Kamis, 02 Februari 2017

Mendidik Anak Lewat Marah, Bisa?

Menurut para psikolog, marah merupakan salah satu emosi dasar manusia. Artinya setiap orang memiliki potensi marah yakni sikap yang timbul karena ketidaksukaan atas sesuatu atau kejadian. Meski demikian, penyebab dan wujud dari emosi marah bisa bermacam-macam tergantung perspektif atau cara pandang seseorang. 

Ada sebagain besar orang tua mewujudkan marahnya melalui bentakan, pukulan, kata-kata kasar, mata melotot dan sejenisnya. Atau sebagian lain spontan marah ketika anak membuat kegaduhan, memecahkan gelas atau mogok mandi. Beberapa kasus diungkapkan oleh Wening Wulandaru dalam bukunya Marah yang Bijak.

Tujuan paling umum orang tua melakukan marah adalah menginginkan anaknya tidak mengulangi lagi tindakan yang dianggap tidak menyenangkan orang tua. Namun kenyataannya, keinginan orang tua yang diwujudkan dengan marah tidak dipahami demikian oleh anak. Anak lebih cendrung menerima pesan bahwa orang tuanya kejam, diktakror, atau selalu marah-marah. Demikian hasil interview yang dilakukan oleh Bunda Wening, sapaan akrabnya kepada beberapa anak usia 4 sampai 8 tahun. 

Ada begitu banyak dampak buruk marah yang tidak terkendali bagi pelaku maupun korban. Secara psikologis, pelaku dan korban akan mengalami gangguan kejiwaan. Orang tua akan merasa anaknya sulit diatur hingga membuatnya selalu emosi. Anak akan merasa orang tuanya hanya menuntut tetapi tidak mau mendengar keinginannya. Kemudian dampak sosial dan masa depan anak juga sangat membahayakan. Secara tidak sadar orang tua akan mengajarkan berprilaku tempramental pada anak yang akan diwariskannya kembali.

Dengan demikian perlu ada evaluasi wujud marah orang tua, bukan menghilangkan emosi marah dalam pola pengasuhan. Bagaimanapun jika dikelola secara benar, marah justru memberi dampak positif baik bagi orang tua maupun anak. "Marah merupakan suatu bentuk komunikasi, mengkomunikasikan kekecewaan dan harpan-harapan pelaku," tulis direktur  Asy-Syifa Institute ini. Marahlah dengan baik dan benar. Bukan marah yang mengikuti hawa nafsu serta menimbulkan kerusakan. Melainkan marah yang semata menunjukkan ketidaksepakatan atas tindakan tertentu dan dengan wujud yang tidak menyakiti baik fisik dan psikis pihak dimarahi.

Nah, untuk bisa mengubah wujud marah yang cendrung destruktif, di buku tersebut penulis memaparkan beberapa langkah yang bisa dipraktekkan langsung. Dimulai dari tehnik relaksasi yakni aktivitas melibatkan pergerakan anggota badan secara mudah dan dapat dilakukan di mana saja guna membantu mengatasi stres. Seseorang yang memiliki tingkat stres yang tinggi akan berpotensi mudah mengumbar amarah bahkan terkadang hanya disebabkan permasalahan kecil.  

Tehnik pengendalian marah lainnya adalah breaking state yakni pemutusan pola dari suatu kondisi tertentu baik berupa ucapan maupun gerakan dengan tujuan untuk beralih ke kondisi yang baru. Dan tehnik ini bersumber dari hadist Rasulullah; “Apabila engkau marah dalam keadaan berdiri maka duduklah. Jika engkau masih marah maka berbaringlah dan jika masih  marah maka ambillah air wudhu.” (HR Abu Dawud) Diharapkan dengan mengubah posisi tubuh akan mengubah kondisi dan suasana hati.

Lalu jika ada orang tua mengatakan bahwa ia marah pada anaknya karena ia menyayanginya. Boleh jadi demikian bila saja wujud marah orang tua menjadikan anak menyadari kesalahnnya dan tidak mengulangi lagi. Bukan justru menciptakan jarak antara hubungan orang tua dan anak. 

Yuk para orang tua belajar marah!

***    

Identitas buku
Judul : Marah yang Bijak
Penulis : Bunda Wening
Penerbit : Tinta Medina, 2016
Tebal : xx + 107 hlm.

Share:

0 komentar:

Posting Komentar

RUMAH BACA AL-GHAZI

RUMAH BACA AL-GHAZI