Selasa, 30 Mei 2017

Nda, Nikah Itu Apa?

Pagi!
Usai olah raga mata di depan laptop, tetiba berhasrat mendengarkan musik. Speaker dinyalakan dengan volume sedang. Muatan flashdisk yang terpasang di speaker berisi murottal dan nasyid.

Saya tidak terlalu tahu munsyidnya, namun lantunan sholawat dengan nada riang menjadikan pagi lebih merekah.

"Anak-anak ayo kita mandi." Melihat si kakak mulai membuka baju, adikpun mengiringi. Bergantian dimandikan lalu berganti baju.

"Bunda, ada apa?" Itu pertanyaan Raihan kalau menginginkan makanan.
Meski sudah tahu maksudnya, saya suka menjawab sembarangan. "Bunda punya anak. Kakak dan adek."
"Bukan," katanya dengan melabrak saya.
"Oh Bunda punya nasi, ikan, dan emmm pisang goreng. Adek dan kakak makan nasi ya."

Di hadapan para bocil masing-masing sepiring kecil nasi dan di hadapan saya sepiring ikan goreng. Saya bertugas memisahkan tulang ikan, lalu meletakkan dagingnya yang sudah aman ke piring mereka.

"Nda, nikah itu apa?"
Kakak menatap saya dengan antusias.
Satu... dua... tiga... saya berpikir cepat dan semoga tepat untuk mendapatkan jawabannya.
"Nikah itu perjanjian."
"Oh...."

Yap, nikah adalah perjanjian. Saya mengigat kata mitsaqan ghaliza artinya perjanjian yang kuat. "Dan mereka (istri-istrimu) telah mengambil perjanjian yang kuat (ikatan pernikahan) dari kamu." (QS An Nisa: 21)

Siap-siap pertanyaan selanjutnya.

"Kita juga perjanjian?"
"Bunda sudah menikah dengan ayah."
"Kakak?"
"Nanti kalau kakak sudah besar."
"Dengan siapa?"
"Belum tahu."

Allahu robbi, saya nyaris tertawa terpingkal-pingkal mendengar pertanyaannya. Tapi demi melihat ia bertanya dengan serius maka saya urungkan niat.

Mush'ab melanjutkan makan. Sesekaki menjilati nasi yang menempel di jari-jari kecilnya. Sebelum ia menodong dengan pertanyaan lanjutan, saya berpikir dari mana tiba-tiba kata nikah ada di pikirannya, detik ini.

Shollahu 'ala muhammad
Shollahu 'alaihi wa sallim

Anta syamsun anta badrun
Anta nuurun  fawqonuri

Dan saya ingat, sepenggal sholawat itu yang membuat obrolan nikah menemani pagi. Benarlah bahwa kemampuan mengingat anak-anak sangat tajam. Akan sangat sayang jika tidak dioptimalkan dengan baik.

Belum sebulan lalu, adek ipar saya menikah. Dan tentu saja Mush'ab mengikuti tiap proses kemeriahannya.
"Kita mau ngapain, Nda?"
"Mamang mau nikah. Nikahnya jauh di rumah bibi. Tapi resepsinya walimatul ursy di rumah Nyai. Nanti banyak orang yang datang. Jadi harus masak-masak yang banyak."
Ini adalah pengalaman pertamanya menyaksikan semua keramaian dikarenakan nikah.

Perihal sholawat itu ada di flastdist  yang sama yang diputar sepanjang acara walimatul ursy tersebut.

"Kakak mau nikahnya kayak mamang."
Saya mengangguk. Umur sulung saya empat tahun sebulan. Dan seperti orang tua lainnya, kami  berjuang untuk mendidik anak-anak sebagaimana tuntunan agama.

Hingga sekarang, anak-anak belum bersentuhan dengan perilaku pergaulan yang cendrung negatif semisal pacaran. Akses televisi, internet maupun teman bermain belum mereka dapatkan. Namun kondisi demikian hanya sesaat. Ketika mereka masih balita.

Dua-tiga tahun lagi, ketika mereka keluar rumah dan punya lingkungan sendiri, apakah sudah cukup kuat daya tahan pemahaman dan keyakinan mereka?

Maka, saat inilah waktu saya untuk menanamkan imunitas. Berat... berat banget. Kerja besar. Pertanggungjawabannya dunia akhirat. Makanya saya tidak mampu sendirian. Saya butuh kerjasama dengan suami. Dukungan keluarga besar. Tetangga yang sepemikiran. Masyarakat yang punya perhatian sama. Dan di atas semuanya, saya butuh kekuatan Dzat Sebaik-baik tempat berlindung.

"Adek?" Suara si kecil yang sudah minta jatah ikannya. Satu cuil ikan untuk satu jumput nasi yang dimakan.
"Sabar ya."

"Ada foto nikah ayah sama bunda di rumah Nyai." Ternyata diskusi kami belum selesai.

Pembicaraan yang seperti ini tidak saya ditemukan di masa lalu. Entahlah, saya dulu anak yang kudet. Atau anak sekarang yang memang kritis. Makanya tantangan luar biasa jadi orang tua anak-anak generasi Z.

Oh iya, Mush'ab tadi nanya, "Dengan siapa?"

Oalah... belum juga beres ngurusin anak, kok sudah ditanyain calon mantu. Jadi berasa tua. Seperti cerita seorang ummahat. "Kakak tuch rajin-rajin aja sekolahnya. Ibadahnya yang bagus. Hafalan Qur'annya diperbanyak. Mau nikah dengan siapa saja gak masalah, yang penting sholihah. Nanti ummi yang nyariin." Beliau menjawab dengan setenang mungkin ketika anak lelakinya yang baru tamat SD melapor pernah membonceng perempuan.

Duh Gusti... mampukan saya membimbing amanah dariMu. Jika para salafussalihin memanjangkan sujudnya demi memohon perlindungan atas fitnah dunia terhadap anak-anak mereka. Apalah yang sudah saya perjuangkan demi generasi penerus ini?

Malu memohon memiliki anak-anak sholeh namun diri belumlah maksimal berbenah. Sungguh, hanya ikhtiar ini yang kuasa saya lakukan. Meminta belas kasihMu akan pemeliharaan anak keturunan.

Robbana hablana min azwaajinaa wa zurriyyaatinaa qurrota a'yun waja'alnaa lilmuttaqiina imaama. Aamiin.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

RUMAH BACA AL-GHAZI

RUMAH BACA AL-GHAZI