Selasa, 14 Maret 2017

Menyapih Bayi Tanpa Efek Samping

Seperti halnya menyusui, penyapihan yang dilakukan oleh ibu juga memerlukan tehnik dan tahapan tertentu. Tujuannya agar proses penyapihan tidak berdampak buruk pada fisik dan psikologis anak dan juga ibu. Keluhan yang paling sering dialami ibu adalah payudara membengkak, terasa kencang dan perih disertai demam akibat penumpukan ASI.

Sementara bayi yang disapih secara mendadak terkadang mengalami diare, demam, rewel, sering mengamuk serta selalu gelisah. Hal yang paling awal dilakukan oleh ibu sebelum memulai proses penyapihan adalah menjalin kedekatan emosional dan komunikasi yang hangat dengan anak. Secara fitrah kondisi bayi sangat tergantung pada kondisi emosional ibu.

Waktu yang tepat untuk memulai penyapihan adalah pada saat bayi dinilai sudah siap disapih atau dikenal dengan istilah menyapih alami. Kesiapan bayi dilihat dari kemampuan anak mengkonsumsi makanan sesuai tahap perkembangan usianya. Kecukupan asupan gizi sangat diperlukan oleh batita. Selain juga diperhatikan kesiapan bayi berinteraksi sosial dengan orang selain ibunya seperti ayah atau saudara-saudaranya.

Jika merujuk pada Al-Qur’an, masa penyusuan dijelaskan dalam surat Al-Baqarah ayat 233, “dan ibu-ibu hendaklah menyusui anak-anaknya selama dua tahun penuh, bagi yang ingin menyusui secara sempurna .... Apabila keduanya ingin menyapih dengan persetujuan dan permusyawaratan antara keduanya, maka tidak ada dosa atas keduanya.” Menurut Ibnu Katsir  ayat tersebut merupakan perintah agar ibu maksimal melakukan peyusuan selama dua tahun.

Sedikit berbeda dengan pendapat Ibnu Abbas yang menyimpulkan bahwa lama dua tahun hanya  berlaku pada bayi yang lahir prematur.  Beliau mengungkapkan berlandaskan surat al-Ahqaf ayat 15. “Kami perintahkan kepada manusia supaya agar berbuat baik kepada orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Masa mengandung sampai menyapihnya selama tiga puluh bulan,...”

Ukuran waktu 30 bulan adalah masa mengandung dan menyusui.  Artinya jika melahirkan pada usia bayi 9 bulan maka tersisa waktu 21 bulan untuk menyusui (kurang dari 2 tahun). Jadi secara umum para ibu melakukan  penyapihan pada usia anak sekitar 2 tahun atau lebih. Sebagaimana kebijakan yang dikeluarkan oleh IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia).

Meski demikian, persiapan penyapihan harus dilakukan beberapa bulan sebelumnya dengan melibatkan semua anggota keluarga. Sebagai contoh dibuat program khusus seperti minum jus bersama saat jadwal bayi menyusui untuk mulai mengurangi jatah ASI, membacakan buku cerita atau berkisah ketika menjelang tidur untuk mengalihkan fokus anak dan lainnya. Mengungkapkan alasan secara bijak pada bayi agar ia bersiap tidak menyusui dengan sang ibu juga harus dilakukan.

“Adek sudah pintar makan, sudah punya banyak gigi jadi adek tidak menyusu dengan Bunda lagi. Tapi Bunda tetap sayang sama adek.” Bukan menakut-nakuti bayi atau mencari alasan yang tidak benar.  “Susunya pahit, adek tidak usah nyusu Bunda lagi.” Pernyataan ini selain berbohong juga membuat anak merasa kecewa.

Mengurangi kualitas dan kuantitas menyusui secara berangsur juga bermanfaat untuk mengurangi resiko payudara membengkak. Kebiasaan untuk mengoleskan sesuatu seperti lipstik, arang dan sebagainya pada puting dengan tujuan agar bayi tidak lagi menyusu bukanlah cara yang baik. Bisa saja mengakibatkan iritasi pada payudara serta berpeluang membuat bayi keracunan.

Selanjutnya adalah meyakinkan pada anak bahwa tahap penyapihan bukan berarti berkurang kasih sayang ibu. Memeluk anak lebih banyak adalah salah satu cara agar anak paham bahwa ia tetap dicintai. Meskipun ibu harus konsisten menolak permintaan anak menyusu tetapi lakukan dengan penolakan yang lembut. Bila ternyata bayi mengalami gangguan kesehatan bisa dikonsultasikan ke tenaga kesehatan apakah tetap melanjutkan proses penyapihan atau dihentikan dulu sampai menunggu kondisi anak sehat.

Nah, jika tahapan tersebut dijalani dengan baik oleh ibu dan anak serta dukungan anggota keluarga maka ‘ketegangan’ penyapihan bisa diminimalisasi. Balita dapat melalui masa penyapihan dengan kepercayaan diri yang tumbuh dari  kehangatan cinta orang tua. Dan ini menjadi investasi berharga untuk  menumbuhkan karakter tangguh pada jiwa anak.


Share:

2 komentar:

RUMAH BACA AL-GHAZI

RUMAH BACA AL-GHAZI