Senin, 05 Juni 2017

Tetanggaku Tak Pernah Bertemu

Suatu ketika, di masa lalu, saya pernah meminta. "Ya Allah berikanlah aku sebuah kehidupan yang baru." Do'a yang sangat tidak spesifik. Mungkin juga tidak penting. Atau bahkan sangat tidak mendesak. Lalu dari mana ide do'a tersebut. Gegara saya suka baca buku yang mengisahkan tentang traveling. Orang yang sering atau hobi traveling akan selalu singgah di tempat-tempat baru. Bertemu dengan banyak orang yang belum dikenal. Beradaptasi dengan lingkungan yang asing. Artinya kehidupan yang senantiasa baru.

Karena permintaan tersebut sekedar luapan emosi sejenak, saya juga tidak terlalu ngotot memohon. Toh, sebuah kehidupan yang baru versi saya itu seperti apa, saya juga tidak punya diskripsi yang jelas.

Tapi di sinilah bukti Kemahahebatan Allah. Ia tetap mengabulkan sesederhana apapun doa hambanya. Meski wujud keterkabulan doa bisa sangat berbeda-beda. Dan jadilah saya dipilihkan kehidupan baru yang berbeda dengan sebelumnya lewat pernikahan.

Bersyukur tentu saja. Sebab hingga lima tahun berdiam di desa ini, semakin banyak hal yang membuat saya tertantang untuk mengungkapkannya. Benarlah bahwa Allah menciptakan manusia berbeda lingkungan dan kebiasaan guna untuk saling memahami. Selain kebiasaan, cara hidup dan sederet fenomena sosial, orang di sekitar juga bagian dari tantangan tersebut.


Sebenarnya rumah kami hanya berkelang satu rumah tapi butuh waktu lama untuk saya bisa melihat wajahnya. Iya, dia tetangga saya. Anggap saja namanya Melati, seorang gadis kisaran usia 26 tahun.

"Kenapa sich penasaran bener dengan si Melati?" Reaksi suami ketika saya bilang kapan bisa ketemu dia. Di pagi hari saat saya  baru akan membuka gorden, mungkin baru pukul setengah enam, deru mobil sedan putihnya telah melewati depan rumah. Dan nanti sore, beberapa detik menjelang adzan magrib barulah terdengar kembali klakson mobilnya saat membuka pintu pagar. Pada beberapa kesempatan, hampir cukup malam si tetangga pulang.

"Bukan masalah penasaran. Tapi kan tetangga sebelahan rumah kok gak kenal."

Begitulah hingga setahun lebih tak satu kalipun saya bersitatap dengan si gadis. Hari ahad atau hari libur pun tak pernah nampak walau sekedar bayangannya semisal menyapu halaman atau sekedar ngombol sore dengan tetangga.

"Teeet..." klakson sedan putih. Saya tengah membersihkan halaman rumah bersama anak-anak.
"Nah itu, dia menyapamu," sergah suami dari balik rerimbunan pohon pisang sebelah rumah.
"Masa sich?"
"Lah trus dia klaksonin siapa kalau bukan kamu."
Saya cuma mengangkat alis. Saya kan bukan mau melihat mobilnya tapi wajahnya. Mana saya bisa liat raut mukanya kalau dari kaca tebal jendela mobil yang selalu bersih itu.

Mengenal Melati menjadi misteri yang belum terselesaikan. Hingga saat kami berbuka puasa di rumah orang tua, tema itu kembali dibahas.
"Sering kok sholat tarawih di masjid. Ia selalu di sebelah ibunya. Pakai mukena coklat. Biasanya di barisan dekat tiang dekat pintu keluar." Penjelasan ibu mertua saya sangat lengkap.

Tiba-tiba saya pun jadi bingung. Betapa saya ingin mengenal Melati. Bukankah itu tidak terlalu penting. Ia sulung dari dua saudara yang semuanya perempuan. Adiknya SMA dan hampir serupa sebab hanya terlihat sesekali saat melintas di depan rumah. Bedanya adik Melati mengendarai motor, meski hanya sepintas masih bisa melihat wajahnya. 

Kedua orang tuanya bekerja yang pergi pagi dan pulang senja. Jarang atau bahkan tidak pernah bergaul dengan tetangga. Maka lengkaplah sudah. Saya hanya bisa menatap rumah besar itu tanpa pernah ngobrol dengan penghuninya. Dan saya pikir sesama anggota keluarga pun tidak terlalu sering bercengkrama. Tapi ya... entahlah, saya hanya melihat dari balik tembok rumahnya. Tidak cukup mengenal sosok mereka.

Lalu tentang Melati, mungkin itu juga alasan saya ingin mengenalnya. Saya merasa aneh jika tidak saling mengenal  pada tetangga. Ini desa yang ikatan sosialnya masih kuat. Bukan kota metropolitas yang individualistis. Tetapi mengapa seolah ada pemisah atau justru ia memisahkan diri.

"Mbak," sapa seorang perempuan muda di sebelah saya. Kami saling mengulurkan tangan, bersalaman usai sholat tarawih.
Lalu disampingnya seorang ibu, pun kami bersalaman. "Aktif ya," komentar si ibu melihat saya mengusap keringat di kelapa Raihan. Si adek seolah tak pernah lelah bermain dengan sesama jamaah anak-anak.
"Iya." Jawab saya singkat karena masih berpikir siapa lawan biacara saya.
Yap, ini Melati dan ibunya. Saya mengingat penjelasan malam kemarin. Tidak salah lagi. Saya sholat tarawih bersebelahan dengan Melati.

Sayangya, saya belum sempat ngobrol karena kesadaran itu datang setelah jamaah di masjid bubar. Kalau begitu esok saya akan berusaha bisa duduk di sebelahnya lagi. Wah semoga saya bisa ngobrol cukup lama.

Saya pulang malam itu dengan perasaan berbeda. Laksana seorang detektif yang berhasil menyelesaikan sebuah kasus pelik. Butuh obrolan lebih sering agar bisa lebih dekat dengan Melati. Niatnya tentu saja ingin menjalin silaturahim. Dan bukan hanya karena kami tinggal di desa, sejatinya Islam sangat menganjurkan berbuat baik kepada tetangga. “... Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, ibu-bapak, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu.” (Qs AnNisa: 36)


Ada hak tetangga yang harus dipenuhi dan hak sesama muslim. Bagaimana mungkin hak tersebut tertunai jika tak saling mengenal. Ketika terjadi sesuatu pada keluarga saya, bukankah tetangga sebelah rumah yang diharapkan dapat segera membantu. Pun sebaliknya. Dan boleh jadi, tetangga menjadi wasilah kebaikan kita yang mendapat keridhoan Allah.  
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

RUMAH BACA AL-GHAZI

RUMAH BACA AL-GHAZI