Sabtu, 24 Desember 2016

Cuma Mau Lihat Anak Ayam

Sejatinya, selalu ada alasan seseorang melakukan sesuatu. Meski ia hanyalah seorang anak kecil. Bagi orang tua patutlah kiranya memberi jeda agar mendengarkan penjelasan anak. Terkadang apa yang diungkapkan anak adalah hal tak pernah terpikirkan orang dewasa. Dan saya begitu sering mengalaminya.

Karena entah dimana posisi kipas, saya mencari kertas yang cukup keras di tumpukan buku bekas. Sebuah buku gambar lumayan menghalau cuaca gerah. Mush’ab akhirnya tertidur setelah dikipasi plus dielus-elus punggungnya. 
Sementara adiknya, Raihan (2 tahun) tetap asyik mengamati semut di dinding. Melihat situasi aman terkendali, sayapun memantau dunia perfacebook-an.

“Dek...,” tegur saya ketika akhirnya menyadari sobekan buku sudah memenuhi lantai.
Sementara saya memilih kalimat yang pas untuk menegur, si bocil menyahut, “adek ambil gambarnya.” Tangannya terus saja merobek-robek buku.  

Sedetik saya diam. Menghela nafas dan ... menyerah. Sebuah senyum saya berikan padanya.

“Oh jadi adek mau ambil gambarnya.”

“Eh,” dengan kepala mungil itu mengangguk. Gambar dengan warna ceria di buku tersebut  ternyata membuat Raihan ingin mengambilnya dan untuk itu ia merobek buku.

Lain waktu saya sibuk memasak dan tetap diasisteni oleh para bocil.

“Tek... tek...” Saya mendengar suara tersebut tapi tidak terlalu hirau. Pikir saya biasalah anak-anak akan menggunakan beberapa alat masak. Mungkin mengambil cangkir lalu dipukul pakai sendok atau lainnya.

“Nda...,” panggil si Kakak (3,5 tahun).
“Iya, Nak,” saya jawab sambil terus mengurusi gorengan di kompor.
“Nda, sini liat dulu.” Kini tangannya sudah menarik baju saya.
“Iya bentar.” Demi menjaga agar tidak ikan gosong, api kompor dikecilkan dulu sebelum akhirnya saya menoleh.

Kakak-adik itu tersenyum lepas manakala bundanya melihat apa yang mereka kerjakan.
“Kan sudah Bunda kasi tau kalau kakak-adik tidak boleh memecahkan telur. Ini untuk lauk kita atau untuk buat bolu.”

“Nda, kakak tidak pecahin telor. Kakak cuma mau liat ada gak anak ayam dalam telur ini.” Mendengarnya membuat saaya jadi bingung, mau kesal atau geli. “kata Bunda kan anak ayam keluar dari telur.” Si kecil melanjutkan penjelasannya.

Baiklah, lagi-lagi saya menyerah. Bertindak cepat menyelamatkan telur yangmasih bersih dan langsung ikut digoreng.


Begitulah anak-anak itu. Mereka hanya ingin menuntaskan keinginantahuan serta membahagiakan hati. Bagi mereka, semua yang ada di sekitar adalah dunia penuh warna. Ketimbang memilih emosi negatif melihat tingkah mereka, lebih bijak temani saja kemeriahan dunia si kecil.  
Share:

1 komentar:

  1. Ccuuaakkeepp kakak3 musab dan raihan...hahahaha.... samo nian dengan gadis kami....

    BalasHapus

RUMAH BACA AL-GHAZI

RUMAH BACA AL-GHAZI