Kamis, 24 November 2016

Pesan Perempuan-perempuan Pencuri

Kamis malam kami menghadiri acara Yasinan seorang keluarga. Lokasinya hanya sekitar tiga kilo meter dari rumah. Meski tidak terlalu kenal, tetangga yang hadir cukup tahu bahwa kami keluarga ahli hajat.

Dipertengahan acara, anak-anak mau buang air kecil. Maka, sayapun menemani mereka ke toilet. Untuk kembali ke ruang tengah rasanya terlalu repot. Melewati banyak ibu yang tengah menyiapkan makanan. Akhirnya, kami pun duduk di antara mereka. 

Ada kebiasaan di sini membawakan makanan ke tetangga yang hadir. Jadi selain makanan untuk disajikan juga ada makanan dibungkus untuk dibagikan. Dua orang ibu di samping saya bertugas memasukkan nasi ke plastik-plastik khusus. Sesekali saya membantu membukakan plastik.Tetapi  lebih banyak mengawasi anak-anak yang juga ingin berpartisipasi.

Tanpa sengaja mata saya menangkap gerakan salah seorang ibu. Tangannya menarik bungkusan nasi yang sudah diisi beragam sayur dan lauk ke arah bawah tempat duduknya. Karena mengetahui saya melihatnya, ia terpaksa tersenyum.  Saya ikut senyum dengan kaku.  Lalu ia mengalihkan pandangan seolah kembali sibuk memasukkan nasi ke plastik. Saya tahu ia merasa tidak nyaman lagi dengan keberadaan saya didekatnya.

Untungnya, pembacaan surat Yasin beserta rangkaian do’a telah usai dan dilanjutkan makan bersama.  Maka saya mengajak anak-anak kembali ke ruang tengah.  “Kasihan ibu itu, hanya untuk sebungkus makanan yang tidak seberapa harus mencuri,” batin saya. Padahal cukup banyak bungkusan makanan dan pasti ibu itu akan kebagian jatah.  Tapi kenapa harus mencuri? Lagi-lagi hati saya masih sibuk memikirkan perbuatan si ibu.

Esok paginya kami ke Kalangan, pasar yang hanya digelar dua kali seminggu tiap Selasa dan Jum’at.  Karena tas berisi keperluan anak-anak cukup berat, saya memutuskaan untuk menginggalkannya di parkiran. Sepertinya tidak akan ada pencuri yang mau mengambil tas berisi baju dan susu bayi, pikir saya. Hanya dompet dan handphone yang dibawa.         

Kakak Mush’ab berjalan dituntun ayahnya. Saya menggendong adik Raihan. Dari arah belakang pasar tempat menjual ikan, kami berjalan menuju lapak menjual sayur-mayur. Lorong diantara kios penjual tidak cukup lebar menyebabkan kami tidak bisa berjalan bersamaan. Saya berjalan di belakang suami yang tampaknya asyik ngobrol dengan kakak.

Beberapa orang dari arah belakang tiba-tiba berjalan menyerempet saya.  Badan saya terdorong ke depan. Spontan saja tangan saya merogoh saku gamis ketika merasa tiba-tiba terasa ringan.

“Bang, Hp-ku,” saya berteriak. Kaki kanan melangkah setapak.
Suami yang berada sekitar satu meter di depan, menoleh. Bengong, tidak bereaksi. Saya yang semula ingin menyusul suami mengurungkan niat. Berbalik badan dan mendapati dua orang ibu di samping kiri dan kanan saya. Tanpa menunggu komando, kedua tangan saya memegangi mereka setelah menurunkan adik dari gendongan.

“Ya Allah, hp ku hilang. Ikhlas,” ucap saya dalam hati meski pikiran saya cepat menjalar. Tidak bisa menulis. Tidak bisa rapat di WA. Tidak bisa menghubungi teman, dan seterusnya.

Di tempat itu seperti mesin waktu dihentikan. Tidak ada orang yang mendekat atau berkomentar. Hanya saya yang menatap hampa ke salah seorang ibu. Tangannya masih saya pegang.

“Aku idak malengnyo,” katanya.
Saya tidak berkata-kata. Sungguh,  tanpa bisa dikendalikan saya langsung membuka plastik hitam yang dibawa si ibu.

“Katek apo-apo di situ,” lagi si ibu itu berkata.  Terlihat kain yang beratakan di dalam plastik dan saya tidak berniat menggeledah semuanya.

Seorang bapak yang menjaga dagangannya di dekat kami seketika berkata, “itu nah hpnyo,” sambil menunjuk ke arah  kios penjual pakaian. Dan benar  hp saya tergeletak di tanah. Tidak terlihat jika tidak menyibak  deretan pakaian yang digantung berjajar. Kedua ibu yang jadi tersangka masih terpaku ketika saya memunguti hp.

“Maaf, bu,” hanya kata itu yang saya ucapkan tepat di hadapan ibu tersebut.  Saya meninggalkan mereka dengan gemuruh hamdalah di hati. Suami langsung mengajak mencari tempat duduk guna mengurangi ketegangan saya.

“Hati-hati, nak,” kata saya ketika anak-anak siap menyantap martabak manis di sudut lain kalangan. Jantung saya masih berdegup kencang saat dua orang buta menyanyikan lagu entah apa judulnya sambil membawa kaleng. Selembar uang saya ulurkan ke mereka. “Mungkin saya kurang bersedekah,” lintasan pikiran saya.

Sepanjang perjalanan pulang, rekaman dua kejadian beruntun yang saya alami terus terputar di ingatan. Mereka ibu-ibu, sama seperti saya. Yang terkadang tidak bisa berpikir normal saat anak-anak merengek  lapar semetara tidak satupun makanan tersisa.

Mereka saudara saya, saudara seiman. Yang punya keyakinan pada Sang Pemberi rezeki namun terkadang masih goyah dengan kenyataan. Mereka memilih mencuri dengan nyata. Saya mungkin juga telah mencuri tanpa disadari. Mereka adalah juga saya.

Lalu, dengan hati layu, saya hanya mampu tersenyum kaku dan berucap, maaf. Maaf atas ketidakberdayaan saya. Sejatinya, mereka berhak atas solusi yang tidak cukup dengan berkata, “ibu, mencuri  adalah perbuatan tercela, dilarang agama.” 

Tidakkah mereka berpesan bahwa ada kerasnya hidup yang tengah dipertaruhkan.  
Share:

1 komentar:

RUMAH BACA AL-GHAZI

RUMAH BACA AL-GHAZI