Sabtu, 17 Juni 2017

Mereka Abege Penghuni Terakhir

"Nanti malam kita mau sholat tarawih gak?"
"Mauuu," jawab Kakak-adik sekeinginan. Diantara beda Ramadhan tahun ini adalah duo bocil tersebut sudah bisa memperjuangkan keiginan mereka.

"Lho kenapa kita gak tarawih?" Tanya Kakak ketika adzan isya bergema dan kami masih di rumah.
"Hari ini kita sholat di rumah saja. Ayah belum pulang. Kita tidak ada yang mengantar."
"Kan bisa jalan kaki ke masjidnya?"

Saya belum menjawab karena apa yang ia ungkapkan benar. Hanya saja saya agak khawatir membawa mereka berjalan kaki. Sebenarnya jarak antara masjid dan rumah kami tidak terlalu jauh. Hanya berkelang beberapa rumah. Namun rute yang kami tempuh adalah satu-satunya jalan akses di desa ini. Hingga meskipun di malam hari, kendaraan cukup banyak melintas. Bahkan tak jarang truk-truk pengangkut sawit atau mobil penjual ayam melaju dengan kecepatan lebih. 

Demi keamanan, ditunda dulu ke masjid. Saya pikir mungkin hanya malam ini tidak bisa ke masjid. "Insyaalllah besok kita ke masjid lagi," pungkas saya.

Selain anak-anak itu ada lagi alasan saya wajib ke masjid. Tadarus Qur'an. Sejak Ramadhan,  jadwal mengaji di rumah kami diubah. Untuk anak-anak yang masih tahap Iqro' mengaji dimulai pukul 14.00 WIB hingga sholat ashar berjamaah. Sementara untuk anak-anak yang sudah bisa membaca Al-Qur'an dianjurkan ikut tadarus bersama sehari satu juz selepas sholat tarawih.

"Nda, yang Al-Qur'an ikut tadarus Qur'an. Kenapa yang Iqro tidak tadarus Iqro?" Pertanyaan Mush'ab yang gagal membuat saya melanjutkan pekerjaan.
"Tadarus Iqro?" saya mengulang kata-katanya. Ia mengangguk. Saya terbahak.

Malam-malam selanjutnya ternyata kami memang harus terbiasa berjalan kaki ke masjid. Ayahnya anak-anak lebih sering pulang hingga larut malam ketimbang pulang sebelum magrib.

Melihat saya sudah maju, duduk agak lebih kedepan, beberapa anak langsung mengekor. Membentuk barisan dan siap membuka mushaf masing-masing. Jumlah mereka lebih sedikit dari seharusnya. Empat orang laki-laki dan sekitar tujuh atau sembilan orang perempun atau lebih sedikit dari itu. Kecuali satu orang masih SD, semuanya siswa SMP. Abege, usia transisi. Masa anak-anak sudah berlalu namun digolongkan remaja belum pas.

Jika kebetulan suami ada, ialah yang mengawali tilawah satu halaman. Lalu dilanjutkan secara bergiliran. Dalam semalam biasanya tiap orang dapat dua kali kesempatan mengaji.

"Bunda, kemana kemarin tidak sholat?" Seorang anak yang duduk di samping saya bertanya. Mush'ab sudah selesai membaca do'a memulai tadarus. Microfon diserahkan ke saya. Tidak ada orang lain selain kami. Seorang emak-emak dengan duo bocil dan para abege tersebut. Jama'ah masjid yang kian hari kian menyusut jumlahnya langsung bubar seusai imam membacakan do'a niat berpuasa.

Saya menolehnya dan tersenyum. Pertanyaan yang bagi saya bermakna permohonan. "Oh, ustadz belum pulang jadi tidak ada yang mengantar."

Begitulah pada malam-malam selanjutnya kami tadarus. Sebagian besar masih terbata-bata membaca Al-Qur'an hingga untuk menyelesaikan satu ayat butuh kesabaran. Istilah orang, capek dengerinnya. Sekitar satu jam setengah atau lebih menuntaskan dua puluh halaman Qur'an.  Mungkin bagi yang telah lancar tilawah hanya perlu waktu tiga puluh menit.

Tapi inilah kesungguhan. Di saat teman-temannya asyik menonton tv di rumah, mereka memilih ke masjid. Ketika sebagian orang  masih nyaman menikmati aneka hidangan berbuka puasa. Mereka telah rapi di shaf sholat sebelum adzan isya berkumandang. Manakala yang lain mungkin sudah pulas dengan bantal guling. Mereka melafadz huruf perhuruf kalam suci.

Bahkan di saat orang tua mereka tidak sekalipun sholat tarawih di masjid. Mereka tak mempersoalkan. Ya, ada beberapa anak yang saya tak sekalipun melihat ayah atau ibunya hadir di masjid. Padahal hanya butuh beberapa langkah tiba di pintu masjid. Tak ada kejemuan atau keletihan. Mereka akan pulang dengan gelak tawa dan saling bercanda sepanjang jalan pulang. Saat banyak pintu rumah sudah tertutup. Dan sesekali jalan gelap karena keterbatasan lampu jalan.  Ah, kalian memang abege luar biasa.

"Do, tolong cek kipas sudah dimatikan semua?"
"Sudah."
"Lampu yang di mihrob juga dimatikan."
Saya menyapu pandangan ke setiap jengkal masjid. Memastikan semua jendela tertutup. Lampu, kipas angin dan microfon telah dimatikan. Ambal sudah dilipat. Dan terakhir pintu masjid dan pintu gerbang terkunci dengan aman. Barulah melangkah kembali ke rumah. Inilah kami, para penghuni terkahir masjid ini.

"Kakak-adek, tidak usah lari-lari," saya harus sedikit teriak memperingatkan duo bocil. Mereka mau jalan sendiri sembari bermain dengan para kakak-ayuknya.

Atau teriakan saya lainnya, "hayo minggir. Ada motor!"  Namun begitulah anak-anak, usai diteriakin tetap lanjut aktifitasnya. Selalu ada derai tawa usai dari masjid.

Ya Allah, persaksikanlah kami di malam-malam muliaMu.
Betapa anak-anak ini tulus mencintai  Al-Qur'an. Untaian cinta dariMu yang kerap mereka baca. Lisan mereka tak kelu mengeja tiap kata. Dengan Rahman dan RahimMu, izinkanlah mereka menjadi penjaga kalam suci. Menjadi panghafal Qur'an. Meletakkan Al-Qur'an di hati dan pikiran, laku dan perbuatan. Jadikan Al-Qur'an sebagai sahabat, pemberi syafaat, perantara nikmat, muara bertaubat, perisai maksiat hingga akhir hayat.

Wahai Dzat sebaik-baik penjaga, kutitipkan anak-anak ini pada penjagaanMu. Cukuplah kerisauan jiwa akan bermacam fitrah akhir zaman terobati dengan kedekatan mereka pada Al-Qur'an. Inilah mereka, generasi Qur'ani yang telah tertawan hatinya pada aturan Illahi. Tak usah galau. Sebab kalianlah yang kelak menjadi penjaga kejayaan agama ini.

Duhai Robbi, jikalau kelak Kau izinkan diri ini menempati syurgaMu, izinkalah pula kami berkumpul kembali. Di lingkaran orang-orang yang dimulaikan dengan Al-Qur'an. Maka, sungguh kami meminta padaMu tetapkan hati ini dalam ma'rifat. Penuhi dada kami dengan berlapis-lapis cahaya Qur'an.

“Allahummarhamnaa bil Qur'an...
Waj’alhulanaa imamaa wa nurrow wa hudaw wa rohmah....” Munajad yang selalu terngiang di siang dan malam kami.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

RUMAH BACA AL-GHAZI

RUMAH BACA AL-GHAZI