Selasa, 17 Januari 2017

Kang Abik; “Berani Kaya sekaligus Berani Dipenjara”

“Terkadang seorang penulis harus kejam pada diri sendiri,” demikian diungkapkan Habiburrahman El Shirazy saat menyampaikan materi kepenulisan di acara perdana Klub Cinta Menulis FLP Palembang. Kejam dalam mendisiplinkan diri agar meluangkan waktu khusus  untuk menulis dan membaca. Karena hanya penulis disiplin yang akan produktif dan memiliki karya fenomenal.
“Bagi saya,” lanjut penerima penghargaan IBF Award 2006 ini, “penulis adalah pekerjaan yang merdeka. Kita bisa menulis kapanpun dan dimanapun.” 

Diantara modal menjadi penulis adalah berani. Berani menuliskan, berani dikritik, berani kaya tapi berani juga dipenjara. WS Rendra  adalah satu diantara penulis yang mencicipi penjara karena tulisannya. Inilah bentuk perjuangan seorang penulis terhadap gagasannya yang terkadang bertentangan dengan penguasa.

Namun jika ingin menjadikan motivasi, bisa diingat yang senang-senangnya. Penulis harus berani kaya semisal karena tulisan menjadi bestseller, terjual dalam jutaan eksamplar, diangkat ke layar lebar lalu penulisnya diundang ke berbagai acara. Tentu ini hasil yang juga patut disyukuri. Maka ketika ada ide, segeralah catat agar tidak terlewat begitu saja. “Ketika anak menangis,  tiba-tiba ada ide yang tidak sempat tercacat.  Jadilah lenyap 5 milyar dari royalti buku yang mungkin lahir dari ide tersebut,” beliau mencontohkan. 

Ketika ide telah tercatat, seorang penulis dapat menggarapnya di kemudian hari. Cukup banyak tulisan Kuntowijoyo di tahun 90-an yang merupakan arsip bank idenya di tahun 60-an.
Perjalanan menjadi penulis bukan hal yang mudah. “Wartawan banyak menulis bahwa karya pertama saya Ayat-ayat Cinta langsung meroket. Padahal sebelumnya saya sudah mempunyai karya lain. Dan saya pun melalui proses panjang. Mulai dari dicemoohkan teman, kuliah ilmu hadist kok nulis cerpen. Cerpen saya Suatu Hari di Mekkah dibedah habis-habisan hingga beragam kritikan lainnya,” cerita mantan Ketua FLP Kairo tersebut.

Modal lainnya adalah keahlian di bidang yang akan ditulis serta keahlian tehnis menulis. Apapun bidang keahlian seseorang sebenarnya mampu menjadi penulis. Karena menulis diawali dengan bidang yang paling disukai dan dikusai. Dengan begitu akan ada gairah untuk menyelesaikan tulisan.Kalaupun tidak memiliki keahlian di bidang yang akan ditulis maka haruslah melakukan riset tentang hal tersebut. Mungkin terlihat kecil namun berdampak pada tulisan. Semisal mencantumkan marga atau gelar daerah tertentu pada tokoh dalam tulisan tanpa tahu dengan pasti penjelasannya. Dikhawatirkan menimbulkan kesalahan atau bahkan kritikan dari pembaca yang mengetahuinya.

Keahlian tehnis menulis dapat dipelajari sembari proses menulis itu sendiri. Karena dari kesalahan karya yang dikritik orang akan menjadi pelajaran. Untuk saat ini sudah banyak buku atau workshop yang membahas tentang keahlian menulis. Maka terpenting dari semuanya adalah niat yang kuat untuk menulis.

Niat akan tumbuh ketika menyadari bahwa aktifitas menulis tidak terbatas pada hobi saja. Melainkan misi yang besar sebagai ikhtiar memajukan peradaban bangsa serta kemanusiaan. Berkembangnya ilmu pengetahuan akan sangat ditentukan oleh atmosfir literasi. Hanya bangsa yang memiliki tingkat minat baca dan menulis tinggi yang dapat menjadi bangsa terdepan dalam berbagi inovasi. 


Dalam sejarah, peradaban Islam di Andalusia menjadi kiblat pengetahuan benua Eropa bahkan dunia. Karena pada masa itu, masyarakat terlebih para kaum terpelajar sangat terbiasa membincangkan beragam keilmuan seperti filsafat, sastra, sejarah dan sebagainya. Maka ketika Indonesia ingin menjadi bangsa kuat,  minat baca dan menulis masyarakatnya haruslah di atas rata-rata negara lain.  


Share:

2 komentar:

  1. Palembang eh daerah suami, ngajak dong kalo ada acara

    Btw kang abik emang joss

    BalasHapus
    Balasan
    1. Insyallah disenggol mbak Milda kalau kita ngumpul-ngumpul

      Hapus

RUMAH BACA AL-GHAZI

RUMAH BACA AL-GHAZI