Sabtu, 29 Oktober 2016

Oh... Anak FLP

“Oh… anak FLP.” Saya tidak tahu pasti makna kata ‘oh’ yang kerap dilontarkan saat saya memperkenalkan diri. Prediksi saya, mereka akan memuat label, “penulis cerpen islami.” Sesekali saya eneg dengan label tersebut. Faktanya belum ada satupun karya saya bergenre cerpen yang masuk deretan cerpen ‘bestseller’. Bestseller versi saya selain mendapat apresiasi dari banyak pembaca, juga berkualitas dan tentunya punya misi. Misi yang meminjam istilah bunda Helvy Tiana Rosa sebagai sastra menggerakkan.

Cerpen saya masih di level cerpen koran atau media online yang numpang lewat. Saya tidak menganggap itu berada di kelas dua. Tapi, sebagai penulis tentu ada cita-cita melahirkan karya melegenda. Meski penulisnya telah tiada namun karyanya tetap hidup. Sederhananya semisal Aku-nya Chairil Anwar. Maka, untuk cita-cita itu, hingga detik sekarang saya masih harus terus berproses.

Nah, perihal ke-eneg-kan saya terletak pada kata ‘cerpen’. Saya tidak ingin menutup diri tapi sepertinya passion nulis saya bukan di cerpen. Sebagai perbandingan, saat harus menyalesaikan sebuah cerpen maka diperlukan waktu tiga kali lipat dibanding menyelesaikan opini atau essay. Ketika ada pilihan menulis, saya akan lebih memilih menulis jurnalistik daripada fiksi. Saat mengikuti deretan lomba menulis mulai dari yang berhadiah pulsa sepuluh ribuan hingga yang berhadiah jutaan, tulisan artikel saya lebih sering menang dibanding cerpen. Dan yang paling spektakuler, pada agenda diskusi karya FLP, hanya satu saja cerpen saya berjudul “Cokelat Merapi” mendapat standing appluse dari suhu fiksi Azzura Dayana.

Jadi, kalau boleh saya mau teriak pakai toa, “woy FLP itu gak mesti nulis cerpen.” Tapi buat apa juga, toh FLP lahir dan besar dari cerpen. Barulah ketika di usia remajanya FLP mulai dikenal dengan beragam karya anggotanya. Kini, ada begitu panjang nama untuk menyebut anggota FLP di jagat kepenulisan Indonesia, Alhamdulillah ya….

Trus saya dimana?

Hari itu, 8 Februari 2004. Saya dan tiga orang sekampus nekad ikut acara launching dan bedah buku antologi cerpen Sumbagsel berjudul “Ketika Nyamuk Bicara” di ponpes Raudhatul Ulum. Nekad karena acara tersebut dilaksanakan dua hari di ponpes sementara kami baru dapat dapat info H-1. Walhasil berangkat dengan tanpa pakaian ganti dan uang seadanya.

Walau status kami adalah anak yang baru mau lahir, kami sudah dianggap keluarga. Penulis di buku tersebut adalah anggota FLP se-Sumbagsel meliputi Palembang, Lampung, dan Bengkulu. Hadir pula dari pihak penerbit --yang juga anggota FLP-- teh Pipiet Senja. Rezekinya, kita yang diberi tanggung jawab mengantar Si teteh dari ponpes hingga Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II. Kurang lebih dua jam setengah curhat asyik dengan penulis senior berlogat Sunda tersebut, asyik!

Seusai acara penuh kenangan itu saya mendaftarkan diri sebagai anggota FLP. Datang dan pergi teman serumah mulai saya alami. Iseng saya pernah berpikir, “kenapa kok saya betah banget di FLP. Dari mulai unyu-unyu jadi mahasiswa, sibuk-sibuk jadi pekerja, wagi-wangi saat baru nikah hingga sekarang sudah rempong gak beraturan ala emak-emak, tetap setia di FLP?”

Jawabannya adalah… ternyata di FLP tidak mengenal senioritas layaknya organisasi atau komunitas sastra kebanyakan. Sejak awal masuk, saya tidak pernah dianggap sebagai junior dengan perlakukan yang tidak adil. Pun saat sudah lumutan di FLP, saya (dan teman lainnya) tetap welcome dengan anggota baru.

“Ini rumah kita. Kapanpun kalian pulang akan ada pintu yang selalu terbuka,” demikian sambutan dari ketua FLP tiap kali ada acara rekrutmen anggota. Sedihnya, penunggu setia rumah hanya dua, tiga, atau lima orang saja. Selebihnya adalah  puluhan hingga ratusan nama tertulis di absen anggota.

Pilihan untuk berorganisasi memang tidak bisa dipaksakan. Tapi yang sering kali membuat saya sakit hati trus gigit jari adalah ketika terjadi sesuatu terhadap ‘anggota’ maka FLP yang diminta pertangungjawabannya.

“Kok anak FLP nulisnya gitu, sich?”
Akan naïf sekali kalau saya jawab, “Maaf ya si X itu bukan anggota aktif di FLP.”
Kalau sudah begitu,  saya akan membuka file-file foto kegiatan FLP di laptop sambil membayangkan semua yang telah saya lalui bersama FLP. “Sabar ya, Non!”

Dan…, niat untuk dakwah akhirnya jadi pamungkas manis-asem-asim kebersamaan di FLP. Beberapa anggapa nyir-nyir sempat melemahkan semangat. “Dakwah lewat seni, lewat sastra? Tidak ada manhajnya. Lebih banyak mudhoratnya. Mana hasil dakwah kalian?” dan sejumlah pertanyaan yang terang maupun samar ditujukan. Anggap saja sebagai ujian dakwah. Terkadang saya harus menjadi tuli, agar tak menjadi redup.

Berjamaah itu memang melelahkan. Tapi hanya dengan berjamaah kaki ini masih kuat melangkah. Bukan karena saya alumni fakultas Dakwah, namun semoga ini kesadaran pribadi bahwa setiap orang wajib menyerukan kebaikan ummat dengan terus perbaikan diri. Menulis diantara jalannya dan FLP yang saya pilih sebagai sarananya.  

Ada waktu, rumah ini begitu lengang, hingga seolah hanya sendiri berjibaku. Terkadang juga menjadi riuh, hingga bagai teramat banyak yang membantu. Apapun kondisinya, bukan masalah untuk tekad yang sudah dipatrikan.

Dalam tawa dan air mata sepanjang duabelas tahun, FLP adalah bab tersendiri dalam buku perjalanan hidup saya. Akan terus mencatat jejak langkah saya bersama teman-teman di ruang dakwah ini.
“Oh… anak FLP.”
“Emang iya. Kenapa, masalah buat elo?”
Tidaklah, saya tidak akan jawab seperti itu. Saya hanya akan tersenyum dan bilang dalam hati, “let’s we go, FLP!”
***
Share:

1 komentar:

  1. Masya Allah ternyata pernah ketemu dong saat bedah buku di Ponpres RU hehe

    BalasHapus

RUMAH BACA AL-GHAZI

RUMAH BACA AL-GHAZI