Kamis, 20 Juli 2017

Tips Bercerita pada Anak

Setiap anak senang mendengarkan cerita. Namun tidak semua orang dewasa di sekitar anak mampu bercerita. Ada sebagian orang yang secara alamiah memiliki keterampilan public speaking seperti bercerita.

Nah jika Ayah-Bunda bukan termasuk orang dengan kemampuan bercerita yang baik jangan lekas berputus asa. Tetaplah belajar untuk bisa bercerita minimal pada anak sendiri.

Diantara manfaat bercerita adalah menambah kosakata anak, melatih kecerdasan bahasa, menjalin keakraban serta menyampaikan pesan moral. Karena manfaat tersebut sangat dianjurkan untuk sering bercerita pada anak.

Berikut tips bercerita pada anak yang bisa dicoba oleh orang tua, guru atau orang dewasa di sekitar anak.

1. Gunakan intonasi suara lembut dan bulat

Nada berbicara saat menyampaikan cerita harus dikontrol dengan baik. Meski harus mendeskripsikan isi cerita namun ada batasan dalam tempo suara agar tidak terlalu tinggi.

Sebagai contoh ketika ada salah satu tokoh dalam cerita berteriak, terkejut, takut, atau kondisi emosi buruk lainnya. Dalam penyampaiannya jangan sampai membuat anak ikut 'shock'.

Sangat memungkinkan kondisi buruk dalam cerita akan membayangi anak. Dampak negatifnya membuat anak trauma jika mendengarkan cerita seperti menangis, ketakutan atau berteriak.

Intonasi saat bercerita tentu tidak sama dengan bermain teater atau membaca puisi meski semuanya memainkan peran berdasarkan alur kisah. Bercerita lebih bertujuan untuk menyampaikan pesan moral kepada anak lewat karakter tokoh serta kejadian yang dialaminya.

2. Sentuhan fisik menjadi bagian komunikasi

Bercerita di hadapan banyak anak tentu harus pandai menguasai panggung sekaligus menjaga fokus anak. Hal yang bisa dilakukan agar anak tetap merasa diperhatikan adalah dengan sentuhan fisik seperti menepuk pundak, mengajak bersalaman dan lainnya. Selain juga melibatkan anak dalam bercerita. Memanggil nama anak, bertanya dan sesekali meminta mereka melakukan sesuatu.

3. Properti perlu tapi tidak berlebihan

Diantara metode bercerita dengan menggunakan buku atau boneka. Keduanya termasuk properti paling sering digunakan. Pencerita bisa menggunakan barang apa saja untuk mendukung alur cerita.

Namun yang penting diperhatikan adalah pastikan properti yang digunakan tidak membuat anak salah fokus atau justru menjadikan pencerita kerepotan sendiri. Cukup gunakan satu atau dua properti yang memang menjadi icon cerita.

4. Kostum turut memberi kesan

Anak-anak menyukai warna-warna cerah dengan gambar sesuai dunia mereka. Nah ini menjadi pertimbangan ketika akan memilih kostum yang akan digunakan. Tidak meski sesuai karakter cerita namun cukup memilih kostum berdasarkan kesukaan anak-anak.

Ketimbang memilih memakai pakaian berwarna hitam atau abu-abu, akan terlihat lebih ceria jika mengenakan busana berwarna hijau, kuning atau merah muda. Kesan menghibur tentu lebih terasa.

5. Salam pembuka dan penutup yang hangat

Jika yang bercerita adalah orang tua atau guru, mungkin sudah terbangun komunikasi sebelumnya dengan anak. Namun jika pencerita adalah orang yang baru atau belum dikenal anak maka perlu menciptakan suasana akrab secara cepat. Diantaranya dengan menyampaikan salam pembuka yang dapat merangkul anak. Mungkin dengan menanyakan namanya, kabar, atau aktifitas keseharian.

Mempersiapan salam penutup pun menjadi penting karena  akan memberi ingatan pada anak tentang pesan moral cerita. Jadi, saat bercerita bukan hanya membuat anak senang tapi ada pelajaran yang bisa diambil.

Demikian tips bercerita pada anak. Semoga bermanfaat!
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

RUMAH BACA AL-GHAZI

RUMAH BACA AL-GHAZI