Minggu, 28 Mei 2017

Semangkuk Tekwan dan Alasan Mubazir

Setelah berkali-kali dipesankan oleh para Ustadz, akhirnya saya insyaf. Tidak ada lagi istilah kejar setoran saat berbuka puasa. Mungkin, ini termasuk berkah tambahan setelah menikah. Ya iyalah, saya kan malu sama suami plus keluarga mertua. Cantik-cantik rakus (piss). Maklum saya nikah sekitar 2 minggu sebelum Ramadhan, lima tahun lalu. Jadi saat Ramadhan perdana berstatus istri, saya masih jaim sejaim-jaimnya.

Secangkir teh hangat, dua iris buah atau kurma dan satu jenis cemilan seadanya. Ingat, seadanya. Karena yang tidak ada tentu tidak bisa dimakan. Dan menu demikian berlangsung hingga tahun ini.

"Kita berbuka apa?" Tanya suami saat akan berangkat kerja. Puasa baru sekitar 3 jam tapi sudah berpikir tentang berbuka, suami visioner. "Pempek?" Tawarnya.
"Enggak ah."
"Model?"
"Tekwan." Negosiasi selesai.
Maaf ya bukan tidak hobi masak. Tapi hari ini saya masih masa percobaan puasa.

Dan ujian itupun datang. Menyapu, menemani anak-anak sarapan, hingga mencuci pakaian saya lakukan dengan rasa pusing. Kian lama kian menghebat. Hingga sakit kepala yang tak terkatakan. Sekuat tenaga saya menghalau, namun sia-sia.

Mencoba menenangkan diri. Saya pun duduk di kursi sambil menelungkupkan wajah ke meja. Lamat-lamat meminta, "Ya Allah, berilah aku kemampuan. Aku berniat puasa hingga magrib nanti. Aku tahu ada keringanan yang Kau berikan. Namun, Ramadhan tanpa puasa, ah betapa hampanya." Air mata berlomba berjatuhan. Baru sekitar jam sepuluh, setengah haripun belum sampai. “Tiada kekuatan melainkan milik Allah.”

"Nda, temenin adek main di luar," rengek si bocil seraya menarik tangan saya. Kakaknya sudah asyik bermain pasir di halaman.

Sesekali saya pejamkan mata, berharap bisa mengurangi rasa sakit. Namun hasilnya nihil. "Dek, Bunda nemeninnya dari dalam saja ya. Bunda mau istirahat, kepala Bunda pusing."
"He...eh." Pintu belakang dibuka dan saya tiduran dekat pintu agar tetap bisa mengawasi anak-anak.

Karena rasa sakit yang tak kunjung berkurang, saya mulai terpikir untuk membatalkan puasa. Handphone sudah digenggaman. Berniat menelpon suami guna izin berbuka puasa. Namun suara hati tak rela. Hp tergeletak begitu saja.

Suara tilawah terdengar dari masjid. Tak berapa lama lagi masuk waktu sholat dzuhur. Anak-anak saya panggil masuk untuk tidur siang. Usai sholat, sayapun menyusul merebahkan diri di kamar.

Jika biasanya ada sesi membacakan buku atau bercerita tapi kali ini tidak ada. Saya langsung memejamkan mata tanpa memperdulikan mereka yang masih bermain di tempat tidur. Sesekali tertidur. Sesekali memantau anak-anak. Sesekali berusaha memejamkan mata. Meski tetap saja belum ada perubahan rasa sakit di kepala.

Mungkin sudah ashar atau bahkan hampir magrib. Perlahan saya bangun. Mencari hp untuk melihat jam. Dan saya pun menghela nafas panjang,  baru pukul 2 siang. Tersisa pusing yang alhamdulillah masih memungkinkan saya untuk beraktifitas. Meski perut mulai terasa lapar. "Orang puasa memang lapar, biasa kok," saya harus menyemangati diri. Setidaknya tinggal menunggu setengah hari lagi.

Mencuci piring dan dilanjutkan memandikan anak-anak dilakukan dengan lebih santai dibanding kondisi tadi pagi. Hanya lemas hingga semua aktifitas dilakukan dengan slowmention.

"Ah salah tempat beli tekwan,"  tiba-tiba suara suami dari balik pintu.
"Salah?"
"Iya. Terbeli tempat yang mahal. Sepuluh ribu sebungkus." Kami pelanggan jajanan di warung pinggir jalan. Hanya kondisi darurat saja jajan di cafe atau mall.

Niatnya hanya minum, cemilan dan buah. Realitanya dianterin mertua aneka buah. Ada pisang, jambu dan dogan. Hasil memetik di kebun. Pesan sponsor, bagi yang jomblo. Jangan hanya mencari pasangan yang baik. Tapi juga carilah mertua yang pemurah dan perhatian, gitu!

Makanan sudah terhidang.  Adzan sudah berkumandang. Do’a-do’a sudah dilantunkan. Berbuka puasa mesti disegerakan.

"Kalau rasanya, lumayan. Sebanding dengan harga," komentar saya setelah memakan dua sendok tekwan.
"Katanya dari ikan gabus, jadi mahal," jawab suami.

Saya tidak terlalu menghitung jumlah pentol tekwan. Delapan atau sepuluh pentol mungkin. “Nah bunda sudah kenyang," ujar saya terhenti manakala ada alarm dari dalam perut, "cukup!"

Ada tiga pentol tersisa di mangkok. Sebelumnya tak memakan apapun selain dua hirup teh hangat. Untuk porsi normal saya, sepiring tekwan berlalu begitu saja. Bahkan kalau buat sendiri bisa dipastikan saya akan nambah lagi.  Tekwan kakak sudah tandas, menyisakan sedikit kuah dan bihunnya saja. Dua potong model adek yang lapor tidak habis telah diangkut ke piring ayahnya.

"Ih sayang. Mubazir kalau nggak dihabisin," pikir saya sambil mengunyah perlahan pentolan tekwan. "Enak, lembut dan terasa ikannya," dalam hati saya menikmati menu berbuka.

"Hayo Nda, sholat," pak bos sudah kasi komando.
"Yap bentar. Beresin ini dulu." Anak di rumah ini kteatif semua. Tumpukan piring dan gelas kotorpun bisa jadi mainan.

Saya menemukan seperempat cangkir air dogan. "Sayang, ntar mubazir." Lagi-lagi ajian mubazir keluar demi menyelesaikan semua yang tersisa. Dan itu juga yang katanya jadi penyebab Emak-emak senantiasa bertubuh subur. Pertumbuhan berat badan ibu berbanding lurus dengan jumlah anak.

Sholat magrib aman. Sembari menanti berangkat ke masjid, saya menjumpai tumpukan jemuran yang menunggu dilipat. Anak-anak sudah heboh mengganti baju. "Kalau ke masjid harus pakai celana panjang," kata ayahnya yang nyuruh si adek ganti kostum.

"Mau ke masjid aja serunya kayak mu diajak keliling dunia," batin saya. "Tapi ya alhamdulillah. Itu artinya masjid jadi tempat terindah buat bocil. Semoga mereka tumbuh jadi pemuda yang hatinya terpaut di masjid. Menjadi ahli ibadah. Menjadi ulama yang siap berjuang di jalan Allah. Seperti namanya. Mush'ab sang duta dakwah di Madinah serta Al-Ghazi kesatria pembela kejayaan Islam."

"Bunda. Kami sudah siap," celoteh kakak.
Saya hanya mengangguk. Tak beranjak. Dua menit giliran ayahnya yang memanggil. "Sudah tinggalin dulu pakaiannya. Bentar lagi mau isya'."
"Perutku masih belum nyaman."

Meski dengan berat, saya menyeret langkah ke belakang. Dan... hoek, hoek. Beberapa detik kemudian telah penuh lubang kloset. Saya mengatur nafas, sudah lebih lega. Dua langkah keluar WC, panggilan alam itu hadir kembali. Hoek... kini yang keluar cacahan dogan. Sambil menyender di dinding, saya pejamkan mata menyamankan kondisi.
"Oke selesai," ujar saya dalam hati.

Tiba di masjid, duo bocil langsung menuju barisan belakang. Shaf jama’ah anak-anak.  

Seusai sholat tarawih yang kesekian rakaat, saya kepikiran adegan di WC tadi. Demi mendengar imam sholat membaca surat At Takaatsur. "Alhaakumuttakaatsur. Hattaa zurtumul maqoobir. Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, hingga kamu masuk ke dalam kubur.”

Bermegah-megah adalah juga mencakup makna berlebih-lebihan. Meski dalam konteks ayat tersebut menjelaskan tentang kebanggaaan akan harta. Namun, saya merasa ikut ditegur keras. Meski hanya perihal tiga pentol tekwan dan seperempat cangkir air dogan.

Bukankah sudah ada alarm untuk berhenti makan. Namun nafsu tetap saja memburu. Alasannya mubazir. "Allahu ghoffar... ampuni hambamu. Jika dengan secuil makanan itu saja tidak sanggup menahan godaan, apatah lagi dengan gemerlap keindahan dunia.

Allahu aliy... sungguh kerdil jiwa ini. Masih begitu tertatih merasai manisnya iman laksana kecintaan para salafussalihin. Allah pemilik kerajaan langit dan bumi... betapa semua yang Kau ciptakan hanyalah serpihan debu yang tiada bermakna. Dan Kaulah sebaik-baik tempat berlindung."

Nyeesss... ada yang merembes di hati. Perlahan saya mengelus perut. "Duhai Allah, jadikan janin dalam kandunganku ini anak yang bersifat wara', jaga pandangannya dari ketakjuban pada dunia. Sebab akhirat adalah kemuliaan sejati.Ya Robbi, jadikan ia sosok dengan paras rupawan dan akhlak menawan. Meletakkan cinta tertinggi hanya kepada Tuhannya. Aamiin."

Ah, semangkuk tekwan jadi cerita Ramadhan saya di hari pertama.


Share:

4 komentar:

  1. Assalamu'alaikum Wr. Wb.
    Mbak Umi, terima kasih ceritanya. Dapat menjadi pengingat kita semua. 😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waalaikumsalam
      Alhamdulillah. Menulis untuk mencerahkan

      Hapus
  2. Pelajaran memang ummi..

    Saya pengen nulis.. Nulis Yang bagus, Yang berkarakter,
    Tapi belum bisa²..
    Dari dulu Sudah bercita² bahkan sejak SD Sudan belajar menulis, tapi belum dapet tempat yg tepat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa dicoba dengan sering-sering latihan menulis. Insyaallah bisa.

      Hapus

RUMAH BACA AL-GHAZI

RUMAH BACA AL-GHAZI