Senin, 10 Oktober 2016

Hari ini main apa?

Itu pertanyaan Mush'ab setelah prosesi pagi, minum susu, mandi dan sarapan. Saya yang ditanya balik nanya, "Kakak mau main apa?" Dan ia pun siap dengan deretan jawab.
Saya biasa membagi waktu main anak-anak dalam tiga sesi. Sesi pertama pagi hingga dzuhur. Jenis permainannya dominan fisik seperti lari, main mobilan, berkebun, main tanah dengan peralatannya.
Sesi kedua selepas tidur siang hingga sore. Jenis permainan indoor kayak lego, pasang bongkar, atau kreatifitas membuat sesuatu dari barang bekas.
Dan selanjutnya sesi ketiga di malam hari. Tetap bermain tapi lebih slow. Mereka sangat senang dibacakan buku dengan intonasi bercerita. Terlebih ayah atau bundanya mau menceritakan ulang dengan lebih atraktif
. Pilihan lain adalah bermain gulat-gulatan atau gua-gua di tempat tidur.
Masalahnya...
Tiga sesi bermain selalu diwarnai derai air mata. Mush'ab dan Raihan punya bakat alami mempertahankan sesuatu yang menjadi miliknya. Belum ada istilah main bersama. Karena tidak mau mainanya dipinjam, mereka akan saling pukul dan berakhir dengan tangis menggelegar.
Saya? Kadang istigfar, kadang senyum, kadang ikut teriak, kadang tarik nafas panjang, kadang malah nyanyi, la la la....
Survey membuktikan, semua anak kecil memang begitu. Jadi nyantai ajalah. Mertua cerita kalau suami saya yang punya dua adik laki-laki, parah juga kalau berantem.
"Budak ni kecik mak itulah jugo. Pecak nak bebunuhan. Kadang ku tolokke bae," kata beliau. Selama tidak membahayakan jiwa, perseteruan saat bermain kakak vs adik artinya masih aman.
Nah, jadi main apa sekarang?
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

RUMAH BACA AL-GHAZI

RUMAH BACA AL-GHAZI