Jumat, 23 Agustus 2019

Tips Sate Maranggi Empuk dan Lezat

Sudah pernah mencoba sate maranggi?

Sate maranggi merupakan jenis sate khas Purwakarta dengan bahan dasar daging sapi. Berbeda dengan sate Padang atau sate Madura yang banyak dijual di pinggir jalan. Sate maranggi tidak banyak yang menjualnya. Padahal rasanya kaya akan rempah Indonesia.

Berikut resep membuat sate maranggi yang sudah diuji coba di dapur dunia bunda.

Bahan

Daging sapi segar 500 gr, potong dadu dengan ukuran dua ruas jari. Cuci bersih.

Daun pepaya tatau empat lembar. Cuci dan remas-remas. Daun pepaya digunakan untuk membalur daging. Diamkan selama sekitar 30 menit.

Cara ini merupakan tips agar daging cepat masak saat dipanggang dan terasa empuk. Jadi, meski daging dipotong dengan ukuran lebih besar tidak perlu khawatir terasa keras atau memasaknya lama.

Bumbu

1. Bawang merah 5 siung
2. Bawang putih 2 siung
3. Ketumbar 1 sendok teh
4. Lengkuas 1 ruas
5. Jahe 1 ruas
6. Kecap manis secujupnya
7. Garam 1/5 sendok teh
8. Gula 1 sendok teh
9. Asam jawa 1 ruas jempol

Pelengkap sambal

1. Cabe rawit 7 buah
2.  Bawang merah 2 buah
3. Bawang putih 1 buah
4. Tomat 1 buah
5. Gula dan garam secukupnya
sate direndam bumbu 

Cara memasak

1. Setelah dibalur dengan daun pepaya, daging dibersihkan kembali. Tusuk sate, 4 potong pertusuk

2. Haluskan semua bumbu. Asam jawa diremat dan diambil airnya. Rendam sate dalam bumbu yang diberi sedikit air sekitar 20 menit

3. Panggang sate hingga masak

4. Siapkan sambalnya berupa bumbu pelengkap. Tumis cabe rawit, bawang merah dan bawang putih. Setelah layu, haluskan di cobek dan tambahkan gula dan garam. Tomat diiris tipis disajikan bersama sambal.

5. Sate maranggi siap disantap bersama sambal dan nasi hangat.

Mudah bukan? Dengan bumbu yang biasa tersedia di dapur. Selamat mencoba!

Share:

Jumat, 19 Juli 2019

Iqro Myuniverse; Saat Ayat Kauliyah dan Kauniyah Terintegrasi

Jika ada film yang dibuat sekuel, mau tidak mau penonton akan membandingkan keduanya. Pun yang saya alami ketika menikmati Iqro; Myuniverse, tayang serentak pada 11 Juli 2019. Sekitar dua tahun lalu, Januari 2017, Iqro; Petualangan Meraih Bintang sebagai pendahulunya dirilis.

Beberapa pemain di Iqro 2 tetap sama, seperti Aqilla (Aisha Nurra Datau), Opa Wibowo (Cok Simbara) serta Fauzi (Raihan Khan).
Selain itu, ada cukup banyak aktor papan atas yang mendukung seperti  Maudy Koesnaedi, Astrie Ivo, Meriam Bellina, Mike Lucock, Mario Irwinsyah, Ben Kasyafani, Elliz Christin, serta Adhitya Putri.
Adegan Aqilla dan ibu Tsurayya

Ide besar film Iqro 1 dan 2, menurut saya tetap sama yakni integrasi agama dan sains. Namun, saya menilai ide tersebut lebih maksimal digarap pada film pertama. Di Iqro; Myuniverse cukup banyak adegan dan tokoh yang kurang mendukung kisah.

Bagi yang tidak menonton Iqro 1, akan sedikit bingung dengan beberapa adegan. Semisal kemunculan kak Raudha dan suaminya yang langsung membahas tentang kedatangan Fauzi. Siapa kak Raudha? Siapa Fauzi? Apa hubungannya dengan Aqilla.

Atau Bos bang Codet (ayah Fauzi) yang punya bisnis terlarang dan sama sekali tidak ada hubungan dengan cerita utama. Kecuali adegan Aqilla lupa menutup pintu kamar karena ingin membantu ayah Fauzi.

Kehadiran Muzzammil, seorang hafidz yang alumni ITB sebagai salah satu pemain tamu sangat disayangkan belum terekplorasi secara maksimal. Mungkin akan lebih mantap jika Muzammil beradu akting dengan Aqilla dengan adegan Muzammil memberi semacam 'pengarahan' tentang ayat kauniyah dan kauliyah.

Meski ditulis pada poster bahwa film berdurasi 110 menit ini diperuntukkan bagi semua umur. Sepertinya akan lebih pas ditonton siswa SMP dan SMA.  Sebab, salah satu pesan dalam film produksi Yayasan Pembina Masjid Salman ITB bersama Salman Film Academy didukung Bumi Prasidi Bi-Epsi dan Mitra Andalas Visual ini adalah semangat berprestasi dan berani berkompetisi.

Satu lagi yang bagi saya cukup menganggu yakni latar waktu pada film ini yakni saat bulan Ramadhan dan Idul Fitri. Sementara penayangannya tidak di bulan puasa. Ketidaksesuaian ini sangat mungkin karena mengikuti jadwal tayang dari pihak bioskop. Namun akan menjadi kelemahan karena kesan Ramadan hanya untuk menunjukkan keIslamian film.

Tetapi, saya angkat jempol dengan ending yang ditawarkan. Tidak terpikirkan dan sarat hikmah. Bahwa hidup tak harus menang-kalah. Ada proses yang lebih penting dari sekadar hasil akhir. Karakter yang patut ditanamkan sejak dini agar anak-anak menghargai sebuah pencapaian sesederhana sekalipun.

Untuk pemain, saya tetap menyukai Aisha yang memerankan karakter Aqilla. Sosok remaja yang memiliki  rasa ingin tahu kuat dan terobsesi menjadi astronot. Untuk anak seusia Aqilla, semangat tersebut memang seharusnya dimiliki. Peran orang tua serta orang dewasa di sekitarnya mengarahkan agar obsesi sang anak tetap menjadi energi positif dalam meraih cita-cita.

Disutradai oleh Iqbal Alfajri, Iqro; Myuniverse didedikasikan untuk astronot perempuam pertama Indonesia yaitu Prof Pratiwi Pujilestari Sudarmono. Pada Oktober 1985, ia terpilih untuk ambil bagian dalam misi Wahana Antariksa NASA STS-61-H sebagai Spesialis Muatan. Ibu Pratiwi juga secara khusus tampil dalam satu scane di film. Keren kan?!

Keistimewaan film ini adalah mengungkap fakta tentang sampah luar angkasa yang bagi banyak orang tidak menjadi perhatian penting.  Dari laporan LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional) setidaknya sudah beberapa kali sampah luar angkasa jatuh di Indonesia. Pada Juli 2017, sampah luar angkasa jatuh  di Agam Sumbar atau pada September 2016 di Sumenep, Jatim.

Sampah luar angkasa adalah objek di orbit di sekitar bumi yang diciptakan manusia, yang tidak lagi berguna. Terdiri dari satelit yang tidak berfungsi lagi hingga fragmentasi ledakan, debu, atau partikel lainnya. (sumber wikipedia).

Tidak banyak produser yang berani mengangkat tema ini. Salah satu alasannya tentu saja karena (mungkin) tidak menjual dibanding film dengan tema percintaan atau misteri. Belum lagi ketika di jadwal tayang yang sama ada film lainnya yang mempunyai kans besar dinanti penonton.

Apresiasi pada film Iqro; Myuniverse karena sudah berupaya maksimal memberi tontonan menginspirasi bagi anak-anak Indonesia. Juga membuktilan diri bahwa film bergenre keluarga sekaligus religius tetap memiliki penikmat tersendiri.

Masih menanti film-film Indonesia yang turut membangun karakter anak bangsa menuju bangsa bermartabat.


#DukungFilmBerkualitas #FilmBaik #FilmInspirasi #ResensiFilm #ResensiFilmIqroMyUniverse
Share:

Senin, 01 Juli 2019

Tips Berhemat di Tahun Ajaran Baru

Bagi keluarga yang memiliki anak usia sekolah, tahun ajaran baru sering kali menjadi saat ketika pengeluaran keluarga meningkat.

Terlebih ketika ada anak yang akan mendaftar ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Namun, beberapa tips di bawah ini bisa mengontol pengeluaran di saat tahun ajaran baru.

1. Sesuaikan pos pengeluaran lain dengan pos dana pendidikan

Misalnya di tahun pendaftaran anak ke sekolah baru, pos pengeluaran untuk jalan-jalan bisa dikurangi. Atau pos pengeluaran untuk membeli perabot baru ditunda hingga tahun depan.

2. Jangan memilih sekolah karena gengsi

Lembaga pendidikan yang kian menjamur mengharuskan orangtua dan anak selektif memilih sekolah. Selain mempertimbangkan konsep, kualitas, fasilitas sekolah, biaya juga perlu diperhatikan.

Diskusikan dengan anak agar keputusan memilih sekolah menjadi keputusan bersama.
toko penjual seragam sekolah

3. Tahun ajaran baru tidak harus semua baru

Beragam kebutuhan sekolah seperti seragam, tas, sepatu, buku dan alat tulis tahun lalu jika memang masih bisa digunakan, mengapa tidak.

Pun sebaliknya, meski bukan tahun ajaran baru, kebutuhan yang sudah tidak bisa dipakai harus segera diganti.

Membeli kebutuhan sekolah bersamaan pada saat tahun ajaran baru biasanya juga akan ada kenaikan harga atau harus antri.

4. Tidak membeli kebutuhan sekolah berlebihan

Ada baiknya bertanya dengan kakak tingkat tahun sebelumnya tentang kebutuhan tambahan seperti peralatam praktik atau ekstrakulikuler.

Selain menghindari pembelian barang yang tidak dibutuhkan, tentu akan lebih efektif mengatur pengeluaran.

5. Cermat memenuhi kebutuhan buku bacaan

Membeli buku bacaan termasuk pengeluaran yang cukup besar di list kebutuhan sekolah. Maka yang perlu diingat adalah pilihlah buku berkualitas.

Meski dapat meminjam di perpustakaan sekolah, usahakan anak tetap memiliki buku referensi utama di tiap mata pelajaran.

Guna menghargai penulisnya, jangan memfotocopy buku. Kalaupun tidak sanggup membeli buku baru, orang tua atau anak dapat membeli di buku bekas atau membeli milik kakak tingkat.

6. Biasakan anak menabung untuk kebutuhan sekolahnya

Tanggung jawab orang tua menyekolahkan anak namun dengan membiasakan anak menabung akan melatihnya bertanggung jawabnya.

Biasanya, anak akan lebih menjaga barang yang dibeli dari uang mereka sendiri. Selain perasaan bahagia karena bisa membeli dengan uang tabungan.

7. Hindari berhutang

Jika kebutuhan dana tidak mendesak, upayakan tidak berhutang untuk keperluan sekolah. Khawatir hutang hanya akan menjadi beban pikiran. Terlebih misalnya sang anak tahu bahwa biaya sekolahnya didapat dari berhutang.

Bagaimana Ayah-Bunda?
Silakan mencoba tips di atas. Semoga dengan pengelolaan dana pendidikan dengan lebih bijak, tahun ajaran baru bukan lagi beban tahunan yang menghantui.

Selamat menikmati liburan sekolah anak 😊
Share:

Jumat, 14 Juni 2019

Yok Evaluasi Puasa Ananda!

Ibadah puasa termasuk ibadah yang unik. Dikerjakan hanya setahun sekali. Selama satu bulan dan ditutup dengan kemeriahan Idulfitri.

Puasa termasuk ibadah fisik yang butuh ketahanan badan selain pengetahuan agama. Jadi, tidak bisa meminta anak berpuasa hanya dengan menjelaskan dalil Al Qur'an. Anak harus dilatih dan dibiasakan berpuasa.
anak-anak tetap bermain ceria meski berpuasa

Nah berikut beberapa hal yang harus dievaluasi ketika anak sudah mulai latihan berpuasa.

1. Usia memulai berpuasa

Pengenalan puasa dapat dimulai ketika anak sudah dapat berkomunikasi dengan orang tua yakni di usia 3 atau 4 tahun.

Pada fase ini, anak mulai memahami apa yang dijelaskan orang tua. Ketika menjelang bulan ramadan, pembahasan seputar puasa bisa diselipkan pada obroaln santai di rumah.

"Beberapa hari lagi kita masuk di bulan ramadan. Selama bulan ramadan, umat Islam harus berpuasa. Puasa itu tidak makan dan minum." Atau kalimat lainnya yang mudah dimengerti anak.

Ketika melaksanakan puasa, orang tua juga dapat menunjukkan secara langsung."Nah Mama sudah tidak boleh makan dan minum lagi sejak pagi tadi. Mama berpuasa."

Jadi tak hanya melalui perkataan, anak juga mulai memahami puasa melalui aktifitas orang tuanya.

Selanjutnya di usia 5 atau 6 tahun, pengenalan puasa sudah lebih meningkat. Anak dapat diajak mengikuti beberapa rangkaian ibadah puasa. Seperti sahur atau berbuka.

Jika anak menginginkan, ia dapat mulai berpuasa dengan jarak waktu tertentu. Misal hingga pukul 10.00 pagi.

Penjelasan tentang 'keharusan berpuasa' juga sudah mulai diberikan. Fondasi awalnya adalah puasa merupakan perintah Allah. Kemudian diikuti dengan manfaat puasa.

Fase usia 7 hingga 9 tahun masuk masa training yakni melatih anak untuk tahan berpuasa seharian. Mungkin dimulai dari setengah hari lalu ditambah waktunya hingga mencapai batas magrib.

Memberi penghargaan kepada anak juga cukup membantu menjaga semangat anak berpuasa. Meski harus diantisipasi agar niat berpuasa tidak menjadi matrealistis.

Setelah beberapa fase tersebut, pada usia 10 tahun, sebagaimana ibadah sholat, anak dapat melaksanakan puasa dengan baik. Terbiasa dan dengan kesadaran.

Jadi, ananda ada di fase yang mana puasa tahun ini?
wajah lesu Raihan saat berpuasa

2. Kondisikan lingkungan

Meski masih anak-anak, tidak bijak jika orang tua berbohong jika sedang tidak berpuasa. Terutama ibu yang memang ada masa haid sehingga tidak bida berpuasa.

Penjelasan tentang halangan berpuasa bagi perempuan ternasuk bagian dari pendidikan seks yang harus diketahui anak. Cara penyampaiannya disesuaikan dengan kondisi anak.

Termasuk juga konsekunsi dari tidak berpuasa yakni mengqadha atau membayar fidyah sesuai aturan syariah.

Setelah keluarga, pengkondisian lingkungan seperti keluarga besar, teman bermain atau tetangga juga perlu diperhatikan

Untuk anak pada fase pengenalan, ia masih mudah terpengaruh ketika melihat orang makan atau minum. Maka keinginan untuk membatalkan puasa semakin kuat. Orang tua perlu strategi bijak menyikapi kondisi tidak kondisif seperti ini.

Nah, apakah orang-orang di sekitar ananda sudah mendukung proses pembiasan berpuasa?
Azzam ikut acara buka bersama

3. Rayakan kegembiraan dengan aturan

Berapapun capaian puasa anak-anak di tahun inj, hargai usaha mereka. Katanya bahwa mereka berhak ikut berbahagia di hari raya sebab telah melaksanakan perintah berpuasa.

Kebahagian Idulfitri diwujudkan dalam moment takbiran. Selebihnya hanya sekadar tradisi sehingga tidak boleh berlebihan.

Penting menyampaikan pada anak bahwa pernak-pernik lebaran seperti baju baru, kue, berbagai jenis makanan, mudik dan lainnya bukan merupakan kewajiban. Sehingga boleh dilakukan jika memang kondisi memungkinkan. Namun Idulfitri tetap kebahagiaan tanpa semua hal tersebut.

Seberapa ananda berbahagia sesungguhnya saat Idulfitri?

Point evaluasi ini dapat diduskusikan bersama orang tua dan anak. Tujuannya agar ada kesamaan pemahaman serta dapat memperbaiki puasa di tahun berikutnya.

Tak lupa, kerjasama Ayah dan Bunda sangat menentukan kesuksesan peningkatan kualitas dan kuantitas puasa ananda. Untuk itu, jadilah contoh bagi mereka. 
Share:

Selasa, 11 Juni 2019

Resep Pindang Ikan Gabus Nikmat dan Segar

Pindang merupakan kuliner khas daerah Sumatera Selatan. Banyaknya hasil tangkapan ikan menjadikan makanan berbahan dasar ikan cukup beragam di daerah ini. Rasanya ada yang kurang jika berkunjung ke Sumsel tanpa mencicipi pindang.

Ada banyak macam pindang. Pindang Palembang, pindang Meranjat, pindang Pegagan, pindang Musi Rawas adalah diantara jenis pindang. Jenis tersebut merujuk pada nama daerah asal pindang.

Meski beragam, pindang-pindang tersebut memiliki kesamaan yakni citarasa perpaduan asam, manis, asin dan pedas.

Berikut resep pindang ikan gabus.

Bahan
1 kg ikan gabus segar, bersihkan dan potong selebar 4 jari

Bumbu
Bawang merah
Bawang putih
Cabe merah
Cabe rawit
Jahe
Lengkuas
Kunyit
Serai
Garam dan gula
Tomat
Daun bawang
Kemangi

Cara memasak
1. Haluskan bawang merah, bawang putih, jahe, cabe merah, kunyit
2. Tumis bumbu halus tersebut hingga harum
3. Geprek lengkuas dan serai lalu masukan dalam tumisan bumbu
4. Masukkan ikan dan air secukupnya
5. Beri garam dan gula
6. Masak hingga matang lalu koreksi rasa
7. Sebelum diangkat tambahkan potongan tomat, irisan daun bawang, cabe rawit serta kemangi
8. Sajikan pindang selagi hangat

Jika ingin rasa yang lebih pedas, dapat ditambahkan cabe rawit pada bumbu halusnya.

Selamat mencoba!



Share:

Sabtu, 25 Mei 2019

Beauty and the Beast; Tak Hanya Cantik, Tapi Juga Mandiri

Pernah mendengar kisah Beauty and The Beast?
Kisah ini sama melegendanya dengan Cinderlela, Rapunzel atau juga Peterpan. Kisah cinta dengan romantikanya yang banyak diadaptasi ke berbagai pertunjukan opera, layar lebar, serial televisi, animasi serta lagu.

Meski memiliki banyak versi, versi karya Gabrielle Suzanne Barbot atau lebih dikenal Madame de Villeneuve yang terbit pertama kali pada tahun 1740 adalah paling populer dan lengkap. Dengan judul asli La Belle et la Bete, berkisah tentang seorang gadis bernama Belle, si jelita dan moster bernama Beast.


Kisah di bagi atas dua bagian. Bagian satu, The Beauty. Bermula dari perubahan nasib yang dialami keluarga Sang saudagar membuat kesedihan tak terkira terjadi pada saudari-saudari Belle. Belle dengan berbagai upaya mengembalikan kecerian di keluarganya.

Saat pada satu kesempatan Sang saudagar melakukan perjalanan ke kota, ia mendapat banyak pesanan dari anak-anaknya. Termasuk Belle yang hanya meminta dibawakan bunga mawar.  Sebab rasa sayang pada Belle, sang Saudagar tidak berpikir ulang saat melihat barisan mawar di taman istana tak berpenghuni dengan langsung memetiknya.

Kemarahan Beast sebab tindakan sang Saudagar harus ditebus dengan merelakan salah satu putrinya tinggal di istana. Inilah awal pertemuan Belle dengan Beast.

Bagian dua, The Beast. Sudut pandang bercerita berganti pada sang moster. Sebagian besar kisah berupa penjelasan masa lalu Belle, Beast, dan kehidupan para peri yang melindungi mereka. Tak hanya pangeran yang dikutuk menjadi Beast namun juga Belle sebelumnya pun telah dikutuk menjadi istri monster.

Sebagai kisah romance, saya merasa kisah ini unik dengan konflik yang rumit, tertata rapi di sepanjang bab. Selalu ada kejutan. Jauh dari kesan, cerita cinta biasa. Tone bercerita termasuk cepat hingga tidak membiarkan pembaca bosan menunggu kelanjutan nasib tokoh.

Seperti pada keterangan kisah di akhir buku bahwa meski hanya cerita fiksi, ada banyak pesan yang ingin disampaikan penulis. Berbeda dengan kisah cinta dengan tokoh perempuan lainnya, karakter Belle adalah perempuan mandiri, teguh pendirian dan rasional. Ia tidak ikut larut bersedih saat kehidupan keluarganya mendadak miskin. Ia menentukan nasibnya sendiri untuk mau tinggal di istana atau menerima tawaran menikah dengan Beast.
Artinya bahwa perempuan tidak hanya dinilai dari sisi fisik tetapi juga keinginan dan pendapatnya.

Selain itu, kisah Beuty and the Beast menjadi refresentasi penolakan adat yang berkembang di masa dan tempat lahirnya novel. Perempuan tidak boleh menerima perjodohan atas dirinya. Dan setelah menikah maka suaminya menjadi penguasa atas nasib perempuan. Gambaran nasib perempuan yang selalu dituntut oleh kaum feminis.

Hal lain yang juga menguatkan persfektif bahwa perempuan bisa setara dengan laki-laki dalam hal pengetahuan adalah adanya adegan Belle memiliki kegemaran membaca buku, piawai memainkan berbagai alat musik serta memiliki keterampilan life skill. Saya pikir, novel ini layak diapresiasi sekaligus menjadi pembelajaran bagi para remaja putri. Kecantikan fisik bukan satu-satunya yang perlu dibanggakan oleh seorang perempuan.

Kalimat "mereka hidup bahagia selamanya" juga berlaku di kisah Belle. Tetapi saya jamin, kisah ini tidak membosankan. Selamat membaca!


***

Identitas Buku
Judul: Beauty and the Beast
Penulis: Madame de Villeneue
Penerjemah: Andityas Prabantoro
Penerbit: Qanita
Cetakan: 1/2017

Share:

Senin, 13 Mei 2019

Ternyata Ada Banyak Cara Membenahi Perilaku Anak

Mungkin tidak semua orang berkesempatan secara khusus belajar cara mendidik anak. Namun setelah menikah, orang tua dituntut memiliki keterampilan mengasuh dan mendidik anak.

Agar tidak menjadi orang tua yang salah mendidik, perlu terus belajar, bertanya, membaca dan memperbaiki diri.
Buku 500 Cara Membenahi Perilaku Anak membantu para orang tua untuk memilih respon positif ketika menghadapi bermacam tingkah pola si kecil.

Tiap anak memiliki karakter masing-masing. Perlu pendekatan yang boleh jadi tidak sama antara satu anak dengan anak lainnya. Dan orang tua mesti mengenali karakter anak dengan baik.

Apa sich perilaku anak yang paling sering membuat orang tua emosi?
Suka berantem, minder, penakut, agak mau ikut aturan, atau mudah marah. Kayaknya kalau mau dilist lumayan banyak.

Namun ada satu hal yang perlu dipahami orang tua bahwa perilaku buruk tersebut dapat diperbaiki. Dan terkadang bukan karena anak tersebut 'nakal' melainkan keterbatasan anak dalam mengekspresikan keinginan atau pendapatnya.

Orang tua diharapkan memahami kondisi sebenarnya dari masing-masing perilaku anak. Ada 10 perilaku anak yang dibahas di buku setebal 364 halaman inu yakni pemarah, gemar berkelahi, suka merajuk, susah tenang, tidak ikut aturan, susah tidur, penakut, kurang percaya diri, susah berkonsentrasi, serta anak yang sedang belajar bicara. Dengan masing-masing 50 cara pada tiap perilaku.

Sebagai contoh misalnya bagaimana membenahi perilaku anak yang kurang percaya diri.
Sejatinya, rasa percaya diri bukan bawaan lahir tapi bertumbuh seiring usia. Banyak faktor yang mempengaruhi tingkat kepercayaan diri anak diantaranya kondisi keluarga, pola asuh, serta perspektif lingkungan.

Anak yang bersifat pemalu bukan berarti ia tidak memiliki rasa percaya diri. Ia tetap bisa mengungkapkan pendapatnya atau tampil di hadapan umum.

Untuk itu, beberapa cara menumbuhkan percaya diri anak terkait pemahaman orang tua terhadap anak. Seperti menerima anak apa adanya, tidak perlu membandingkan anak, mendengar pendapat anak, atau orang tua juga bisa salah.

Beberapa bagian berupa aksi bersama yang dilakukan orang tua bersama anak. Contohnya menata kamar. Anak dapat belajar mengambil keputusan dengan meletakkan barang-barang di kamar sesuai keinginannya. Sembari orang tua bertanya tentang keputusan sang anak tersebut.

Cap kaki dan tangan, album foto, serta kenal diri adalah aksi referensi lainnya. Penjelasan masing-masing aksi bisa baca langsung di bukunya ya.

Menurut saya, aksi atau aktifitas bersama orang tua dan anak tersebut tidak hanya fokus membenahi perilaku tertentu. Namun juga bermanfaat untuk mengembangkan berbagai kecerdasan anak. Dengan aksi menggambar ekspresi, anak akan belajar mengenali kondisi perasaan dirinya dan orang lain. Hal ini mengasah sisi kecerdasan emosional anak. Bonusnya adalah, dengan melakukan aktifitas bersama akan tumbuh kedekatan orang tua dan anak. Manfaat sekali ya!

Karena pembahasan buku memang dibuat poin per poin maka membaca bukunya bisa cepat selesai, tapi prakteknya yang butuh waktu lebih lama.

Saran saya, orang tua bisa mencoba memperbaiki salah satu perilaku anak dengan 50 langkah yang direkomendasikan pada buku ini. Jika telah berhasil, bisa melanjutkan perbaikan perilaku lainnya.

Cara-cara yang ada tentu saja hanya akan berhasil jika ada kerjasama ayah dan ibu sebagai tim yang solid. Butuh waktu beradaptasi baik orang tua maupun anak dalam mempraktekkan kebiasaan baru. Tidak perlu terburu-buru. Terpenting mau memulai pembenahan.

Sejak pertama melihat buku ini, saya langsung suka. Sampul buku terkesan 'lembut' dan bersahabat. Tampilan isi buku  nyaman dibaca dengan variasi huruf yang dicetak berwarna. Buku rekomendasi untuk para orang tua anak-anak milenial.

* * *
Identitas Buku
Judul: 500 Cara Membenahi Perilaku Anak
Penulis: Kusumastuti
Penerbit: Bhuana Ilmu Populer
Cetakan: 1 tahun 2019
Share:

RUMAH BACA AL-GHAZI

RUMAH BACA AL-GHAZI