Minggu, 16 Februari 2020

Anak-anak Butuh Cinta, Sudahkah Terpenuhi?

Konsep acara yang diusung Qudwah Center adalah diskusi pengasuhan anak. Maka, pemateri hanya memberi pengantar terhadap tema yang dibahas. Sementara, para peserta diharapkan juga memberi pendapat serta berbagi pengalaman dalam menjalani proses pengasuhan.

Anak-anak penuh cinta

Setiap keluarga memiliki kondisi ril yang berbeda. Nilai hidup, tradisi, latar belakang sosial, dan lainnya, adalah hal yang juga mempengaruhi pola pengasuhan orang tua terhadap anak.

Pola di satu keluarga belum tentu sama dan cocok diterapkan pada keluarga lain. Maka yang ada dalam konsep pengasuhan anak adalah prinsip umum. Selebihnya, orang tua berkreatifitas menemukan pola yang pas untuk masing-masing anak.

Tema diskusi pada awal Februari 2020 lalu adalah peran orang tua dalam memenuhi kebutuhan cinta anak. Sebagaimana fungsi keluarga yang salah satunya adalah tempat pemenuhan kasih sayang, selain fungsi pendidikan, agama, reproduksi, sosial, perlindungan, serta pembinaan lingkungan.

Sebagian peserta diskusi

Pemenuhan kebutuhan cinta diawali dengan konsep pola asuh positif. Artinya bagaimana proses interaksi orang tua dan anak didasari kasih sayang, membangun pola hubungan yang hangat, serta mampu menstimulus tumbuh kembang anak.

"Kondisi mayoritas anak-anak kita hari ini mengkhawatirkan. Mereka lelah. Bosan. Sendirian. Bingung. Itulah yang menyebabkan mereka menjadi anak-anak yang stres," ungkap Ibu Ratna Juaimi, S.Pd selaku pembicara.

"Maka kitalah, orang tuanya harus bisa merangkul mereka. Kembali memeluk anak-anak agar mereka merasa dihargai, didengar dan diakui keberadaannya," tambahnya.

Fenomena pergaulan bebas, kenakalan remaja, korban narkoba adalah sedikit diantara dampak buruk tidakterpenuhinya kebutuhan cinta anak di rumah oleh keluarga, utamanya orang tua.

Benar bahwa, orang tua wajib memenuhi kebutuhan fisik anak seperti makan, pakaian, serta tempat tinggal. Namun kebutuhan inmateri seperti kasih sayang, perhatian, perlindungan juga mesti dipenuhi.

Siapa yang bertanggung jawab terhadap kebutuhan cinta anak?
Ayah dan ibu, kedua orang tua harus saling bekerjasama dalam memberikan cinta kepada anak. Wujud cinta dimulai sejak anak masih berupa janin dalam kandungan.

Setiap fase anak, memiliki bentuk kebutuhan cinta yang juga berbeda. Bahkan anak laki-laki dan perempuan juga (biasanya) membutuhkan wujud cinta yang tidak sama.

Lokasi acara

Menurut teori, ada lima wujud cinta yang biasa diinginkan oleh seseorang, yakni;

1. Melalui kebersamaan yakni meluangkan waktu khusus untuk melakukan aktifitas bersama.

2. Berwujud kata atau kalimat seperti mengungkapan secara langsung orang tua begitu mencintai anaknya.

3. Berupa hadiah atas setiap prestasi kebaikan yang dilakukan anak. Hadiah tidak hanya berwujud barang tetapi semua bentuk apresiasi.

4. Kepercayaan yang diberikan orang tua untuk mengambil keputusan sendiri. Ini berlaku untuk anak yang sudah cukup dewasa. Mungkin sekitar usia 10 keatas ketika anak sudah bisa mempertimbangkan resiko sebuah pilihan.

5. Pelayanan. Sebagaimana ungkapan sahabat Rasulullah, Ali bin Abi Thalib ra. bahwa perlakukan anak di usia 0 sampai 7 tahun sebagaimana raja. Yakni semua kebutuhan anak dilayani oleh orang tua. Namun seiring usia, perlahan pelayanan semakin berkurang.

Setiap anak bisa jadi memiliki kecendrungan wujud cinta yang berbeda. Tugas orang tua memahami wujud cinta tersebut dan memenuhinya.

Anak yang terpenuhi kebutuhan cintanya, akan memiliki kepercayaan dan konsep diri yang baik. Karena ia percaya ada orang tua yang selalu mendampinginya.

Oh iya, peserta yang lebih dari 70 orang ternyata antusias menyampaikan pendapat, komentar hingga curhat. Mulai dari yang belum nikah, pengantin baru, punya anak, sudah punya mantu bahkan bercucu, semua yang hadir bersepakat untuk terus belajar menjadi orang tua.

Terima kasih untuk semua partisipasi para orang tua.


Share:

Jumat, 31 Januari 2020

Resensi Novel Sang Pangeran dan Janissary Terakhir



Rasa-rasanya tidak ada siswa di seluruh penjuru Indonesia yang tidak mengenal nama Pangeran Diponegoro. Sayangnya, selama ini dalam pelajaran sejarah, kita dikenalkan pada sosok tersebut sebatas sebagai salah satu pahlawan nasional. Ia bersama pasukannya berperang melawan penjajahan Belanda. Selesai.

Tapi akan menjadi berbeda ketika Sultan Abdul Hamid Diponegoro dinarasikan dalam sebuah novel. Ada sentuhan emosi. Ada persepsi berbagai pihak. Ada sesuatu yang luput dari data yang ikut terungkap. Demikian yang ditawarkan novel karya Salim A Fillah, seorang  da'i yang juga penulis.

"Hari ini, tugas besar kalian adalah menggenapkan syarat-syarat agar layak ditunjuk Allah memimpin peradaban Islam. Hidupkanlah jihad. Tegakkan syari'at. Satukanlah ummat." (hlm. 18)

Seperti kutipan risalah tersebut, keinginan mulia Pangeran Haryo Diponegoro harus tersampaikan ke generasi selanjutnya dengan sebuah semangat yang sama.

Maka, bagi saya itulah pesan utama novel setebal 631 halaman ini. Bahwa sejatinya muslim Nusantara dinantikan oleh dunia Islam menjadi pemimpin peradaban umat. Maka seyogyanyalah memantaskan diri untuk mengembangkan amanah tersebut. Pun memberi kontribusi terbaik untuk dakwah rahmatan lil alamin.

Lewat novel ini, boleh jadi  penulis juga ingin memperlihatkan sosok Diponegoro lebih pribadi. Pembaca seolah ikut berbaris di belakang sang pangeran saat berkecamuk perang Sabil antara tahun 1825 sampai 1830.

Di lain kesempatan turut duduk di lantai penjara Fort Rotterdam. Betapa rasa sedih, kecewa, bahagia, marah, juga dialami Karaeng Jawa ini.

Putra sulung Sultan Hamengkubuwono III ini bukanlah superman. Ada cukup banyak teman yang siap mempertaruhkan jiwa berjihad membersamainya. Termasuk mereka, generasi terakhir tentara Turki Usmani (Jenissary).

Membaca novel terbitan Pro-U Media 2019 lalu, menyisakan banyak kesadaran dan pembelajaran kehidupan. Haru, syahdu dan menderu. Sangat direkomendasikan untuk siapapun yang ingin belajar dari tokoh besar yang pernah ada di bumi Nusantara.

Dan kabar baiknya, Sang Pangeran adalah novel pertama dari tetralogi para pahlawan Nusantara. Semoga novel ini, meskipun bergenre fiksi, dapat turut meluruskan beberapa artikel sejarah yang terkadang tidak proporsional.
Kalian sudah baca?

***
Biodata novel
Pengarang: Salim A Fillah
Penerbit: Pro-U Media
Cetakan: 1 tahun 2019
Tebal: 631 halaman

#semuabacasangpangeran #sangpangerandanjanissaryterakhir
Share:

Senin, 13 Januari 2020

Menjadi Kaya dengan Berkarya

Ahad kemarin saya diminta mengisi agenda diskusi santai di Forum Lingkar Pena (FLP) cabang Palembang. Acara diskusi tersebut dilaksanakan bersamaan dengan program  Reading On The Street (RoTS). Bertempat di taman TVRI kampus Palembang dimulai pukul 08.30 sampai 11.00 wib.

RoTs agenda rutin 2 mingguan

Saat ketua FLP Palembang menghubungi saya dan mengajukan tema diskusi, saya sempat nanya sendiri, "beneran mau saya menyampaikan tema ini?"
Saya kan belum jadi horang kayah, begitu kira-kira kekhawatiran saya tidak kompeten. Tapi, baiklah, akan saya coba.


# Menjadi Kaya dengan Karya

Hal yang paling mendasar memahami makna kalimat di atas adalah konsep kaya itu sendiri.

Bagi saya, kaya itu memiliki banyak dimensi. Setidaknya ada makna kaya materi berupa uang, benda, hingga aset. Kaya pengalaman yang hanya akan dimiliki oleh orang yang konsisten berkarya. Serta kaya kebaikan.

Kemajuan tekhnologi di bidang komunikasi juga membawa dampak di dunia literasi. Sebagai contoh adalah lahir dan berkembangnya banyak media massa baik cetak terlebih daring.  Juga semakin mudah akses media sosial.

Media massa dan media sosial membuka peluang lebih banyak untuk memuat dan mempublikasikan karya. Maka inilah kesempatan bagi penulis bahkan pemula untuk menunjukkan kemampuannya.

Dengan beragam kesempatan tersebut, imbalan materi kepada penulis juga semakin bervariasi. Beberapa profesi terkait dunia literasi juga mulai dikenal seperti blogger, content writer, atau Bookstagramer.

Diskusi santai tapi serius

Artinya, jika ingin bekerja secara profesional dengan basis literasi sudah sangat memungkinkan mendapat kekayaan materi. Akan tetapi, jika berkarya dijadikan pilihan sekadar kegemaran juga tidak masalah.

Bagaimana dengan kaya pengalaman?
Tentu saja seseorang yang konsisten dalam menulis akan menemui banyak pengalaman. Berbagai hal yang ditemui akan membuat semakin memperkaya jiwa.

Karya yang baik tidak lahir dari jalan pintas. Melainkan melalui proses yang terus menerus. Menulis lagi, lagi, dan lagi.

Selain proses kreatif menulis, pengalaman menyampaikan karya tersebut ke para pembacanya juga memiliki banyak pembelajaran. Ada penulis yang memulai karya melalui majalah dinding sekolah. Ada yang di status media sosial. Ada yang berjuang lewat kompetisi menulis dan sebagainya.

Menulis hakikatnya mengabadikan ilmu dan pemahaman yang dimiliki. Maka penulis dituntut untuk terus mengisi dirinya dengan ilmu. Semakin berilmu maka semakin bijaklah perilaku seseorang.  Inilah pengalaman berkarya yang menjadikanmu kaya.

Selanjutnya, berkarya menjadikan seseorang kaya kebaikan. Ini hanya berlaku jika apa yang ditulis memiliki niat menyampaikan kebenaran dan dengan cara penyampaian yang benar pula.

Istilah di FLP adalah menulis untuk mencerahkan. Agar karya berupa tulisan dapat menjadi tabungan pahala kebaikan. Berkarya sama artinya dengan berdakwah. Andai saja ada satu orang mendapat kebaikan dari tulisan kita maka akan ada pahala yang terus mengalir.

Saya selalu berharap, karya-karya saya kelak menjadi amal yang membawa ke surga.

Berorientasi menjadi kaya dari karya, saya pikir silakan saja. Namun yang perlu diingat, jangan semata kaya materi, kaya pengalaman dan kebaikan tentu jauh lebih menjanjikan kebahagiaan hidup.

Saya sudah jadi orang kaya, lho! Kamu?


#DiskusiFLP
#ForumLingkarPena
#MenulisuntukMencerahkan
Share:

Kamis, 07 November 2019

Membacakan Buku: Aku Suka Siang dan Malam

Buku ini bercerita tentang apa saja tanda siang dan malam. Begitu juga dengan aktivitas baik di waktu siang maupun malam.


Klik link di bawah ini untuk mendownload video:
ssyoutu.be/p31XlHRrSyo
Share:

Selasa, 05 November 2019

Membacakan Buku: Cita-citaku Pelukis

Salah satu aktivitas orang tua kepada anak adalah membawakan cerita. Membawakan cerita bisa dengan mendongeng atau membacakan buku. Membawakan cerita dapat memicu anak untuk berimajinasi serta memperkaya kosakata. Cerita yang dibawakan oleh Bunda Umi Laila Sari kali dengan membacakan buku. Judulnya: Cita-citaku Pelukis.
Tonton sampai selesai ya Ayah, Bunda dan Anak-anak.

Klik ssyoutube.com/watch?v=eZv9pNLn_h0&t=117s untuk mendownload video

Share:

Kamis, 10 Oktober 2019

Hijrah Asmara; Perihal Cinta Unik dengan Konflik Apik

Dari mata turun ke hati. Istilah ini berlaku untuk novel Hijrah Asmara. Sejak melihat covernya saya sudah langsung terkesima. Konsep cover terbilang sederhana dan pilihan warna yang juga simpel. Tapi bagi saya, ngena banget!

cover yang enak dipandang

Sesuai dengan judulnya, novel berkisah tentang perjalanan cinta seorang mahasiswi bernama Ara. Fatih, lelaki yang sejak pertama Ospek memikat hati Ara, nyatanya bersedia menjadi pacarnya. Ara senang sekaligus galau sebab orang tuanya terlebih papa melarangnya berpacaran.

Tema cinta, mungkin ini terkesan biasa. Tapi, yang menjadikan novel ini berbeda dengan kisah cinta lainnya adalah konflik yang telah disiapkan oleh penulis.

Di bagian kejadian perselingkuhan yang dialami Ara adalah contoh konflik tak terduga. Meski disayangkan setelahnya konflik cendung datar.

Terdapat beberapa tokoh dengan porsi yang pas dan saling melengkapi.  Sosok Ara yang lembut. Fatih yang macho. Denis yang ceria. Arman yang berwibawa. Arum yang lugu. Serta papa dan mama.

Saya sendiri kagum pada tokoh Denis. Selain juga pada kedua orang tua Ara yang selalu membimbing anaknya agar tidak salah langkah. Sepertinya novel ini tidak hanya baik dibaca oleh remaja. Para orang tua juga direkomendasikan membacanya. Sebab mendidik anak butuh ilmu. Dan sosok papa dan mama Ara cukup bisa dijadikan contoh.

Ada fokus lain yang menurut saya menjadi keistimewaan novel setebal 213 halaman ini yakni menampilkan tokoh Arman dan Arum. Dua bersaudara ini mendirikan rumah baca serta melakukan berbagai aksi guna mengajak orang terbiasa membaca.
sejarah perpustakaan Canai

Mereka adalah pejuang literasi. Ide tentang menumbuhkan minat baca adalah ide cemerlang. Tidak banyak novel bertema cinta yang juga menceritakan hal yang berhubungan dengan literasi.


Latar tempat juga tergolong tidak biasa. Bahkan penulis membahas objek wisata Gili Lawang dan Gili Sulat. Ini bisa jadi bagian dari promosi wisata. Keindahan alam tersampaikan dengan baik.

Ada juga kuliner khas Lombok yakni ayam taliwang dan plecing kangkung. Sebenarya saya menunggu resep dan tata cara masak ayam taliwang ala Arman tapi tidak dimuat. Menulis resep makanan di novel keren juga lho!

Adapun dari sisi tehnis, saya merasa cukup terganggu dengan pilihan font huruf pada judul tiap bab. Sulit terbaca karena font berbentuk huruf miring bersambung jadi terkadang saya lewatkan saja. Tidak membaca judul babnya.

Tentang ending, penulis cukup baik hati dengan memberikan kejutan manis. Saya katakan manis sebab di prolog kesannya akan berakhir hampa. Ternyata pembaca terkecoh.

serius baca novel

Menulis satu novel oleh dua orang mungkin memiliki tantangan tersendiri. Saya pikir tidak mudah. Maka saat novel ini hadir, saya mengapresiasinya. Pesan moral yang disampaikan lewat tokoh bisa menginspirasi pembaca.

Buat yang belum membaca Hijrah Asmara, segera beli dan baca bukunya. Insyaalah ada hikmah menyertai kisahnya. Selamat membaca!

***

Idetitas Buku
Judul: Hijrah Asmara
Penulis: Madun Anwar dan Sukma El-Qatrunnada
Penerbit: Loka Media
Tahun: 2019
Tebal: 213 hlm.
ISBN: 978-602-5509-18-6
Share:

Jumat, 27 September 2019

Berawal dari Cinta Lahirlah Rumah Baca

Masuk dalam jajaran siswi biasa-biasa saja membuat saya tidak poluler di sekolah. Memang tidak pernah tinggal kelas tapi bukan juga bintang kelas. Tak pernah bermasalah dengan guru BP namun tak juga dibanggakan kepala sekolah. Semuanya biasa saja.

Literasi keluarga
Dari ibtidaiyah hingga tsanawiyah, nyaris semua berjalan dengan normal. Jika pun ada kenangan istimewa itu hanyalah sebatas kenangan pribadi.

Ya, saya sangat istimewa saat berada di perpustakaan. Diantara deretan rak buku, tumpukan buku berserakan yang belum dirapikan petugas atau buku-buku lama tak tersentuh berdebu.

Di tempat inilah saya merasa sangat bahagia. Dapat melihat banyak tempat di dunia. Bisa melanglang ke segenap planet dan tata surya. Dapat bertemu dan berkenalan dengan banyak orang di mana pun berada.

Buku adalah cinta pertama saya. Tak seharipun terlewat tanpa bercengrama dengannya.

Saat itu, saya belum mengenal istilah literasi. Tak juga tahu indeks minat baca. Satu hal yang saya gemari adalah membaca, membaca, dan membaca.

Nyatanya kesempatan baik datang saat saya aliyah. Menjadi yang biasa-biasa saja jadi istimewa. Tanpa diduga, saya terpilih mewakili sekolah menjadi wartawan pelajar di sebuah koran di kota domisili, Palembang. Berkah gemar membaca.

Tiga atau empat hari dalam seminggu, sepulang sekolah saya akan ke kantor koran tersebut. Menulis tugas atau sekadar nongkrong melihat kerja wartawan. Sesekali diperbolehkan ikut meliput.

Pengalaman selama dua tahun tersebut menjadi moment berharga dalam hidup saya. Nama dan karya saya dimuat di media massa.

Lebih penting lagi, itu menjadi titik awal saya memilih passion, cinta, profesi, hobi dan masa depan di dunia literasi.

Jodoh pencinta buku

Dalam sebuah buku yang saya baca dijelaskan bahwa jodoh adalah cermin diri kita. Sejalan. Klik. Sesuai dengan salah satu pertimbangan mencari jodoh dalam Islam yakni sekufu.

Ketika saya meyakini hal tersebut, terlafadzlah keinginan agar kekasih saya kelak adalah juga pencinta buku.

Maha sayang Tuhan, doa dalam batin sekalipun dikabulkan. Lelaki itu datang dengan berjilid-jilid buku koleksinya.

Rekreasi literasi

Anak-anak lahir dan tumbuh bersama buku

Ada taman bunga yang bermekaran di hati saat menyusun dan menyatukan buku koleksi saya dan suami di sebuah lemari sederhana. Melihat buku-buku tersusun selalu menciptakan kebahagian dalam jiwa.

Ketika anak pertama lahir, kami sepakat memberinya hadiah buku berjudul sesuai namanya. Mush'ab. Nama sahabat Rasulullah yang menjadi duta dakwah di kota Yastrib (Madinah).

Hadiah yang sama selalu kami berikan pada anak-anak lainnya. Di beberapa hari kelahiran mereka. Saya ingin mereka merasakan cinta pertama yang ayah dan bundanya rasakan. Mencintai buku. Mencintai membaca. Mencintai pengetahuan.

Jika ada destinasi wisata yang selalu mengagumkan itu adalah perpustakaan. Jika ada hiburan yang selalu siap sedia itu adalah membaca. Jika ada mainan paling menyenangkan itu adalah buku.

Beberapa hal yang kami terapkan di rumah dalam budaya literasi.

1. Memfasilitasi bacaan

Beragam jenis buku dan tampilannya diupayakan tersedia. Anak-anak balita sekalipun senang 'membaca' ensiklopedi. Ia akan menunjuk gambar yang disukai sembari menyebutkan namanya.

2. Meski tidak ada jadwal khusus, kunjungan ke perpus cukup sering

Bersyukur di provinsi kami sudah ada fasilitas ruang baca anak di perpustakaan daerah. Selain koleksi buku anak, komputer edukatif ada juga pojok bermain. Ini paket komplit untuk menemani anak-anak bermain sekaligus belajar.

3. Membuka ruang diskusi usai beraktifitas bersama anak

Kemampuan berbicara berhubungan erat dengan kemampuan berpikir. Anak akan belajar banyak hal ketika orang tua mau berdiskusi. Berani berpendapat, menyusun kalimat, berpikir ktitis dan sebagainya. Di samping suasana diskusi menjadikan kedekatan hati anak dan orang tua.

4. Menggunakan gadget untuk membaca e-book

Setidaknya ada tiga aplikasi perpustakaan digital yang ada di gadget saya.

Sesekali si sulung yang kelas 1 SD dan sudah lancar membaca saya serahkan gadget untuk membaca sendiri ebook anak. Jumlah halamannya tidak banyak dan penuh gambar. Lain waktu saya yang membacakan ebook.

Selain memberi variasi tampilan buku, dengan membaca ebook di perpustakaan digital, saya melatih anak untuk bijak menggunakan gadget.

5. Memberi apresiasi atas prestasi berupa buku yang bisa mereka pilih sendiri di toko buku

Prestasi tidak hanya angka yang tertulis di raport atau piala yang diterima. Prestasi dapat berupa kebiasaan baik yang sudah dijalankan misalnya Raihan (4 tahun) sudah terbiasa mengembalikan handuk ke rak seusai mandi.

Ruang baca anak
6. Ada waktu membaca bersama

Kebetulan di rumah kami tidak ada televisi. Waktu santai malam seusai menyelesaikan PR sekolah digunakan untuk bermain, membaca atau ngobrol bersama keluarga.

7. Kami terbiasa saling menceritakan bacaan

Saya akan menceritakan secara ringkas buku yang sedang saya baca. Misalnya ketika saya membaca buku buku 4 bulan di Amerika.

"Ini tentang pahlawan Indonesia, namanya Hamka. Suatu ketika ia diundang ke Amerika. Lalu ia bercerita apa saja yang dialami dan dilihatnya selama di sana," ujar saya.

Sebaliknya Mush'ab (6 tahun) akan dengan antusias bercerita isi komik yang ia baca. "Nda, paman Gober itu punya gudang uang. Ia sudah punya apa saja," begitu kira-kira cerita si sulung yang tidak berhenti bercerita sebelum saya bilang, cukup dulu ya.

Rumah kita rumah baca

Menjadi baik tidak bisa sendiri. Menjadi baik harus bersama. Bagi saya itu prinsip yang juga berlaku ketika menanamkan cinta membaca bagi anak-anak.

Anak-anak memiliki teman maka teman mereka harus pula mencintai aktifitas membaca. Mendekatkan anak-anak di sekitar rumah kami dengan buku dan betapa nikmatnya membaca.

Opini saya di Tribun Sumsel

Bismillah, sejak tiga tahun lalu ruang depan rumah kami berfungsi sebagai perpustakaan anak. Inilah rumah baca Al-Ghazi.

Anak-anak di sekitar bebas membaca di sini. Buku anak, komik, majalah, buku pelajaran, buku agama, ensiklopedi, buku cerita, novel anak adalah bagian koleksi yang bisa dinikmati bersama.

Bukan tanpa kendala saat mengelola rumah baca. Awalnya tentu saja menjadikan anak-anak tersebut mau menyentuh, membuka, melihat-lihat hingga akhirnya membaca buku.

Lalu perihal pemeliharaan buku. Meski setiap saat diingatkan untuk berhati-hati ketika membaca, selalu ada buku yang terlipat, robek, hilang sampulnya, dicoret dan sebagainya. Belum ditambah rak buku yang berantakan dan buku bertebaran dimana-mana.

Menyerah?
Oh tidak bisa.

Kerepotan dan kelelahan melakukan berbagai upaya agar anak-anak gemar membaca segera sirna saat kini dibanyak kesempatan tanpa diajak mereka telah ramai membaca.

Ada yang sendirian dengan buku di tangan. Ada yang bersama, tiga, empat orang mendiskusikan isi buku. Ada yang duduk di kursi, di ayunan, di lantai, di tempat mereka nyaman bersama buku.

Jika sudah demikian, saya selalu berpikir optimis bahwa generasi mendatang adalah generasi dengan kesadaran literasi yang mumpuni.

****
#SahabatKeluarga
#LiterasiKeluarga
#KeluargaHebat
#KeluargaTerlibat
Share:

RUMAH BACA AL-GHAZI

RUMAH BACA AL-GHAZI