Sabtu, 21 Januari 2017

Hadirkan Kisah Al-Qur'an pada Anak

Indonesia memiliki warisan budaya berupa dongeng nusantara. Hampir di setiap daerah memiliki dongeng tersendiri. Baik berupa hikayat, mitos maupun fabel. Dongeng tersebut terus diturunkan dari generasi ke generasi melalui tradisi bertutur lisan. Pewarisan dongeng juga dilakukan dengan pengumpulannya dalam bentuk buku atau rekam media lainnya. 

Di sekolah, dongeng masuk dalam media pembelajaran pada mata pelajaran Bahasa Indonesia. Pada perkembangan selanjutnya, aktifitas mendongeng  kian populer di kalangan pendidik. Karena melalui cerita rekaan tersebut dapat disisipkan nilai yang ingin ditanamkan kepada anak. Sosok dalam dongeng dibuat mewakili kondisi kenyataan serta sesuatu yang diharapkan. Kecendrungan mendengar dongeng atau secara umum berupa kisah ternyata merupakan fitrah manusia.   

Al-Qur’an menyampaikan hikmah melalui banyak kisah di dalamnya. Kisah-kisah tersebut menyimpan beragam nilai kebaikan yang dapat dikembangkan dan menjadi teladan.

“Menuturkan kisah cocok untuk anak semua usia. Karena sesungguhnya setiap orang senang mendengar kisah,” ungkap kak Ari Prabowo, Ketua Umum Persaudaraan Pencerita Muslim Indonesia (PPMI).

Sebenarnya cukup banyak buku-buku kisah Islami untuk anak. Namun orang yang secara langsung menuturkan kisah tersebut dihadapan anak-anak belum cukup banyak. Inilah yang menjadi ruang dakwah bagi PPMI, komunitas yang memiliki misi menciptakan supremasi kisah-kisah Qur’ani, Sirah Nabawiyah, Tarikh Khulafa, sejarah para ulama, serta cerita fiksi Islami.

“Maka kami di PPMI berkomitmen untuk mengisahkan tokoh-tokoh hebat dalam sejarah Islam seperti Rasulullah, para sahabat, orang-orang sholeh agar menjadi teladan bagi generasi muslim. Kita punya banyak kisah dalam Al-Qur’an maupun sejarah yang sangat relevan dalam upaya membangun akhlak anak bangsa,” lanjutnya yang juga mengungkapkan kehadirannya merupakan rangkaian agenda PPMI Road to Palembang Islamic School.

Ketika berkisah tidak hanya membuat anak terhibur dan senang, yang terpenting adalah dari kisah yang disampaikan anak mempunyai gambaran bahwa ia dapat memiliki sifat dan sikap seperti sosok yang dikisahkan. Sebagai contoh, seusai dikisahkan tentang Abdurrahman bin Auf maka anak anak termotivasi untuk menjadi pengusaha muslim yang dermawan. Kak Ari juga mengatakan bahwa untuk bisa menyampaikan kisah secara menarik tentu ada latihannya. Intonasi suara, ekspesi muka, gerak tubuh hingga adab dalam berkisah.

Menyampaikan kisah tidak dapat dilakukan secara mendadak. Mesti ada persiapan terlebih dahulu karena yang akan disampaikan berupa sesuatu yang nyata, tidak hanya rekaan imajinasi. Itupun yang menjadi alasan PPMI memakai istilah kisah bukan dongeng. Kemudian secara khusus, penyampai kisah akan menyusun target kognitif (pengetahuan apa dari kisah), target afektif (respon dan sikap apa yang harus dimunculkan), target konatif (semangat apa yang akan diberikan) serta target spiritual (ruh apa yang akan kita bangkitkan dari kesadaran anak). Sehingga kisah tidak hanya numpang lewat begitu saja di hadapan anak-anak. 

PPMI melalui Gerakan Indonesia Berkisah, Indonesia Berkah berharap mewujudkan generasi Islam 2030 yang berkarakter Qur’ani bermartabat tinggi, layak tanding dan layak sanding.

“Kita merespon baik ketika PAUD kita akan dikunjungi kak Ari. Anak-anak juga antusias ketika mendengarkan kisah,” komentar Bunda Rahmi Susiani dari Kelompok Bermain Bintang Kecil  yang juga memberikan informasi bahwa PPMI akan membentuk kepengurusan di Palembang. 

Nah para ayah-bunda, sudahkah berkisah dengan ananda hari ini?















Share:

0 komentar:

Posting Komentar

RUMAH BACA AL-GHAZI

RUMAH BACA AL-GHAZI