Senin, 24 Oktober 2016

Sepuluh Ribu dan Matematika IRT

Hingga dzuhur matahari tak jua menampakkan dirinya. Kuat prediksi hujan kembali menyirami. Tapi, saya punya agenda menghadiri acara dan itu tidak bisa dibatalkan. Bismillah. Setelah cukup lama mengunggu di halte, saya dan duo bocil berhasil mendapatkan angkot.

Sekitar dua puluh menit angkot berjalan, naik seseorang yang ternyata teman saya. Kami saling menyapa seperlunya karena posisi duduk berjauhan. Saat turun saya mengangsurkan uang sepuluh ribu ke sopir angkot, “dua, Pak.”

Sebenarnya saya tidak tahu pasti berapa ongkos angkot. Tiga ribu atau empat ribu. Biar aman saya beri saja lima ribu untuk satu orang. Dan niat untuk membayari ongkos teman tadi sudah ada sejak melihat ia naik ke angkot.

“Oh iya, makasih ya, Mbak!” ucapnya ketika turun angkot.

Dan benar, dengan anggunnya hujan perlahan membasahi semua. Acara yang saya hadiri tetap terlaksana sebagaimana adanya.

Saat pulang artinya saat ngangkot lagi. Hampir penuh penumpang angkot yang saya naiki. Duo bocil awalnya heboh melihat kendaraan lalu-lalang dari kaca mobil yang buram karena air hujan. Seperti biasa, apapun yang dilihat jadi bahan mereka bertanya pada saya. 

Dua menit, empat menit tak ada suara celoteh meraka lagi. Kompak, duo bocil terlelap. Adik nyaman di gendongan dan kakak bersandar di tangan kanan saya.

“Eh Mbak ini saya kasi ongkos,” suara seseorang dari bangku belakang. Seorang teman yang baru saya ingat naik angkot bersamaan.  Tangannya mengulurkan selembar uang.

Meski saya sudah bertekad tidak akan menolak niat baik orang, tetap saja reflek saya menjawab, “eh gak usah. Ada kok.”

“Gak papa, Mbak. Aku traktir mbak deh!” Ia menyelipkan uang tersebut ke sisi lengan saya karena posisi saya sulit bergerak demi menahan anak-anak tidur. Lalu, ia pun turun dengan berucap salam.

Angkot kian melaju. Pun hujan terus mengguyur. Saya tersenyum pada kisah singkat episode senja ini. 

Perginya, saya mengongkosi teman mengeluarkan uang sepuluh ribu. Pulangnya, saya diongkosi teman diberi uang sepuluh ribu. Sama persis, sepuluh ribu. Pada selisih waktu 3 jam. Dua orang teman yang berbeda dan tidak saling tahu.

Sebagai ibu rumah tangga (IRT) saya diharuskan sangat selektif mengeluarkan uang demi tercukupi kebutuhan keluarga. Dan saya pikir, semua IRT juga begitu. Anggap saja sebagai tuntutan profesi. Namun, kejadian kecil sore kemarin semakin menguatkan keyakinan bahwa matematika IRT tidak berlaku untuk pengeluaran bernama sedekah.

Jika saja saya tidak sedekah,  pengeluaran saya sepuluh ribu untuk ongkos pergi-pulang. Karena berniat sedekah, harusnya pengeluaran saya lima belas ribu. Tapi  faktanya saya tetap mengeluarkan sepuluh ribu. Inilah keajaiban. Pembuktian bahwa harta yang disedekahkan tidak akan hilang. Segera tergantian. Itu hanya sesuatu yang dapat dilihat.

Selebihnya, saya yakin ada reward lain yang tidak terlihat namun dapat dirasakan. Ketenangan, kebahagiaan, kasih sayang adalah berkah sadakah yang tiada terkira.


Maha kaya dan Maha benar Allah dengan semua ketentuannya.       

Share:

0 komentar:

Posting Komentar

RUMAH BACA AL-GHAZI

RUMAH BACA AL-GHAZI