Selasa, 01 November 2016

Hadirkan Cinta dalam Pernikahan

Bagaimana pemahaman seseorang terhadap pernikahan akan sangat menentukan bagaimana kelak ia menjalaninya. Demikian catatan pertama dari buku Wonderful Family bahwa setiap orang harus menentukan motivasinya untuk menikah.

Beberapa kalangan memilih tidak menikah karena tidak suka menikah dan lebih memilih sendiri. Ada pula yang memilih tidak menikah agar bebas berganti-ganti pasangan. Atau ada yang menikah karena itu suatu kewajaran saja dalam masyarakat.

Bagi orang beriman ketika ia menikah sepenuhnya menyadari bahwa ia sedang melakukan misi ketuhanan, tengah menjalankan risalah kenabian, tengah menunaikan tugas kemanusiaan, serta merintis pembangunan peradaban.

Bukan urusan suka atau tidak. Bukan pula pilihan gaya hidup. Pernikahan adalah ikatan yang tidak boleh diremehkan karena terjadi atas nama Tuhan. Motivasi inilah yang sejatinya dapat menyelamatkan keluarga dari beragam penyimpangan dan kehancuran.

Masalah dan ujian tentu saja akan tetap ada di keluarga manapun. Namun cara menyikapinya mestilah menentukan akhir episode masalah tersebut. Sepasang suami-istri perlu belajar merawat cinta di sepanjang kebersamaan mereka. Saling memahami kekurangan dan memaafkan kesalahan adalah cara jitu agar tidak menyimpan kekecewaan terhadap pasangan. Tentu saja, kebaikan pasangan lebih banyak dibanding kesalahannya bila kita mau jernih menilai.

Sebuah games diajukan penulis dengan meminta kita menuliskan daftar kebaikan pasangan di selembar kertas dalam waktu tiga menit. Jika dalam waktu tersebut anda hanya mampu menulis di bawah sepuluh kebaikan pasangan. Maka cobalah kembali memperhatikan dengan seksama suami atau istri anda. Tidakkah semua kewajiban yang dilakukannya adalah bentuk kebaikan?

Istri yang bangun pagi lalu menyiapkan sarapan. Membersihkan rumah, mengurus anak-anak, mencuci baju, berbelanja dan seterusnya. Suami yang berangkat bekerja, menyediakan uang belanja, membantu merawat rumah, mengantar anak-istri dan seterusnya. Itu semua kebaikan. Belum lagi kebaikan non materi. Kesabaran, kasih sayang, kesetiaan, pengorbanan, tanggung jawab dan sejenisnya. Akan banyak sekali daftar kebaikan pasangan anda. Dengan mengingat kebaikan tersebut keinginan untuk berbuat lebih baik akan hadir. Inilah cinta dalam pernikahan.

Selain itu, rutinitas sehari-hari kerap membuat jarak tak terlihat antara suami-istri. Masing-masing sibuk dengan tugas dan kewajiban yang berulang selama bertahun-tahun. Hubungan pernikahan mulai terasa hambar. Visi pernikahan perlahan mulai pudar. Maka sepatutnya keduanya mengingat kembali kemana arah pernikahan ditujukan.

Jangan sampai hal-hal yang harusnya bisa disepakati bersama seperti pembagian tugas kerumahtanggaan menjadi penghambat melajunya bahtera keluarga. Tidakkah cita-cita pernikahan ingin tetap bersama pasangan hingga ke Syurga?

***
Identitas buku
Judul: Wonderful Family; Merajut Keindahan Keluarga
Penulis: Cahyadi Takariawan
Penerbit: Era Adicitra Intermedia
Tebal: 250 hlm.
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

RUMAH BACA AL-GHAZI

RUMAH BACA AL-GHAZI