Senin, 29 Mei 2017

Tamu yang Datang di Senja saat Hujan

Percaya deh, Tuhan itu Maha Adil.  Cara membuktikannya dengan selalu berbaik sangka. Apapun yang terjadi pasti atas izin sang Kuasa.

Puasa hari pertama ditemani hujan syahdu, siang hingga sore. Puasa hari kedua hujan masih setia menyapa. Mulai siang sampai malam beranjak gulita. Hening. Bening. Berbaik sangka saja bahwa Allah sedang menunjukkan kasih sayangnya. Bukan masalah batal hadir berbuka puasa bersama teman, rekan atau keluarga besar. Bukan pula tentang berbuka sembari kebanjiran. Atau setumpuk kekesalan yang dialamatkan pada sang hujan.

Saya menikmati melodi air hujan yang berjatuhan. Ke tanah, ke penampungan air, ke dedaunan, ke atap rumah. Riuh yang menentramkan. Enam buah pisang lilin sudah digoreng. Menu berbuka. Anak-anak pun sudah mandi sore dengan air hangat.

Kakak tiba-tiba menyongsong saya, "Nda, ada orang ke rumah kita."
"Iya apa, Kak? Siapa?"
Saya diisyaratkan untuk juga mengikuti anak itu melonggok lewat jendela. Tak terlihat wajah sag tamu karena posisinya membelakangi. Pastinya perempuan berjilbab.

"Oh iya," sahut saya atas panggilan di balik pintu. Seorang ibu, tetangga yang rumahnya lumayan jauh dari kami.

"Mau beli ikan gabus, ndak?" Ia mengulurkan sekantong ikan yang katanya seberat satu kilo sembilan ons.

Saya bingung harus menjawab apa. Tidak ada uang di rumah. Bahkan untuk menitip ke suami agar dibelikan lauk saja saya tidak berani. Karena isi dompet tinggallah bermacam kartu identitas dan kartu berobat. Rahasia bersama di tanggal tua. 

"Bang, beras habis." Kalimat yang mau tidak mau harus saya laporkan.
"Habis bener?"
"Iya." Jawab saya yang menandakan kebutuhan tersebut tidak bisa ditunda.

Tapi, saya tidak punya waktu untuk galau. Ibu di luar itu sedang menunggu keputusan saya.
"Wah ada gak ya uangnya." Ungkap saya sambil mengingat adakan 'uang lain' yang memungkinkan bisa digunakan dulu.

"Berapa?"
"Sekilonya tigapuluh ribu."
Sempat terlintas komentar Emak mertua, "mahal kalau tigapuluh. Sama kayak harga di kalangan.” Ketika dulu saya cerita membeli ikan dengan tetangga seharga demikian. Tapi ah sudahlah, anggap saja sedekah. Mungkin ia sedang sangat membutuhkan uang.

Ada uang saldo pulsa di laci. Dua lembar dua puluh ribu dan selembar sepuluh ribu. Masih kurang tujuh ribu untuk membayar harga ikan.
"Nah adanya 50 ribu. Nanti kurangnya dititip pas ngaji."
"Oh iya dak papa." Kebetulan anak ibu itu ikut mengaji di rumah kami tiap sore. Berharap besok sudah ada uang tambahannya agar segera melunasi hutang.

Tanpa menawar. Tanpa memastikan timbangan. Dan hanya sekilas melihat ikan yang dijual. Hanya butuh waktu beberapa menit transaksi selesai. Untuk saat ini, saya melupakan semua prinsip manajemen keuangan keluarga.

Meski sebenarnya butuh lauk, dalam kondisi nihil uang harusnya saya menolak tawaran tadi. Toh anak-anak bisa makan dengan persediaan telur yang tersisa 2 butir. Saya dan suami masih ada sedikit sambal ikan masakan kemarin. Untuk sayur bisa memetik kangkung atau katu di belakang rumah. Tentu saja itu sangat menghemat pengeluran dan tidak perlu berhutang.

Jadi ingat artikel yang pernah saya baca di sosmed. Salah satu kesalahan bagi pebisnis (biasanya pemula) adalah menggunakan uang usaha untuk kebutuhan pribadi. Jika tidak dipisahakan antara uang usaha dengan uang pribadi, usaha akan sulit berkembang. Harus jelas sirkulasi keuangan. Jelaslah, apa yang saya lakukan sangat bertentangan dengan teori tersebut.

Sebenarnya sayapun termasuk orang yang malas berususan dengan hutang-piutang.  Tapi kali ini saya berhutang dua kali. Hutang ke uang usaha, juga hutang ke ibu tadi. Saya hanya berpikir bahwa si ibu sangat berharap ikannya bisa laku dan ia mendapatkan uang. Jika saya menolaknya dengan alasan tidak ada uang, tentu akan ada rasa sedih. Kemungkinan besar ia akan menawarkan pada yang lain. Membayangkan saya di posisinya, harus mengetuk pintu  rumah orang di saat hujan menjelang waktu berbuka, ah saya tidak sanggup.

Tentang hutang itu, bukankah saya masih punya Allah yang Maha Kaya dan Pemurah. Jika seekor nyamuk saja dijamin rizkinya, apalagi manusia. Dan tentu bukan tanpa alasan Allah menggerakan langkah si ibu ke rumah kami. Semua takdirNya.

"Bersyukur ia mau ke sini. Allah memberi kesempatan untuk jadi perantara rizki bagi orang lain. Siapa tahu ada doa kebaikan dari si ibu. Atau kalaupun tidak, tetap ada Allah yang akan membalas sekecil apapun kebaikan." Batin saya mengikhlaskan semuanya.

Saya iringi kepergian ibu itu dengan setulus senyum. Ketika ikan-ikan telah saya masukkan dalam ember cukup besar, saya bergegas mencari handphone.
"Tadi ada ibunya.... bla...bla," saya ceritakan semua kejadian ke suami.
"Jadi?"
"Ya... jadinya kita sudah ada lauk."
"Alhamdulillah."
"Abang belum mau pulang?"
"Belum bisa pulang. Di sini masih hujan deras."

Ditemani duo bocil saya menyiangi dua ekor ikan yang sudah mati. Selebihnya, entah berapa ekor masih hidup. Masih bisa disimpan untuk besok-besok dan dibagi ke Nyainya anak-anak.

"Bunda cecel pakai sambal. Adek cecel pakai kecap." Ujar Raihan saat kami  berbuka puasa.
Saya menggorengkan tiga potong ikan tanpa bumbu. Anak-anak suka nyemil ikan goreng.

"Bunda sudah?" Tanya kakak.
"Sudah. Dua potong pisang dan sepotong ikan, kenyang."

Berhenti mencari kenikmatan hidup karena hidup itu sendiri adalah nikmat yang telah ditemukan. Dan bukalah pada limpahan materi muara kedamaian jiwa namun kedamian jiwa yang sering kali mengalirkan materi yang berlimpah.


Di luar, hujan masih menjatuhkan jutaan titik air. Menumbuhkan segala ada yang di bumi. Allahumma shayyiban naafian. Hujan di hari-hari bulan Ramadhan adalah limpahan keberkahan. Berharap, iapun menumbuhkan rasa syukur pada apa dan bagaimanapun ketentuan Tuhan atas diri ini. Aamiin


Share:

6 komentar:

  1. Umi..
    Tulisannya membangun pikiran-pikiran positif..
    Salam dari kami..

    BalasHapus
  2. Tulisan yang bagus...

    BalasHapus
  3. Alhamdulillah.. Masyaallah.. Inspiratif.. 😊

    BalasHapus

RUMAH BACA AL-GHAZI

RUMAH BACA AL-GHAZI