Rabu, 31 Mei 2017

Menjadi Guru sampai ke Hati

"Bunda," ucap anak lelaki kisaran umur sembilan tahun menyapa saya. Ia termasuk yang sering datang mengaji lebih dahulu dari teman-temannya.

Sejak enam bulan lalu rumah kami nyaris tak pernah sepi. Ada anak-anak dan remaja belajar mengaji di sore dan malam hari. Ada jadwal ibu-ibu menambah kreatifitas pada sepekan sekali. Juga sesekali ada yang datang untuk sekedar membaca atau bermain.

Anak lelaki itu anggap saja namanya Ari, setelah meletakkan tas langsung menuju barisan rak buku. Koleksi buku anak memang kami letakkan di ruang depan agar mudah dijangkau.

"Main lari-larinya di luar saja," saya harus berteriak mengucapkannya. Suara ramai anak-anak bermain akan menenggelamkan permintaan saya. Maka selain berbicara saya pun harus memegang di antara mereka. "Hayo mainnya tidak di dalam ruangan. Di sini teman yang lain mau membaca."

"Bunda, ini komik baru ya?" Ari sudah menggenggam satu komik bantuan dari sebuah lembaga untuk Rumah Baca kami.
Saya mengangguk.
"Banyak, bunda?"
"Satu kardus."

Begitulah hampir setiap hari. Ari mengisi waktu sebelum mengaji dengan membaca buku. Sesekali bermain ayunan jika yang lain belum datang. Atau membuntuti saya yang masih mengerjakan pekerjaan rumah.

"Ri, tolong bunda buang sampah ya." Ia pun bersegera mengangkat kotak sampah. Hujan semalam membuat lumayan banyak daun berguguran dan menumpuk di halaman. Jadilah saya mesti menyapunya sebelum semakin berserakan.

Beberapa hari lalu, sebelum pulang mengaji saya menyampaikan pesan, "nanti malam kita mau sholat tarawih. Semuanya sholat berjamaah di masjid."

Beberapa anak saya perhatikan masih sibuk masing-masing.
"Coba didengar dulu. Telinganya masih dipasang?"
"Masiiih."
"Ajak bapaknya, mamaknya, ayuknya, kakaknya, nyai, yai, adek, semuanya sholat ke masjid," ujar saya.

Seorang anak komentar, "Emak Ari sibuk nyucuk atep."
"Gerrr..." disambut tawa yang lain.

Nyucuk atep, istilah di desa kami untuk aktifitas menganyam daun nipah menjadi atap. Biasanya dikerjakan secara borongan di rumah masing-masing. Jadi si pekerja mengambil daun nipah di tempat pengrajin. Setelah selesai menjadi atap akan diambil kembali lalu barulah diserahkan upah sesuai banyaknya atap yang selesai. Mayoritas yang menjadi pekerja adalah ibu-ibu sebagai pemasukan tambahan bagi keluarga.

Itu bukan kejadian pertama. Kondisi keluarga Ari sering kali diperolok teman-temannya. Bahkan saya sering mendapati ia diperlakukan buruk oleh yang lain.

"Kenapa, bunda?" Tanyanya saat saya terpaku menatapnya.
"Oh nggak."
Saya menghela nafas panjang.

Pemahaman yang perlahan saya tanamkan pada anak-anak untuk memperlakukan teman dengan santun seolah menguap begitu saja. Terkadang berpikir, apalah saya yang hanya bisa menjumpai mereka sembilan puluh menit. Itupun dengan jumlah anak yang lebih dari tiga puluh orang. Sementara mereka telah dibentuk oleh keluarga. Yang mungkin luput memperhatikan hal 'kecil' tersebut.

Mereka, anak-anak itu akan tumbuh bersama anak saya. Maka, ketika saya berharap anak-anak saya tumbuh dengan sikap saling menyayangi menjadi keharusan membuat teman-temannya serupa demikian. Bukankah kita tidak bisa sholeh sendiri? Dan dalam spektrum lebih luas, sangat tidak elok membiarkan sebuah keburukan sekecil apapun tanpa ada usaha mencegahnya.

"Ha... ha... ha..." barisan anak-anak yang pulang duluan teriak seraya berlari berhamburan.

Saya tidak melihat siapa yang melakukannya. Hanya saja terlihat peci Ari sudah di lantai dan terinjak-injak mereka yang berlarian.

"Siapa yang melakukannya?" Saya mendekati Ari dan mengisyaratkan yang hendak pulang kembali lagi.

"Hayo siapa yang menarik peci Ari?" Tidak ada yang menjawab.
"Ri, siapa yang menarik pecimu?" Ari yang sudah menangis menoleh dan menunjuk seseorang.
"Sini!" Saya sadar saya sedang berpuasa dan wajib menahan amarah. Namun kejadian yang berulang membuat saya harus lebih tegas.

Dua anak berjalan takut-takut ke arah saya. "Hayo minta maaf dengan Ari."
Tangan mereka berjabat dalam diam.

"Semuanya dengar. Tidak boleh menganggu teman. Siapapun tidak boleh diganggu. Sesama teman harus saling menyayangi.
Tidak boleh juga menghina orang tua teman. Ingat, bunda tidak mau lagi kejadian ini terulang."

Saya pandangi satu persatu mereka. Sungguh, pesan ini ingin saya pastikan sampai ke mereka. Mereka bergeming.

Ketika yang lain pulang, dua anak tadi saya 'hukum' dengan merapikan tikar yang dipakai mengaji tadi. Dengan wajah ditekuk, mereka menjalani hukuman.

Huh... saya jadi merasa bersalah ketika melihat keduanya. Mungkin saja mereka hanya bermain-main atau tidak sengaja. Seharusnya saya juga bertanya dulu, mengapa mereka melakukannya.

"Oalah... maafkan saya, nak."
Saya tidak ingin membedakan kalian. Siapapun yang mengaji di sini artinya anak ideologis saya. Dan saya punya keinginan mereka menjadi anak sholeh.

Mungkin, saya terlalu terburu-buru meminta mereka berubah. Terlalu cepat mengharap hasil. Ah, belumlah saya menjadi guru yang bijak. Yang tak hanya menyentuh fisik mereka tapi juga mengetuk ruhani.

"Berapa banyak guru yang dalam doa-doa panjangnya meminta secara khusus kesuksesan muridnya. Guru yang khusu' memohon kepada Allah agar diberi keberkahan ilmu atas muridnya. Kita kehilangan sosok guru yang seperti ini," demikian ingatan saya tentang sosok guru yang diungkapkan seorang ustadz.

Saya tidak memiliki latar belakang akademik sebagai guru. Sejak kecilpun tidak tertarik menjadi guru. Namun takdir Tuhan memiliki jalannya sendiri. Bahkan sejak Aliyah saya sudah berkesempatan memiliki murid. Dan seolah takdir itu selalu mengikuti.

Dan jika hari ini saya diamanahi membimbing puluhan anak-anak itu, semoga inilah takdir terbaik saya yang kelak di akhirat dapat saya persembahkan sebagai amal terbaik.

Sungguh, manakala lelah raga dan jiwa dalam proses ini, saya akan tersemangatkan dengan mengenang mereka. Para guru, ustadz, pendidik, dan semua orang yang telah berjasa terhadap saya. Patutlah membalas kebaikan mereka dengan terus menapaki jalan ini. Jalan tarbiyah. Semoga Allah suguhkan jamuan istimewa bagi para guru-guru kami. Aamiin.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

RUMAH BACA AL-GHAZI

RUMAH BACA AL-GHAZI