Selasa, 06 Desember 2016

Balita Minta Keadilan

Menjadi orang tua artinya siap menjadi teladan. Dalam setiap tindakan, ucapan, bahkan ketika sesuatu masih dalam pemikiran. Dan terkadang tanpa disadari, pertanyaan anak menjadikan orang tua harus banyak belajar lagi.

"Kakak, maaf ya mobilannya tidak boleh masuk." Ujar saya setenang mungkin karena biasanya anak-anak justru akan melakukan sesuatu yang dilarang.
Mush'ab yang tengah duduk di mobilannya menatap lurus ke saya. "Kenapa, Nda?"
Dari nadanya bicara, sepertinya ia akan mudah mengikuti keinginan saya. "Karena mobilan Kakak kotor. Jadi mainnya di luar saja."

Awalnya mobilan tersebut khusus dimainkan di dalam rumah. Tapi sejak adiknya sudah mulai bisa ikut bermain, halaman rumah menjadi lebih asyik.  Bukan hanya dijadikan mobilan untuk dinaiki, nasib mobil itu serbaguna. Sesekali menjadi mobil pengangkut pasir. Lain waktu jadi mobil pengangkut tanah. Resikonya kondisi mobil sudah tidak layak lagi masuk ke rumah.

Beberapa detik saya tunggu, balita itu tak jua membalikkan posisi mobilannya. Saya yang berdiri dekat pintu mulai melirik lantai. Telah ada  bekas tanah dari roda mobilan.

"Kenapa motor ayah boleh masuk?" Saya terjebak dengan jawaban sendiri. "Motor ayah juga kotor," ia melanjutkan gugatannya.  Rumah kami tidak punya garasi. Jadilah setiap malam motor diparkir di dapur.

Kami saling menatap. Sejenak saya berpikir, meski lebih hati-hati menjawab. Jika saya menjawab, kalau motor dibiarkan di luar rumah  bisa saja dicuri orang. Saya khawatir alasan itu pun dikembalikan ke saya.  Jika motor menjadi barang berharga bagi ayahnya, maka mobilan pun sangat berharga bagi ia.

Akhirnya, saya memutuskan untuk memeluknya. Lalu perlahan mengulangi lagi kesepakatan kami sebelumnya. Bahwa mobilan itu sudah disepakati hanya untuk bermain diluar.

Meski usianya masih balita, nyatanya ia sudah teguh memperjuangkan keinginannya. Bukan hanya sebuah jawaban yang benar tapi juga memenuhi rasa keadilan yang ia harapkan.

Ah, mungkin begitu juga yang tengah dirasakan mayoritas rakyat Indonesia.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

RUMAH BACA AL-GHAZI

RUMAH BACA AL-GHAZI