Kamis, 07 November 2019

Membacakan Buku: Aku Suka Siang dan Malam

Buku ini bercerita tentang apa saja tanda siang dan malam. Begitu juga dengan aktivitas baik di waktu siang maupun malam.


Klik link di bawah ini untuk mendownload video:
ssyoutu.be/p31XlHRrSyo
Share:

Selasa, 05 November 2019

Membacakan Buku: Cita-citaku Pelukis

Salah satu aktivitas orang tua kepada anak adalah membawakan cerita. Membawakan cerita bisa dengan mendongeng atau membacakan buku. Membawakan cerita dapat memicu anak untuk berimajinasi serta memperkaya kosakata. Cerita yang dibawakan oleh Bunda Umi Laila Sari kali dengan membacakan buku. Judulnya: Cita-citaku Pelukis.
Tonton sampai selesai ya Ayah, Bunda dan Anak-anak.

Klik ssyoutube.com/watch?v=eZv9pNLn_h0&t=117s untuk mendownload video

Share:

Kamis, 10 Oktober 2019

Hijrah Asmara; Perihal Cinta Unik dengan Konflik Apik

Dari mata turun ke hati. Istilah ini berlaku untuk novel Hijrah Asmara. Sejak melihat covernya saya sudah langsung terkesima. Konsep cover terbilang sederhana dan pilihan warna yang juga simpel. Tapi bagi saya, ngena banget!

cover yang enak dipandang

Sesuai dengan judulnya, novel berkisah tentang perjalanan cinta seorang mahasiswi bernama Ara. Fatih, lelaki yang sejak pertama Ospek memikat hati Ara, nyatanya bersedia menjadi pacarnya. Ara senang sekaligus galau sebab orang tuanya terlebih papa melarangnya berpacaran.

Tema cinta, mungkin ini terkesan biasa. Tapi, yang menjadikan novel ini berbeda dengan kisah cinta lainnya adalah konflik yang telah disiapkan oleh penulis.

Di bagian kejadian perselingkuhan yang dialami Ara adalah contoh konflik tak terduga. Meski disayangkan setelahnya konflik cendung datar.

Terdapat beberapa tokoh dengan porsi yang pas dan saling melengkapi.  Sosok Ara yang lembut. Fatih yang macho. Denis yang ceria. Arman yang berwibawa. Arum yang lugu. Serta papa dan mama.

Saya sendiri kagum pada tokoh Denis. Selain juga pada kedua orang tua Ara yang selalu membimbing anaknya agar tidak salah langkah. Sepertinya novel ini tidak hanya baik dibaca oleh remaja. Para orang tua juga direkomendasikan membacanya. Sebab mendidik anak butuh ilmu. Dan sosok papa dan mama Ara cukup bisa dijadikan contoh.

Ada fokus lain yang menurut saya menjadi keistimewaan novel setebal 213 halaman ini yakni menampilkan tokoh Arman dan Arum. Dua bersaudara ini mendirikan rumah baca serta melakukan berbagai aksi guna mengajak orang terbiasa membaca.
sejarah perpustakaan Canai

Mereka adalah pejuang literasi. Ide tentang menumbuhkan minat baca adalah ide cemerlang. Tidak banyak novel bertema cinta yang juga menceritakan hal yang berhubungan dengan literasi.


Latar tempat juga tergolong tidak biasa. Bahkan penulis membahas objek wisata Gili Lawang dan Gili Sulat. Ini bisa jadi bagian dari promosi wisata. Keindahan alam tersampaikan dengan baik.

Ada juga kuliner khas Lombok yakni ayam taliwang dan plecing kangkung. Sebenarya saya menunggu resep dan tata cara masak ayam taliwang ala Arman tapi tidak dimuat. Menulis resep makanan di novel keren juga lho!

Adapun dari sisi tehnis, saya merasa cukup terganggu dengan pilihan font huruf pada judul tiap bab. Sulit terbaca karena font berbentuk huruf miring bersambung jadi terkadang saya lewatkan saja. Tidak membaca judul babnya.

Tentang ending, penulis cukup baik hati dengan memberikan kejutan manis. Saya katakan manis sebab di prolog kesannya akan berakhir hampa. Ternyata pembaca terkecoh.

serius baca novel

Menulis satu novel oleh dua orang mungkin memiliki tantangan tersendiri. Saya pikir tidak mudah. Maka saat novel ini hadir, saya mengapresiasinya. Pesan moral yang disampaikan lewat tokoh bisa menginspirasi pembaca.

Buat yang belum membaca Hijrah Asmara, segera beli dan baca bukunya. Insyaalah ada hikmah menyertai kisahnya. Selamat membaca!

***

Idetitas Buku
Judul: Hijrah Asmara
Penulis: Madun Anwar dan Sukma El-Qatrunnada
Penerbit: Loka Media
Tahun: 2019
Tebal: 213 hlm.
ISBN: 978-602-5509-18-6
Share:

Jumat, 27 September 2019

Berawal dari Cinta Lahirlah Rumah Baca

Masuk dalam jajaran siswi biasa-biasa saja membuat saya tidak poluler di sekolah. Memang tidak pernah tinggal kelas tapi bukan juga bintang kelas. Tak pernah bermasalah dengan guru BP namun tak juga dibanggakan kepala sekolah. Semuanya biasa saja.

Literasi keluarga
Dari ibtidaiyah hingga tsanawiyah, nyaris semua berjalan dengan normal. Jika pun ada kenangan istimewa itu hanyalah sebatas kenangan pribadi.

Ya, saya sangat istimewa saat berada di perpustakaan. Diantara deretan rak buku, tumpukan buku berserakan yang belum dirapikan petugas atau buku-buku lama tak tersentuh berdebu.

Di tempat inilah saya merasa sangat bahagia. Dapat melihat banyak tempat di dunia. Bisa melanglang ke segenap planet dan tata surya. Dapat bertemu dan berkenalan dengan banyak orang di mana pun berada.

Buku adalah cinta pertama saya. Tak seharipun terlewat tanpa bercengrama dengannya.

Saat itu, saya belum mengenal istilah literasi. Tak juga tahu indeks minat baca. Satu hal yang saya gemari adalah membaca, membaca, dan membaca.

Nyatanya kesempatan baik datang saat saya aliyah. Menjadi yang biasa-biasa saja jadi istimewa. Tanpa diduga, saya terpilih mewakili sekolah menjadi wartawan pelajar di sebuah koran di kota domisili, Palembang. Berkah gemar membaca.

Tiga atau empat hari dalam seminggu, sepulang sekolah saya akan ke kantor koran tersebut. Menulis tugas atau sekadar nongkrong melihat kerja wartawan. Sesekali diperbolehkan ikut meliput.

Pengalaman selama dua tahun tersebut menjadi moment berharga dalam hidup saya. Nama dan karya saya dimuat di media massa.

Lebih penting lagi, itu menjadi titik awal saya memilih passion, cinta, profesi, hobi dan masa depan di dunia literasi.

Jodoh pencinta buku

Dalam sebuah buku yang saya baca dijelaskan bahwa jodoh adalah cermin diri kita. Sejalan. Klik. Sesuai dengan salah satu pertimbangan mencari jodoh dalam Islam yakni sekufu.

Ketika saya meyakini hal tersebut, terlafadzlah keinginan agar kekasih saya kelak adalah juga pencinta buku.

Maha sayang Tuhan, doa dalam batin sekalipun dikabulkan. Lelaki itu datang dengan berjilid-jilid buku koleksinya.

Rekreasi literasi

Anak-anak lahir dan tumbuh bersama buku

Ada taman bunga yang bermekaran di hati saat menyusun dan menyatukan buku koleksi saya dan suami di sebuah lemari sederhana. Melihat buku-buku tersusun selalu menciptakan kebahagian dalam jiwa.

Ketika anak pertama lahir, kami sepakat memberinya hadiah buku berjudul sesuai namanya. Mush'ab. Nama sahabat Rasulullah yang menjadi duta dakwah di kota Yastrib (Madinah).

Hadiah yang sama selalu kami berikan pada anak-anak lainnya. Di beberapa hari kelahiran mereka. Saya ingin mereka merasakan cinta pertama yang ayah dan bundanya rasakan. Mencintai buku. Mencintai membaca. Mencintai pengetahuan.

Jika ada destinasi wisata yang selalu mengagumkan itu adalah perpustakaan. Jika ada hiburan yang selalu siap sedia itu adalah membaca. Jika ada mainan paling menyenangkan itu adalah buku.

Beberapa hal yang kami terapkan di rumah dalam budaya literasi.

1. Memfasilitasi bacaan

Beragam jenis buku dan tampilannya diupayakan tersedia. Anak-anak balita sekalipun senang 'membaca' ensiklopedi. Ia akan menunjuk gambar yang disukai sembari menyebutkan namanya.

2. Meski tidak ada jadwal khusus, kunjungan ke perpus cukup sering

Bersyukur di provinsi kami sudah ada fasilitas ruang baca anak di perpustakaan daerah. Selain koleksi buku anak, komputer edukatif ada juga pojok bermain. Ini paket komplit untuk menemani anak-anak bermain sekaligus belajar.

3. Membuka ruang diskusi usai beraktifitas bersama anak

Kemampuan berbicara berhubungan erat dengan kemampuan berpikir. Anak akan belajar banyak hal ketika orang tua mau berdiskusi. Berani berpendapat, menyusun kalimat, berpikir ktitis dan sebagainya. Di samping suasana diskusi menjadikan kedekatan hati anak dan orang tua.

4. Menggunakan gadget untuk membaca e-book

Setidaknya ada tiga aplikasi perpustakaan digital yang ada di gadget saya.

Sesekali si sulung yang kelas 1 SD dan sudah lancar membaca saya serahkan gadget untuk membaca sendiri ebook anak. Jumlah halamannya tidak banyak dan penuh gambar. Lain waktu saya yang membacakan ebook.

Selain memberi variasi tampilan buku, dengan membaca ebook di perpustakaan digital, saya melatih anak untuk bijak menggunakan gadget.

5. Memberi apresiasi atas prestasi berupa buku yang bisa mereka pilih sendiri di toko buku

Prestasi tidak hanya angka yang tertulis di raport atau piala yang diterima. Prestasi dapat berupa kebiasaan baik yang sudah dijalankan misalnya Raihan (4 tahun) sudah terbiasa mengembalikan handuk ke rak seusai mandi.

Ruang baca anak
6. Ada waktu membaca bersama

Kebetulan di rumah kami tidak ada televisi. Waktu santai malam seusai menyelesaikan PR sekolah digunakan untuk bermain, membaca atau ngobrol bersama keluarga.

7. Kami terbiasa saling menceritakan bacaan

Saya akan menceritakan secara ringkas buku yang sedang saya baca. Misalnya ketika saya membaca buku buku 4 bulan di Amerika.

"Ini tentang pahlawan Indonesia, namanya Hamka. Suatu ketika ia diundang ke Amerika. Lalu ia bercerita apa saja yang dialami dan dilihatnya selama di sana," ujar saya.

Sebaliknya Mush'ab (6 tahun) akan dengan antusias bercerita isi komik yang ia baca. "Nda, paman Gober itu punya gudang uang. Ia sudah punya apa saja," begitu kira-kira cerita si sulung yang tidak berhenti bercerita sebelum saya bilang, cukup dulu ya.

Rumah kita rumah baca

Menjadi baik tidak bisa sendiri. Menjadi baik harus bersama. Bagi saya itu prinsip yang juga berlaku ketika menanamkan cinta membaca bagi anak-anak.

Anak-anak memiliki teman maka teman mereka harus pula mencintai aktifitas membaca. Mendekatkan anak-anak di sekitar rumah kami dengan buku dan betapa nikmatnya membaca.

Opini saya di Tribun Sumsel

Bismillah, sejak tiga tahun lalu ruang depan rumah kami berfungsi sebagai perpustakaan anak. Inilah rumah baca Al-Ghazi.

Anak-anak di sekitar bebas membaca di sini. Buku anak, komik, majalah, buku pelajaran, buku agama, ensiklopedi, buku cerita, novel anak adalah bagian koleksi yang bisa dinikmati bersama.

Bukan tanpa kendala saat mengelola rumah baca. Awalnya tentu saja menjadikan anak-anak tersebut mau menyentuh, membuka, melihat-lihat hingga akhirnya membaca buku.

Lalu perihal pemeliharaan buku. Meski setiap saat diingatkan untuk berhati-hati ketika membaca, selalu ada buku yang terlipat, robek, hilang sampulnya, dicoret dan sebagainya. Belum ditambah rak buku yang berantakan dan buku bertebaran dimana-mana.

Menyerah?
Oh tidak bisa.

Kerepotan dan kelelahan melakukan berbagai upaya agar anak-anak gemar membaca segera sirna saat kini dibanyak kesempatan tanpa diajak mereka telah ramai membaca.

Ada yang sendirian dengan buku di tangan. Ada yang bersama, tiga, empat orang mendiskusikan isi buku. Ada yang duduk di kursi, di ayunan, di lantai, di tempat mereka nyaman bersama buku.

Jika sudah demikian, saya selalu berpikir optimis bahwa generasi mendatang adalah generasi dengan kesadaran literasi yang mumpuni.

****
#SahabatKeluarga
#LiterasiKeluarga
#KeluargaHebat
#KeluargaTerlibat
Share:

Senin, 23 September 2019

Resensi Film Hayya; Membincang Palestina dari Sudut Berbeda

Topik Palestina bukanlah hal baru di ranah perbicaraan warga Indonesia. Dari sekadar komentar sambil lalu. Sampai kajian ilmiah dalam tinjauan sejarah, agama, sosial serta hankamnas.
Bendera Indonesia dan Palestina berdampingan

Konflik kemanusiaan yang tak kunjung usai adalah muara bermacam masalah lainnya. Termasuk masalah korban perang.

Dalam catatan, anak-anak adalah kelompok usia sangat rentan menjadi korban perang. Departemen Penerangan Palestina mengungkapkan, sekitar 2.079 anak-anak Palestina telah tewas akibat kekerasan Israel dalam periode tahun 2000 hingga 2016. (Sumber Sindonews.com)

Sementara Sekretaris Jendral PBB, Antonio Guterres melaporkan bahwa dalam satu tahun di 2018 ada 729 anak Palestina yang terluka dan tewas. (Sumber IntisariOnlie.com)

Selain meninggal, masih ada anak yang terluka, kehilangan keluarga, kekurangan makanan, putus sekolah, trauma dan lainnya.

Poster Film Hayya
Film Hayya; The Power of Love 2 berupaya mengambil bagian dalam menggugah rasa kepedulian atas nasib anak Palestina lewat sosok Hayya. Hayya yang diperankan oleh Amna Hasanah Sahab adalah anak perempuan berusia 5 tahun yang seluruh anggota keluarganya tewas akibat penyerangan militer Israel.

Bagi saya, ide memunculkan tokoh Hayya terbilang cerdas dan sangat strategis. Meski proses keberadaan Hayya di Indonesia terasa kurang pas.

Kekhawatiran sebagian orang bahwa film bertema Palestina akan menimbulkan sentimen agama sama sekali tidak terbukti. Alur kisah sangat bersahaja. Lebih dominan menunjukkan perasaan cinta (baca; obsesi) yang nyatanya juga harus dikoreksi. Artinya adalah konflik utama film justru pada pertentangan batin tokoh utama Rahmat.

Sebagai seorang yang baru hijrah, sangat wajar jika Rahmat memiliki semangat menggebu untuk melakukan sesuatu guna pembuktian diri. Namun, dalam Islam ada konsep ilmu sebelum amal. Maksudnya jangan sampai niat baik justru menjadi keburukan karena ketidaktahuan. 

Maka hal yang juga penting disampaikan oleh film Hayya adalah harus mengetahui prosedur yang benar untuk membantu Palestina. Tujuannya tentu saja, agar energi besar kepedulian terhadap Palestina dapat tersalurkan dengan tepat dan maksimal.

Nonton di hari pertama
Terkait adopsi anak korban perang seperti Hayya, tentu akan lebih lengkap jika dalam film juga dijelaskan apa yang dapat dilakukan oleh masyarakat misalnya warga Indonesia untuk membantu mereka. Cukup hanya dengan danakah? Atau ada hal lainnya. Sehingga sisi edukasinya tentu akan lebih terasa. 

Adegan yang disinyalir oleh pihak sutradara berlokasi syuting di Palestina hanyalah cuplikan layaknya terdapat di breaking news. Dan tampilan gambar tersebut sudah sering terlihat (minimal mirip) di berbagai berita televisi tentang Palestina. Nyaris tidak ada kekerasan perang ditampilkan. Jadi, relatif aman jika ditonton oleh anak-anak.

Perjuangan rakyat Palestina
Sebagai film kemanusiaan, tentu ada bagian yang harus berhasil mengetuk nurani penonton. Buat saya bagian tersebut ada pada tampilan aksi kemanusiaan Palestina di sekitar monas Jakarta dan ustadz Bachtiar Nasir berorasi tentang dukungan Indonesia terhadap Palestina. Scane ini cukup menjadi sikap muslim Indonesia terhadap negeri para nabi tersebut. Harus saya akui, di detik ini saya menitikkan air mata haru.

Para pemain yang terlibat dalam film bergenre drama ini mayoritas adalah pemain yang sama di beberapa film 'dakwah' inisiasi penulis Helvy Tiana Rosa. Ada Hamas Syahid, Meyda Sefira, Fauzi Baadila, Adhin Abdul Hakim, serta Asma Nadia.
Sang Inisiator Film Hayya
Dua pendatang baru yakni Amna Sahab dan Ria Ricis terbilang sukses memerankan karakter masing-masing. Terlebih bagi Amna (7 tahuan) yang meskipun telah beberapa kali tampil di sinetron, namun film Hayya adalah debut perdananya di layar lebar.

Hal lain yang saya acungi jempol dari alur film berdurasi 101 menit karya sutradara Justis Arimba adalah juga memasukkan isu terkini dan menyatakan sikap. Sebagai contoh isu LGBT yang pada curhatan Adit mengatakan bahwa harusnya negara bertanggung jawab mengembalikan keperkasaan mereka (para waria). Atau isu polusi sampah plastik dengan menampilkan 212 Mart memberikan totebag pada pembeli.

Tentang ending, meskipun memang seharusnya demikian sikap  Rahmat. Namun saya berharap ada penjelasan lain Rahmat bisa menerima kenyataan dengan begitu mudah. Bukan sebatas karena kecelakaan lalu semua selesai.

Nonton bersama keluarga
Secara keseluruhan, film yang menurut laporan situs filmindonesia.or.id pada tanggal 23 September telah ditonton 415.317 orang sejak perdana tayang 19 September lalu patut diapresiasi. Inilah film keluarga berkonten positif tentang mencintai, proses memperbaiki diri, nasionalisme serta kepedulian terhadap Palestina. Mengutip pesan Kyai Zainal,  jangan pernah lelah mendoakan dan membantu saudara kita di Palestina.

Akhirnya, sebagai penonton saya merasa sangat menikmati tiap alur cerita. Hiburan yang sarat pesan kebaikan. Adegan horor kemunculan Hayya, audisi babysitter, adu acting Ricis dan Abrar adalah aksesoris manis yang melengkapi emosi penonton.

Selamat untuk semua pihak yang terlibat dalam film Hayya. Selalu mendukung perfilman Indonesia!

Share:

Kamis, 12 September 2019

Yuk Mengenali Karakter Anak

Mengasuh anak itu mudah atau susah?
Itu pertanyaan pembuka saat Diskusi Pengasuhan Anak yang diadakan oleh Qudwah Center pada Minggu (08/09) lalu.
Peserta yang seluruhnya ibu-ibu (walaupun diundang Bapak dan Ibu) mulai riuh. Saling memandang. Saling berbisik.

"Susah," jawab seorang ibu di depan.
"Susahlah," sambung yang lain.
"Susah atau mudah?" tanya saya kembali yang berkesempatan sebagai fasilitator diskusi.
"Susaaaah!" koor bersamaan.

mengenal karakter anak bahkan sejak balita

Di dalam Al-Qur'an, Allah memerintahkan orang tua untuk menjaga anak keturunannya dari api neraka. Artinya, tugas orang tua memastikan anak menjadi sholeh.
Sholeh itu baik dan benar menurut ajaran Islam. Maka, tugas inilah yang berat. Susah.

Tetapi, mengasuh anak juga bisa menjadi mudah jika orang tua memenuhi persyaratannya.

1. Mau memperbaiki diri

Pepatah mengatakan buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Maka, saat menginginkan anak menjadi sholeh, rahasia pertamanya adalah jadikan diri orang tua sholeh.

Ingin anak rajin sholat, orang tua menjadi teladan bersegera sholat saat telah tiba waktunya.

Berharap anak berhijab, ibunya menjadi contoh dalam menutup aurat. Begitu seterusnya.

2. Terus belajar

Belajar bukan hanya pengetahuan akademik. Pengetahuan dan ilmu dalam kehidupan begitu banyak. Bahkan setiap fase kehidupan perlu pembelajaran.

Mau menikah, belajar tentang rumah tangga.
Punya suami-istri, belajar berkomunikasi dengan pasangan.
Punya anak, belajar jadi orang tua.
Punya mantu, belajar jadi mertua.
Punya cucu, belajar jadi nenek dan kakek.

Begitulah. Belajar, belajar dan terus membuka diri untuk terus belajar.

3. Doa kebaikan untuk anak

Ucapan orang tua adalah doa paling mustajab bagi anak-anaknya. Maka jangan lelah mendoakan kebaikan bagi anak.

Seemosi apapun orang tua, berjuanglah untuk tidak mengucapkan perkataan buruk pada anak.

Pada dasarnya, tidak ada anak yang bodoh, nakal, atau stigma negatif lainnya. Sebab anak terlahir membawa fitrah kebaikan. Namun pada perkembangannya, fitrah ini bisa semakin baik, pun sebaliknya, bisa menghilang.

Orang tua adalah orang yang paling bertanggung jawab atas 'hitam atau putih' anak.

Untuk itu, harus ada upaya serius dari orang tua agar anak tetap berada dalam jalur kebaikan. Salah satunya dengan memberi pola pengasuhan yang tepat kepada anak.
beda anak, beda karakter

Setiap anak memiliki karakter yang unik. Tidak sama persis dengan siapapun bahkan dengan saudara kandung.

Orang tua penting memahami karakter setiap anaknya dengan baik. Tujuannya agar dapat memilih pendekatan yang pas untuk si anak.

Misalnya ketika anak ngambek. Ada anak yang maunya dibiarkan dulu. Ada anak yang ingin dipeluk. Tetapi ada juga yang mau ditanya penyebab ngambeknya.

Karakter terbentuk oleh berbagai faktor yakni genetika, pola asuh keluarga serta kondisi lingkungan.

Artinya, meskipun sifat, tabiat, watak seorang anak sudah ada sejak lahir. Tetap ada kemungkinan untuk berubah atau diubah. Minimal sifat tersebut tidak lagi dominan.

Sebagai contoh anak yang terlahir membawa sifat pemalu. Namun orang tuanya selalu memberi ruang kepada anak untuk mengungkapkan keinginannya atau pendapatnya. Orang tua menghargai gagasan anak sehingga anak merasa percaya diri dengan apa yang dimilikinya. Kemudian lingkungannya pun mendukung si anak untuk berani tampil. Maka anak pemalu tadi secara perlahan akan leluasa berbicara di depan publik.

Hal ini berlaku juga sebaliknya. Anak yang sifat dasarnya pemberani namun jika pola asuh orang tua salah bisa menyebabkan anak menjadi rendah diri, pemalu, pemurung dan sebagainya.
memilih ragam kegiatan anak

Memahami karakter anak juga akan membantu orang tua mengarahkan anak dalam memilih kegiatan atau cita-cita.

Pada tahap awal, bagi sebagian anak penasaran mencoba semua kegiatan. Akan tetapi sebagian lain justru hanya mau ikut satu saja kegiatan. Baik kegiatan ekskul maupun kegiatan mandiri bersama teman di sekitar rumah.

Orang tua dapat memantau kegiatan mana yang dilakukan anak secara kontinyu, dengan penuh antusias dan memiliki capaian yang cepat. Jika sudah ada, boleh jadi kegiatan tersebut adalah passion anak.

"Bagaimana ibu-ibu, sudah tau karakter anaknya masing-masing?" tanya saya. "Kalau belum atau masih ragu, ini jadi pr. Orang tua harus menjadi orang yang paling tabiat anak.

Jangan sampai kita taunya anak baik-baik saja di depan orang tua. Ternyata itu hanya manipulasi sikap karena rasa takut. Di luar, anak melampiaskan rasa marah kepada orang tua dengan membuat keonaran dan masalah." pungkas saya.

Masih banyak hal yang menarik dibincang pada siang menjelang sore itu. Namun karena katerbatasan waktu maka usai membahas dua tanggapan dari peserta, acara ditutup.

Insyaallah akan ada pertemuan selanjutnya sebab Diskusi Pengasuhan Anak rutin dilaksanakan setiap 3 bulan sekali bertempat di PAUD Qudwah Desa Sungai Rengit Banyuasin.

Demikian ringkasan materi kali ini. Semoga bermanfaat. 
Share:

Rabu, 28 Agustus 2019

Menumbuhkan Kebiasaan Menulis pada Anak

Kemampuan menulis pada dasarkan merupakan literasi dasar yang harus dimiliki oleh setiap orang. Profesi apapun yang kelak dijalani akan sangat terbantu dengan kemampuan menulis.

Lalu, apa sebenarnya kemampuan menulis?

Secara sederhana, kemampuan menulis bermakna keterampilan seseorang dalam memaparkan ide, gagasan, pemikiran, juga perasaannya dalam sebuah struktur tulisan yang bisa dipahami orang lain (pembaca).


Jadi, ada beberapa unsur kemampuan menulis.

1. Keterampilan

Menulis adalah keterampilan. Semua orang punya potensi yang sama untuk bisa menulis. Semakin sering dilatih, maka semakin baik kemampuan tersebut.

2. Ide, gagasan, pemikiran dan perasaan

Konten tulisan bisa apa saja. Baik yang ada di dalam diri penulis maupun di lingkungan. Untuk tahap awal misalnya, bisa menulis apa yang dirasakan, sedih, senang atau lainnya.

3. Struktur tulisan

Ini yang dinamakan 'ilmu menulis'. Jadi untuk bisa menulis dengan baik, ada seperangkat ilmu kepenulisan yang perlu dipelajari. Sebagian ilmu kepenulisan sebenarnya sudah ada di pelajaran bahasa Indonesia sejak kelas 1 SD.

Contoh sederhana seperti penggunaan huruf kapital, membuka sebuah cerita, penokohan, alur dan seterusnya.

Untuk saat ini sudah banyak pelatihan kepenulisan baik yang gratis maupun berbayar, baik melalui tatap muka langsung maupun lewat aplikasi daring.

4. Dipahami pembaca

Ada beberapa standar sebuah tulisan dikategorikan bagus diantaranya adalah pesan tulisan tersebut dapat dipahami oleh pembaca.

Mungkin kita pernah membaca sebuah tulisan, sampai tulisan tersebut habis, kita malah berujar, "jadi maksudnya apa?" Nah tulisan seperti ini kurang berhasil menyampaikan gagasan tulisan.


Hubungan kemampuan menulis dan berpikir

Seseorang yang memiliki cara berpikir yang baik akan memiliki ide atau gagasan yang hebat. Namun ide tersebut tidak akan diketahui orang lain jika tidak disampaikan.

Ada dua cara penyampaian ide ke publik, dibicarakan (media lisan) dan dituliskan (media kata).

Ide hebat + kemampuan bicara = orator
Ide hebat + kemampuan menulis = penulis
Ide hebat + kemampuan bicara + kemampuan menulis = orang besar

Bisa ditelisik bahwa semua orang besar di dunia meninggalkan gagasan hebat lewat tulisan atau orang lain yang menuliskannya.

Kelebihan lain seseorang yang memiliki keterampilan menulis adalah kemampuan berpikir terstruktur. Maksudnya ia mampu melihat sebuah permasalahan secara keseluruhan. Apa penyebabnya, apa dampaknya, bagaimana solusinya, siapa yang terlibat dan seterusnya.

Berpikir tersruktur berguna di dunia akademis juga di kehidupan sehari-hari ketika mengalami permasalahan.

Menumbuhkan kebiasaan menulis

Ada beberapa tahapan menumbuhkan kebiasaan menulis pada anak.

1. Usia 0 sampai 5 tahun

Mendekatkan anak pada aktifitas membaca dan menulis. Anak dibacakan buku. Diminta mengulang cerita. Ditanya apa yang diiingat dari cerita. Diajak diskusi isi buku. Dilatih menulis satu dua kalimat terkait isi buku.

2. Usia 6 sampai 9 tahun

Melanjutkan aktifitas sebelumnya namun dengan tahap lebih tinggi. Mengulang isi buku atau membuat cerita versi anak berdasarkan kisah dari buku. Menulis dua tiga paragraf terkait isi buku. Berani menempel hasil tulisannya di ruang umum misal di ruang keluarga atau di ruang kelas.
Jika memang ada,  bisa dimasukkan ke klub menulis di sekolah atau lembaga khusus.

3. Usia 10 tahun sampai 13 tahun

Menulis satu tulisan utuh misalnya cerita, pengalaman, kartun atau puisi. Berani mempublikasikan ke media lebih luas seperti media sosial atau media cetak. Terbiasa menulis kejadian yang dialami.

Perlu pendampingan orang tua terkait publikasi ke media. Diajarkan juga tentang makna sebuah proses tidak hanya hasil.

4. Usia 14  tahun ke atas

Sudah bisa dibuat target menulis. Menyelesaikan satu buku. Mendiskusikan isi buku. Memilih buku yang bisa dicontoh untuk tulisan. Dan jika serius menekuni profesi menulis dapat dibuat akun khusus seperti blog atau aplikasi menulis agar karya anak terdokumentasi dengan baik.

Demikian artikel duniabunda kali ini. Jika ingin berkonsultasi lebih lanjut, bisa hubungi nomor 0811788129. Semoga bermanfaat 👌


Share:

RUMAH BACA AL-GHAZI

RUMAH BACA AL-GHAZI