Selasa, 11 Oktober 2016

Demam Imama

Si ayah hobi membuat video singkat dengan handphone. Salah satunya video beliau menyanyikan lagu Bidadari Syurganya Uje. Ternyata Ayah jadi idola. Berulang-ulang membuka video tersebut walau tidak hafal liriknya. “Kakak suka video Ayah,” ujar fans berat Ayah.
Ramadhan kemarin, hp ayah sempat hilang dua hari. Untuk mengantisipasi penyalahgunaan, maka semua data dihapus dengan menghubungi operator seluler. Termasuk video kesukaan Mush’ab.
Minggu siang menjelang sore saya dan anak-anak membersihkan rumput di samping rumah. Suara pengajian ibu-ibu di masjid mengudara sesekali jelas, sesekali samar.
“Nah Nda, orang di masjid baca do’a Robbana hablana min azwajina.” Wajah Mush’ab sempurna menghadap saya.  
 Saya pun meletakkan cengkuit. Mendengar dengan lebih awas suara di masjid. “Iya benar.”
“Kayak di lagu video ayah,” tambahnya. Obrolan itu berlalu begitu saja.
***
Hari-harinya ya bermain. Dunianya ya bermain. Bahagianya ya bermain.
Permainan lego sedang nge-hit bagi duo bocil. Maklum baru diberi hadiah oleh teman bundanya. Mush’ab membentuk lego menjadi robot. Raihan berkreasi membentuk mobil. Itu artinya kesempatan bundanya beres-beres rumah.
“Robbana hablana min azwajina wa zurriyatina.” Mungkin ucapan itu sudah berulang kali namun saya baru menyadarinya. Saya perhatikan sumber suara. Mush’ab serius bermain dengan mulut yang terus melafalkan do’a itu.
“Robbana hablana min azwajina wa zurriyatina...”  Ia belum hafal seluruhnya,  jadi terhenti.
Sayapun melanjutkan, “qurrota a’yun waj alna lilmuttaqiena imama... imama” tentu dengan gaya menyanyi Bidadari Syurga.
Tanpa komando Mush’ab kerab mengulang do’a tersebut. Sambil bermain, saat menemani merumput, sesi ‘belajar’, mau tidur, ketika ikut jalan-jalan, bahkan manakala terdengar orang membaca do’a tersebut.

***

Maaf ya di rumah kami tidak ada TV. Jadi kalau hari ini dunia gempa pilkada Jakarta, tidak ada pengaruh apapun terhadap anak-anak. Mereka tetap bermain dan Mush’ab tetap melafalkan do’a favoritnya.
“Robbana hablana min azwajina wa zurriyatina qurrota a’yun waj alna lilmuttaqiena imama... imama.” Kini  ia telah sempurna mengucapkannya.
“Imama itu apa, Nda?”
“Pemimpin.”
“Pemimpin itu apa?”
“Orang yang memimpin.”
“Memimpin apa?”
“Memimpin apa saja.”
Ups, saya sadar kalau sedikit keliru menjelaskan pertanyaan bocah 2,5 tahun itu.
Mungkin karena senang sudah hafal hingga selesai, Mush’ab berulang-ulang mengucpkannya. Saya sampai merasa bosan mendengarnya. Namun, dalam hati saya turut terus mengamini do’a-do’a tersebut.
“Ah... semoga Allah berkenan mengijabah do’a anak ini. Semoga Allah karuniakan kami pemimpin yang  beriman kepada-Mu.”
Nanti saat bocil itu bertanya lagi, “pemimpin itu apa?”
Saya akan bersiap menjawab, “Pemimpin adalah orang yang begitu mencintai Tuhannya...,”

***
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

RUMAH BACA AL-GHAZI

RUMAH BACA AL-GHAZI