Jumat, 31 Maret 2017

Dilarang Latah Ikut Bisnis Online

Salah satu hasil survey Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) tentang Data Statistik Pengguna Internet Indonesia tahun 2016 menyatakan sebanyak 2,2 juta atau 16,6 % pengguna internet di Indonesia adalah ibu rumah tangga dari 132,7 juta user. Hanya berada satu tingkat dibawah jumlah pengguna internet yang berprofesi sebagai wiraswasta dengan jumlah 62 % atau 82,2 juta.

Wajar jika dunia maya menjadi pasar potensial bagi berkembangnya bisnis online. Dari pada smartphonenya dipakai hanya untuk unggah foto selfie mending dipakai untuk dapat tambahan uang bulanan. Demikian kira-kira logika yang banyak disebarkan untuk mengajak para ibu ikutan berbisnis dengan menggunakan fasilitas kecanggihan tehnologi informasi.

Tentu saja hal tersebut menjadi lebih baik dari pada sekedar menggunakan handphone dengan jaringan internet untuk mengikuti nafsu berselfie ria. Tidak kalah dengan para ABG, ibu-ibu juga terkadang mengidap kecanduan selfie cukup memprihatinkan. Kebiasaan selfie dianggap sebagai adalah salah satu cara (atau satu-satunya cara) untuk menjaga kewarasan mengurusi rumah tangga dengan setumpuk permasalahannya. Masak ini, cekrek. Jalan-jalan, cekrek. Punya anak, cekrek. Beli terasi, cekrek. Hingga nyaris tidak ada bagian hidupnya luput dari bidikan kamera yang kemudian diunggah. Dengan berbisnis online hasrat mengunggah foto (mungkin) bisa tersalurkan secara baik dan benar.

Namun, tentu ada juga para ibu yang memang memilih menekuni berjualan di pasar maya karena sejak semula berniat membuka usaha. Dengan berbagai pertimbangan, mereka mulai secara serius mempelajari sistem yang memungkinkannya membangun bisnis berbasis online. Atau menjadikan fitur-fitur  media sosial sebagai tempat promosi barang dan jasanya.   

Dengan beragam latar belakang kondisi tersebut, muncullah trend ibu-ibu pemilik toko online baik yang memiliki web sendiri maupun ikut menggelar dagangan di pasar online (market place) yang sudah ada. Terbukti dari data bahwa web onlineshop meraup keuntungan berlimpah dari sekitar 82,2 juta pengunjung atau 62 % pengguna internet di Indonesia. Atau bisnis personal yang memiliki ruang di pasar online sebanyak 34,2 % atau 45,3 juta pengguna.

Kendati demikian, bukan berarti kemudahan tehnologi sejalan dengan kemudahan bisnis online. Apapun bentuknya, menjalani bisnis harus dengan tujuan yang jelas bukan sekedar latah, ikut kekinian. Karena berbisnis tetap saja memiliki sejumlah tantangan yang harus diatasi dengan ilmu dan belajar dari pengalaman.

Sekedar contoh sederhana bahwa materi tentang internet marketing minimal harus dimiliki bagi yang memutuskan berbisnis online. Jika dikatakan bahwa bisnis harus berani menanggung resiko dan tidak takut gagal bukan berarti pelaku bisnis boleh terjun bebas. Belum lagi pembelajaran tentang mental dan sikap seorang pedagang. Sulit memberi kesan positif jika suatu ketika promosi produk  di akun media sosial, lain hari membuat status percekcokan dengan pasangannya. 

Learning by doing. Sembari memulai berjualan sembari memulai belajar berdagang sesuai aturan tentu saja sangat bisa. Aturan bukan hanya aturan secara ilmu ekonomi tetapi juga ilmu agama tentang bagaimana bermuamalah yang berkah.  Bahkan beberapa displin ilmu pun mesti mulai dibaca-baca guna menunjang kelangsungan usaha. Bergabung dengan komunitas menjadi salah satu sarana meningkatkan kapasitas diri selain juga membangun jaringan. Bisnis online bukan sekedar mengunggah foto-foto jualan lalu menulis kata, 'ready.' Bahkan konsumen pun harus mendapatkan edukasi dari produk atau jasa yang ditawarkan.
Share:

2 komentar:

  1. Learning by doing, Suka t benar" orang yang ingin sukses dan berusaha terus. Kunbal moga jadi bewe setia

    BalasHapus

RUMAH BACA AL-GHAZI

RUMAH BACA AL-GHAZI