah orang tua (Ayah-Ibu), anak-anak, keluarga besar (Kakek, Nenek, Paman, Bibi, dan seterusnya), juga orang yang ada di rumah seperti asisten rumah tangga.

Sebagai orang tua tentu ingin selalu memberikan yang terbaik pada anak-anaknya. Namun jangan sampai orang tua melalaikan sisi kemandirian anak. "Kami tidak dapat menjamin bahwa warisandalam bentuk harta bagi anak-anak akan tetap ada an bermanfaat secara berkah.... Tetapi kami yakin bahwa menanamkan keimanan dan membekali mereka dengan ilmu yang bermanfaat akan terus menjaga mereka meski kelak kami telah tiada." (hlm. 107)

Dari kejadian yang dialami penulis, pembaca bisa belajar bagaimana bersikap bijak menghadapi bermacam perilaku anak. Baik yang sebabnya mungkin sederhana semisal meminta perhatian, tidak ingin berbagi mainan atau saat tantrum. Maupun perilaku kritis anak yang terkadang tidak terpikirkan oleh orang tua seperti pertanyaan seputar pendidikan seks, kesalahan orang tua dan ketidakadilan di sekitarnya.

Karena ditulis berdasarkan kisah sebenarnya, maka jangakauan buku ini lebih khusus mengupas problematika orang tua menghadapi anak usia balita hingga pra baligh (remaja awal). Tentu ini menjadi peluang untuk kembali menulis kisah selanjutnya sesuai tahap perkembangan anak.   


Akhirnya, semoga kita semua bisa menjadi orang tua sukses dunia akhirat. Yang dalam konsep penulis  adalah orang tua yang mampu melahirkan generasi yang lebih baik menurut Al-Qur'an melalui madrasah pertama dan utama yakni keluarga. Buku kumpulan kisah berhikmah seputar mendidik anak ini direkomendasikan bagi setiap orang tua. 

Selamat membaca!

***

Identitas buku
Judul: Satu Atap Lima Madrasah
Penulis: Kiki Barkiah
Penerbit: Mastakka Publishing, 2017
Tebal: vi + 249 hlm.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

RUMAH BACA AL-GHAZI

RUMAH BACA AL-GHAZI