Senin, 06 Maret 2017

Ciptakan Sistem, Kiat Pengasuhan dari Kiki Barkiah

Dari Abu Hurairah Ra. Ia berkata: Bersabda Rasulullah saw. : Islam mulai berkembang dalam keadaan asing. Dan ia akan kembali asing pula. Maka beruntunglah orang-orang yang asing.” (HR Muslim)
Merujuk pada hadist ini,  boleh  jadi kondisi tersebut telah terjadi. Muslim yang iltizam (komitmen) dengan keIslamannya tersisih dari pergaulan masyarakat. Bahkan di tengah masyarakat muslim sendiri. 

Penyebabnya adalah Islam hanya sebagai identitas keberagaam. Islam tidak menjadi konsep hidup dan kehidupan. Bukan perkara mudah bisa bertahan di tengah keterasingan. Meski bukan berarti tidak mungkin.

Hadir sebagai pembicara di acara seminar parenting dengan tema Menjadi Ibu Tangguh di Akhir Zaman, Kiki Barkiah mengulas banyak hal terkait pola pengasuhan yang meski dijalankan oleh orang tua muslim. “Semua bagian interaksi dengan anak dapat dihubungkan dengan Al-Qur’an dan hadist. Sehingga, anak akan merujuk permasalah yang dihadapinya kepada sumber Islam tersebut,” ujarnya. Ketika anak menemui perbedaan antara apa yang diajarkan di rumah dengan di lingkungan, ia akan mempertimbangkan baik-buruknya.  Artinya anak dapat memilih sesuatu berdasarkan aturan Islam.

Untuk menanamkan imunitas pada jiwa anak adalah tugas orag tua. “Jangan malu dianggap asing,” tandasnya. Perkembangan zaman dengan kecanggihan tehnologi dan gaya hidup hedonis memiliki dampak kian beragamnya permasalahan yang dihadapi generasi mendatang. Ancaman terhadap akidah anak semakian komplek.

Sebagai contoh hasil survey yang dilakukan oleh Yayasan Kita dan Buah Hati terhadap 2.594 anak kelas 4, 5 dan 6 SD. Hasilnya menunjukkan 98 persen anak pernah melihat konten pornografi. Konten diakses melalui handphone baik pada film, video klip, games online, komik online maupun situs internet. Sementara di lingkungan kita sekarang sudah sangat biasa melihat anak-anak memiliki smartphone sendiri dengan fasilitas data internet. Selain itu masih ada kasus-kasus  amoral, kekerasan, serta kriminalisasi yang melibatkan anak baik sebagai korban atau pelaku dengan jumlahnya yang tak terhitung.

Konsep orang tua mempersipkan anak menghadapi ‘akhir zaman’ sebenarnya sudah terjabar dalam Al-Qur’an dan hadist. Ada tiga pilihan. Pertama membiarkan saja anak menjadi buih di lautan sebagaimana sabda Rasulullah. Jumlahnya banyak namun tidak memiliki kekuatan sehingga mengikuti kemanapun gelombang menghempaskannya. 

Kedua, menjadi generasi terpilih sebagaimana para pemuda yang menjadi bagian dari pasukan pembebas Konstatinopel.  Ketiga, menjadikan anak  yang memegang teguh keimanannya. Jikalau belum mampu memilih kelompok kedua, minimal terkategori kelompok ketiga. Dan jangan pernah menjadi bagian dari golongan pertama.

Ketika menanggapi pertanyaan peserta mengenai sistem pendidikan di Indonesia dinilai kurang mendukung pembentukan karakter Islami pada anak, ibu enam putra-putri tersebut berujar, “ciptakan sistem.” Dari pada menghabiskan energi mengkritisi sistem yang kita tidak punya kewenangan untuk mengubahnya. Akan lebih baik menghabiskan energi untuk menciptakan sistem sendiri yang mampu mewujudkan visi misi pengasuhan anak. Atau mengadopsi sistem yang masih bisa dikolaborasikan guna mendidik generasi terbaik.

Materi siroh menjadi kurikulum wajib dalam pengasuhan anak karena dari sirohlah anak akan mengambil teladan sifat dan sikap Rasulullah sebagai sebaik-baik manusia. Pilihan sekolah pun haruslah mendukung konsep pengasuhan anak. “Saya mengajar sendiri semua anak-anak karena kondisi mereka yang memerlukan perlakuan khusus,” ceritanya yang menargetkan semua anak telah hafidz 3o juz Al-Qur'an sebelum mereka baliqh. 

Namun tidak semua anak harus mengikuti homeschooling. Ada anak yang justru perkembangan potensinya lebih pesat saat mengikuti pelajaran dengan sistem klasikan di sekolah formal. Terpenting adalah orang tua memiliki waktu utama untuk mendidik anak-anak. Tugas memasak, menyapu dilakukan disela-sela mendidik anak. Mengelap kaca, mencuci mobil dilakukan disela-sela mendidik anak. Bukan sebaliknya.  

Acara yang digelar Salimah PC Kalidoni pada Ahad (05/03) mendapat antusias luar biasa dari para ibu, remaja putri hingga meriah oleh kehadiran cukup banyak bayi dan balita. Termasuk sang pembicara yang membawa serta bayinya yang berusia kurang dari satu bulan. "Tidak perlu mencari banyak alasan untuk berbuat kebaikan," pungkas Aspi Zaitun selaku ketua PW Salimah Sumsel. Beberapa peserta mendapat kesempatan untuk menyampaikan testimoni di akhir acara.

Share:

0 komentar:

Posting Komentar

RUMAH BACA AL-GHAZI

RUMAH BACA AL-GHAZI